Dwi Anggraeni

Rasa Cinta Terhadap Batik

Saya Dwi Anggraeni dari Lasem, Rembang. Saya adalah salah satu pembatik generasi muda dari Lasem.

Sebagai generasi muda, saya memperhatikan kecenderungan fashion batik yang selalu dilihat dari mahal atau tidaknya batik tersebut. Anak muda sering kali lebih memilih untuk membeli Sneakers dengan harga yang sangat mahal dibandingkan batik yang katakanlah seharga Rp.200.000. Selain itu, mereka pun masih enggan untuk membeli batik karena menurut mereka motif batik dari dulu sampai sekarang tidak berubah sehingga dianggap “kuno”. Hal-hal inilah yang menurut saya menjadi alasan mengapa anak muda atau generasi muda saat ini kurang meminati fashion batik.

Selain itu, minat generasi muda untuk menjadi pembatik di Lasem juga sangatlah kurang. Anak muda yang sudah lulus lebih memilih untuk bekerja di toko atau pabrik sepatu dengan alasan bahwa upah yang didapat mereka ketika bekerja di toko dan juga di pabrik itu lebih besar dibandingkan menjadi pembatik.

Harapan saya untuk kedepannya untuk IPI dan Samadaya agar dapat kembali menghidupkan minat anak muda terhadap batik atau membuat sanggar batik dan budaya di Lasem. Hal ini sangat berguna untuk menanamkan rasa cinta terhadap batik.

Saat ini, saya pelan-pelan mulai untuk mengajak anak-anak untuk mengenal budaya Jawa yang kemudian saya ingin mengajak anak-anak, khususnya di desa saya, untuk mencoba mengenal proses membatik.

 

-Dwi Anggraeni, Pembatik Lasem, Rembang –

Pembatik Nurul

Membatik Itu Mempelajari Bermacam-Macam Corak Dengan Makna dan Filosofi Sendiri

Saya Nurul Maslahah dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Saya adalah salah satu pembatik generasi muda dari Batang. 

Batik indonesia telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Walaupun sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, tampaknya tidak menggerakan hati kalangan muda Indonesia untuk membatik. Minat generasi muda untuk membatik ini sangatlah rendah. Salah satunya dikarenakan harga jual batik yang relatif rendah dan proses pembuatannya memerlukan waktu yang lama.

Di daerah saya, usia pembatik itu rata-rata kisaran 50 tahun keatas. Hal ini dipengaruhi generasi muda yang beranggapan bahwa membatik itu seperti “orang kuno”, hanya untuk orang “tua” dan “jadul”.

Menurut saya, dengan membatik, kita bisa berkolaborasi dan berkreasi sesuai dengan keinginan kita, mengenal beragam motif batik beserta corak-coraknya. Batik yang bermacam-macam itu sangatlah unik. Filosofi dan makna dari batik itu sendiri pun sangatlah menarik bagi saya.

Kesadaran untuk melestarikan menjaga warisan budaya bangsa itu harus dimulai dari generasi muda generasi muda. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh generasi muda? Tidak hanya membeli dan mengoleksi saja, namun generasi muda juga bisa mengenal nama-nama batik dan mempelajari tentang motif batik yang “katanya” itu susah.

Harapan saya, dengan adanya IPI dan Samadaya ini bisa mengadakan pelatihan padat karya kepada generasi muda seperti “festival membatik” bagi generasi muda agar meningkatkan kemauan pemuda atau generasi muda untuk belajar membatik. Pelatihan padat karya ini sangat berguna untuk masyarakat karena misalnya masyarakat dapat diberikan kesempatan membuka usaha dengan memberikan modal sehingga masyarakat tidak dibebankan untuk modal usaha yang cukup besar.

– Nurul Maslahah, Pembatik Kabupaten Batang, Jawa Tengah –

 

 

 

 

Menggagas Kawasan Lontong Pereng Menjadi Ikon Pariwisata Rembang

Menggagas Kawasan Lontong Pereng Menjadi Ikon Pariwisata Rembang

Keberadaan kawasan lontong Pereng terletak di jalan raya Rembang-Pamotan, tepatnya di Desa Jeruk. Untuk menuju ke lokasi Kawasan Lontong Pereng dari Rembang hanya diperlukan waktu tak lebih dari 20 menit. Sekilas kios-kios lontong tersebut masih sangat sederhana, bangunannya masih dari bambu dengan meja dan kursi ala kadarnya, meski demikian tidak mengurangi semangat para penjualnya yang rata-rata adalah gadis-gadis dari dusun Pereng. Untuk urusan rasa, lontong pereng sudah tidak diragukan lagi, dan umumnya masing-masing penjual mempunyai pelanggan fanatik. Hanya dengan uang 8 Ribu Rupiah kita sudah dapat menikmati lontong pereng lengkap berserta daging ayam kampung pilihan serta teh botol.

Saat ini terdapat 11 kios lontong ditambah 1 kios es degan. Harga sewa per kios bervariasi antara 2 sampai 4 Ribu per hari, selain itu mereka juga wajib membayar pajak penghasilan sebesar 6 Ribu per bulan. Untuk keperluan air bersih mereka dibebani 25-30 Ribu per bulan, sedangkan untuk listrik rata-rata 6 Ribu per bulan. Namun untuk air bersih dan listrik tidak semua pedagang ikut berlangganan, disesuaikan kebutuhan masing-masing pedagang. Dengan demikian jika dirata-rata perbulan masing-masing pedagang dibebani sekitar 97 Ribu dengan asumsi mendapatkan segala fasilitas mulai dari sewa tempat, air bersih, listrik, termasuk juga pajak penghasilan. Hasil tersebut jika dikalikan dengan jumlah seluruh pedagang yang ada dikalikan setahun maka tidak kurang dari 13 Juta per tahun. Pertanyaanya adalah kemana uang itu pergi? Melihat besarnya uang tersebut nampaknya Desa Jeruk mempunyai potensi yang cukup besar untuk menggerakan ekonomi desa, jika Kawasan Lontong Pereng dikelola dengan baik.

Dari Dinamika ke Dinamika

Melihat potensi tersebut Juweni, Kepala Desa Jeruk berinisiatif untuk menyampaikannya langsung kepada Bupati Rembang, Moch Salim yang kebetulan saat itu berkenan hadir dalam acara “Dinamika Pembangunan dan Pemerintahan”, bertempat di Balai Desa Jeruk 14 Februari 2009. Juweni semakin lantang mengusulkan penataan Kawasan Lontong Pereng, yang menurutnya sangat bersesuaian dengan Visi Pak Bupati melalui empat pilarnya, yaitu membangkitkan ekonomi rakyat. Selain karena potensinya, menurut Juweni Kawasan Lontong Pereng memang harus segera dibenahi karena berada di pinggir jalan raya yang bisa membahayakan baik para konsumen atau pengendara kendaraan bermotor yang melewati daerah tersebut. Kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat disebabkan karena lalulalang penjual dan pembeli, fasilitas parkir yang kurang memadahi, berada di dekat tanjakan, dan aktifitas olahraga yang berada di lapangan dekat Kawasan Lontong Pereng dan berbatasan langsung dengan jalanraya. Hal Senada juga dikemukakan oleh Camat Pancur Ir. Suryawan kepada Bupati Rembang, Moch Salim pada forum “Dinamika Pembangunan dan Pemerintahan” di Desa Sidowayah, 27 Juni 2009.

Disamping Juweni menyampaikan usulan secara langsung kepada Bupati, beliau selaku Kepala Desa Jeruk beserta segenap perangkat dan masyarakat juga telah memasukkan pembangunan Kawasan Lontong Pereng sebagai usulan program dalam Musrenbangdes. Usulan tersebut terus ditindaklanjuti sampai dengan Musrenbangcam dan Murenbangkab. Berdasarkan hasil musrenbangkab, tertulis dana untuk pembangunan Kawasan Lontong Pereng dibutuhkan sekitar 480 Juta, untuk 24 kios.

Usulan dari Juweni tersebut nampaknya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Tiga bulan semenjak acara “Dinamika Pembangunan dan Pemerintahan” Juweni dipanggil pihak kecamatan, untuk dilakukan penjajakan awal pembangunan Kawasan Lontong Pereng. Namun demikian Juweni menjadi berkecil hati ketika pembangunan Kawasan Lontong Pereng tersebut dananya tidak hanya bersumber dari APBD tapi juga menggandeng investor. Dengan kata lain pembangunan tersebut bersifat dana pinjaman, yang di kemudian hari harus mengembalikan, bukan hibah.

APBD, Pinjaman, PNPM atau dana dari Sponsor

Tawaran dari Disperindakop untuk menggandeng investor dalam pembangunan Kawasan Lontong Pereng, ditanggapi dingin oleh Juweni. Sebenarnya Juweni merasa keberatan kalau harus bertanggungjawab atas dana pinjaman pembangunan yang tidak kecil, dalam kurun waktu pengembalian yang tidak sebentar, semantara jabatan Kepala Desa hanya 6 tahun saja, dan sudah berjalan 2 tahun jadi tinggal 4 tahun saja pengabdiannya. Sementara itu kalau dana pembangunan tersebut berasal dari pinjaman ivestor maka paling tidak masa pengembalian minimal 8 tahun. “ Apakah ini tidak akan menjadi beban bagi Kepala Desa selanjutnya, ya kalau masih saya, kalau sudah orang lain?” Demikian Juweni menegaskan. Sementara itu di kesempatan yang lain Ir. Budi Darmawan, Kepala Bidang Perdagangan, Diseperindagkop UMKM Rembang yang dimintai tolong untuk mengusulkan rancangan kontruksi fisik kios lontong, menambahkan “Berapapun dananya bentuk kiosnya dapat disesuaikan dan dibuat seartistik mungkin. Jadi untuk kiosnya jangan terpaku hanya pada desain yang mewah dari beton, bisa saja dibuat sederhana dengan bahan-bahan dari kayu dan bambu yang bisa jadi per kios dengan ukuran 4×4 tidak sampai 7,5 juta”. Dengan demikian jika memang pihak desa menyanggupi, pinjaman untuk pembanguna kios lontong tidak harus sebesar anggaran hasil Musrenbang, kalau ada 12 kios barati hanya dibutuhkan dana sekitar 90 Juta.

Juweni lebih berharap kalau dana pembangunan tersebut bersumber dari APBD, dan bersifat hibah. Kalaupun memang ada kendala dengan APBD dia akan terus mengusahakan pembangunan Kawasan Lontong Pereng melalui sumber yang lainnya, seperti melalui program PNPM atau mencari donatur. Seperti yang telah dia ketahui sebelumnya bahwa salah satu perusahaan minuman dalam kemasan ternama pernah menawarkan untuk membangun Kawasan Lontong Pereng, meskipun sampai saat ini belum ada kabar perkembangannya.

Terlepas dari alotnya pembangunan fisik Kawasan Lontong Pereng, perlu juga diperhatikan untuk membuat image tentang Kawasan Lontong Pereng tidak hanya sekedar jualan lontong pereng, tetapi sebagai salah satu icon pariwisata Kabupaten Rembang. Paling tidak ketika orang berbicara tentang Rembang juga akan berbicara tentang lontong pereng, dan ketika sampai di Kawasan Lontong Pereng tidak hanya makan lontong saja tapi ada alasan lain yang membuat wisatawan untuk tinggal lebih lama. Misalnya mereka juga dapat mencari cinderamata ataupun oleh-oleh khas Rembang, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan live in, tinggal di rumah-rumah warga sekaligus menikmati dan turut serta dalam kegiatan masyarakat seperti bertani ataupun membatik. Kesempatan untuk tinggal dan beraktifitas layaknya penduduk desa, merupakan suatu pengalaman yang luar biasa yang tidak bisa tergantikan seperti ketika mengunjungi hotel atau restoran yang mewah.

Gambaran tersebut bukanlah suatu omong kosong jika pihak pemerintah dengan serius menata Kawasan Lontong Pereng sebagai salah satu tempat rujukan dan bahkan bisa menjadi salah sati ikon wisata di Kabupaten Rembang. Tidak menutup kemungkinan Jeruk bisa menjadi Desa wisata, yang jumlahnya baru 17 Desa saja di Jawa Tengah (Slamet Haryono).

Sanggar Kreatifitas, Setelah Batik Selanjutnya Apa Lagi?

Sanggar Kreatifitas, Setelah Batik Selanjutnya Apa Lagi?

Pemandangan tidak seperti biasanya akan kita temukan di bengkel kerja KUB (Kelompok Usaha Bersama) Jeruk, jika kita mengunjunginya setiap hari Minggu jam 09.00 WIB. Kalau di hari biasanya kita akan menjumpai ibu-ibu yang sedang membatik, namun kali ini kita dapat menyaksikan anak-anak kecil yang sedang berlatih membatik. Di Desa Jeruk terdapat dua kelompok Sanggar, selain yang di KUB juga ada pula kelompok yang di Dusun Gading, bertempat di rumah Ibu Maryati. Tidak kurang dari 6 anak setiap minggunya, mereka senantiasa aktif untuk mengikuti kegiatan di sanggar batik. Pemandangan serupa juga akan kita temukan di Tuyuhan, Warugunung dan Karaskepoh. Di Desa Tuyuhan dilaksanakan setiap hari Jumat jam 12.30 WIB bertempat di rumah Bapak Suparno, Kepala Desa Tuyuhan. Untuk Warugunung bertempat di rumah Ibu Juniah, dilaksanakan setiap hari Minggu jam 09.00 WIB. Sedangkan untuk Karaskepoh seminggu dilaksanakan dua kali yaitu pada hari Minggu jam 10.00 WIB dan Jumat 12.30 WIB bertempat di rumah Ibu Siti.

Kegiatan sanggar batik tersebut merupakan hasil dari kerjasama antara pihak sekolah, desa dan masyarakat. Keterlibatan sekolah, dalam hal ini adalah Sekolah Dasar setempat mengingat para peserta kegiatan sanggar merupakan siswa usia pendidikan SD. Oleh karena itu pengarahan dan dukungan motivasi kepada peserta sanggar serta kerjsama antara pihak sekolah dan sanggar menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sanggar. “Biar bagaimanapun, kalau Bapak/Ibu guru yang memberikan arahan tentunya para murid akan termotivasi untuk ikut kegiatan di sanggar” demikian penuturan Juniah, salah seorang pengasuh sanggar batik di Warugunung.

Peran masyarakat dan kepedulian masyarakat menjadi modal utama untuk pembangunan. Di tengah gelombang merosotnya moralitas dan mentalitas bangsa ini, keberadaan sanggar batik diharapkan mampu menanamkan spirit untuk melestarikan kebudayaan lokal, mengembangkan etos kerja yang tinggi, membangun rasa kepedulian sosial dan penghargaan terhadap sesama. Setidaknya sepirit itu nampak dari kiprah para pengasuh sanggar yang meski tidak diberi imbalan, mereka dengan penuh perhatian memberikan ilmunya dalam membatik kepada anak-anak peserta sanggar. Maryati, dia mengakui kalau pengabdiannnya dalam mengasuh sanggar batik tidak mengharapkan imbalan apa-apa, dia hanya ingin melihat desanya menjadi lebih maju, “ Kalau bukan kita yang mau mengajarkan batik kepada anak-anak, siapakah yang akan melestarikan batik?” demikian dia menambahkan. Semangat pengapdiannya itu juga menular pada kedua anaknya, Siti Khanifah dan Dwi Anggraeni. Siti Khanifah yang sekarang duduk di kelas 2 SMA sudah mula belajar untuk mengembangkan pola batik, dan bahkan bersama adiknya (Dwi Anggraeni) dan anak-anak sanggar Dusun Gading juga mulai untuk mengolah kertas bekas menjadi kerajinan.

Memang kerajinan yang dibuat baru tahap percobaan, namun dari semua sanggar yang ada nampaknya sanggar Dusun Gading yang paling sigap untuk berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Bahkan belakangan mereka juga sudah mulai belajar tari batik, mereka tidak menghadirkan pelatih tari, mereka yakin bisa belajar sendiri hanya dengan melihat contoh tarian itu di VCD. Hal yang sama dilakukan baik oleh sanggar KUB Jeruk ataupun sanggar Gading, mereka sudah belajar untuk membuat film dokumenter yang alur cerita dan pengambilan gambarnya dilakukan oleh mereka sendiri.

Metamorfosis Sanggar

Belajar dari contoh sanggar Jeruk dan Gading nampaknya terjadi metamormosis yang tadinya hanya sanggar batik, juga sudah mulai masuk ke seni tari, kerajinan tangan dan sinematografi. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa bagi generasi muda, yang dengan tulus melestarikan kebudayaan nusantara namun tetap membuka diri untuk ruang kreatifitas dan inovasi. Bagi mereka menjaga kebudayaan nusantara bukan berarti mereka tidak bisa belajar sesuatu yang baru. Nampaknya mereka sudah ketagihan untuk terus menggali sesuati yang baru dengan modal kreatifitas yang mereka miliki.

Kontribusi pihak desa sangatlah diperlukan untuk menunjang keberhasilan sekaligus kelangsungan sanggar batik. Sesungguhnya sanggar batik ini merupakan purwarupa dari aktivitas kelompok sosial (social group activity), dengan demikian sepatutnyalah ditempakan sebagai potensi dan kekayaan desa bukan menjadi beban desa. Dalam konteks yang lebih luas model social group activity ini dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, mulai dari batik, tari, drama, musik dan pengembangan keahlian serta pengetahuan lainnya. Begitu juga segmentasi umur dan jenis kelamin, bisa dikembangkan ke usia remaja, dewasa dan bahkan juga mereka yang sudah berumah tangga, baik laki-laki atau perempuan. Tentunya jika mengambil segmen usia yang lebih matang kegiatannnya lebih diarahkan untuk kegiatan ekonomi produktif atau penunjang ekonomi produktif.

Ketika desa mulai menangkap akan hal ini, tentunya ada harapan untuk dapat menggerakan generasi muda setempat, baik untuk pelestarian budaya ataupun ekonomi produktif. Anggap saja aktifitas anak-anak sanggar batik yang memanfaatkan limbah kertas untuk bahan kerajinan dapat ditangkap oleh generasi di atasnya yang belum mempunyai pekerjaan, tentunya hal ini dapat menciptakan peluang usaha baru. Kemungkinan besar tingginya angka pengangguran generasi muda disebabkan karena mereka tidak dapat melihat dan mengembangkan usaha baru. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka dapat belajar menangkap peluang usaha baru? Karena belum ada sekolah pengusaha ataupun sekolah kreatifitas. Melalui bentuk-bentuk seperti sanggar batik inilah mulai sejak kecil mereka bersempatan untuk belajar mengembangkan kreatifitas. Ketika mereka sudah terbiasa untuk berpikir dan bertindak kreatif, bisa dibayangkan berapa banyak generasi muda ke depan yang akan mampu menjadi pengusaha dan memajukan desa mereka.

Potensi yang dimiliki oleh desa adalah sumberdaya manusianya, terlepas desa tersebut mempunyai atau tidak sumberdaya alam yang melimpah ataupun potensi wisata. Ketika pada satu sisi terdapat sekelompok generasi muda desa yang mau mengembangkan budaya, dan di sisi lain kelompok yang engembangkan ekonomi produktif. Maka pertemuan kedua kelompok tersebut dapat memberikan efek daya tarik tersendiri sebagai suatu sajian wisata. Sebagai contoh jika kelompok pertama mampu membuat atau memodifikasi seni tari atau kesenian setempat dan di kelompok yang lainnnya menggembangkan usaha kerajinan, maka pertemuan kedua potensi tersebut dapat menjadi magnet wisata desa.

Memang bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah untuk membangun social group activity menjadi productive group activity (aktifitas kelompok produktif), apalagi untuk tahap sekarang masih sangatlah awal sekali, baru merupakan inisiasi melalui sanggar batik. Ke depan sanggar itu sendiri tidak melulu batik dan akan berkembang sesuai dengan dinamika yang terjadi pada masing-masing desa binaan. Pada prinsipnya para peserta sanggar mampu untuk memahami potensi dirinya dan potensi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian kelak diharapkan untuk mampu meningkatkan jejaring sosial, ketrampilan dan yang terutama adalah kreatifitas yang bisa menjadi modal utama untuk menciptakan ekonomi produktif (Slamet Haryono).

SAYA TIDAK TAKUT PERSAINGAN

Diana Budhi Setyaningsih

“ SAYA TIDAK TAKUT PERSAINGAN…”

Ditemui di rumahnya Desa Sepacar Tirto Pekalongan, usai memberikan pelatihan batik cap kepada 4 orang pemuda desa dari Jeruk yang dikirim IPI. Diana ( 32 tahun) panggilan akrab ibu dari dua orang anak ini terlihat sangat energik dan optimis menjawab setiap pertanyaan ketika tim IPI menanyakan perihal aktifitas serta motivasinya dalam memberikan pelatihan batik cap. Baginya yang terpenting bahwa ilmu itu akan lebih bermanfaat jika dibagikan kepada orang lain, terlebih lagi jika sesedikitpun ilmu dan ketrampilan yang dia berikan dapat memberikan kesempatan bagi para pemuda untuk bekerja dan menciptakan usaha sendiri. “ Saya berani ambil resiko untuk mendobrak tradisi yang mengajarkan ketrampilan batik hanya untuk sanak-keluarganya saja. Kalau demikian terus bagaimana budaya batik itu akan terus dilestarikan”, demikian Diana menambahkan.

Diana menyadari betul dengan tindakannya itu dapat menimbulkan kecemasan diantara pengusaha batik cap umumnya, barangkali mereka akan ketakutan jikalau mereka akan mendapatkan semakin banyak pesaing bisnisnya itu. Namun ketika tim IPI menanyakan apakah dia sendiri yang juga pengusaha batik cap merasa takut akan persaingan ini? Dia menjawab dengan tegas “Saya tidak merasa takut akan persaingan dari siapapun karena hal tersebut memicu saya untuk semakin kreatif, malah saya merasa bangga bahwa ilmu yang saya miliki dapat dipelajari untuk banyak orang terlebih lagi untuk pemberdayaan masyarakat”. Hal ini memang patut disadari karena Pekalongan mempunyai banyak sekali pengusaha batik, maka iklim persaingan menjadi sangat ketat. Oleh karena itu mereka harus senantiasa melakukan inovasi baik dalam hal kain, pewarna, malam, teknik pengecapan, teknik pewarnaan, sampai pada barang jadi. Lihat saja inovasi mereka di pasar Setono tidak hanya melulu kain batik hanya untuk pakaian, tapi juga sudah berubah menjadi aneka warna kerajinan mulai dari kain horden, tempat koran, sampai pada sarung bantal. Waow luar biasa, mungkin perlu diusulkan kalau Pekalongan bukan hanya mendapatkan julukan sebagai kota batik tapi juga kota sejuta inovasi.

Sebelum menggeluti usaha batik, Diana bekerja di Museum Batik Pekalongan. Semasa dia bekerja di musem, dia aktif untuk mempromosikan budaya dan pengenalan teknik membatik kepada masyarakat sekitar, khususnya pelajar SD sampai SMA. Begitu semangatnya dia dalam mempromosikan usahanya itu sampai-sampai dia sendiri mendatangi sekolah-sekolah dari Batang sampai Pemalang untuk mengunjungi Museum Batik Pekalongan sekaligus mengikuti pelatihan kilat. “ Sangat disayangkan jika Pekalongan yang katanya kota batik, tapi anak-anak mudanya ketika ditanya masalah batik kok tidak tahu”, demikian kenang Diana ketika masih aktif di museum dengan program paket pelatihan batik untuk pelajar 2006-2008 silam.

Totalitas Melestarikan Batik

Setelah kelahiran anaknya yang kedua Muhammad Daniel Haq tahun 2007 lalu, Diana tidak bisa optimal bekerja di museum. Diana memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya itu kemudian totalitas berkolaborasi dengan suaminya Muhammad Farid (35 tahun) untuk menjalankan usaha batiknya. Sebelumnya dia hanya membantu usaha yang dirintis bersama suaminya sejak 2001. Usaha batiknya itu dirintis keteika dia prihatin melihat alat-alat perbatikan yang masih lengkap, tertumpuk di gudang begitu saja. Alat-alat tersebut adalah milik mertua Diana yang dahulu juga mempunyai usaha batik namun kemudian tutup akibat krisis moneter 1997. Sebenarnya Diana sendiri tidaklah terlalu mengerti seluk beluk batik, karena dia dibesarkan bukan dari keluarga dan lingkungan pembatik. Selain mewarisi peralatan batik milik mertuanya ternyata Diana juga mempelajari ketrampilan dan cara mengelola usaha batik. Pengatahuan tentang perbatikannnya semakin mantab dia berkesempatan mempelajari sejarah dan filosofis batik sembari menjalankan pekerjaan utamanya di museum.

Diana dibesarkan dari keluarga yang bukan pembatik, dan dia sangat bersykur bisa mempunyai pengetahuan batik cap seperti sekarang ini. Dari latar belakang dan pergumulannnya ketika bekerja di museum itulah yang membuat Diana untuk lebih mengusahakan pelestarian budaya batik cap dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada generasi muda. Dia menempatkan batik cap sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakat, bukan hanya sekedar untuk mencapai kepentingan bisnis pribadi semata. Pilihannya untuk terus mengembangkan batik cap bukan tanpa alasan, meskipun secara ekonomis harus bersaing dengan batik print atau sablon. Melalui batik cap memungkinkan terserapnya jumlah tenaga kerja yang cukup banyak, dengan demikian berarti akan memberikan kontribusi enonomis yang cukup tinggi terhadap masyarakat disekitarnya. Selain itu harga dari batik cap relatif lebih terjangkau, tanpa harus menurunkan kualitas dan kandungan artistik di dalamnya. Alasan lainnnya adalah berkenaan dengan pemaknaan terhadap kain batik itu sendiri. Prasyarat mendasar dalam batik yaitu proses pelekatan malam dan dilanjutkan pewarnaan akan terus terpelihara. Dengan demikain kain yang dihasilkan memang benar-benar kain batik, bukan hanya kain print atau sablon yang bermotif seperti kain batik. Batik yang dihasilkan bukan hanya merupakan barang jadi semata, tetapi lebih merupakan proses menuangkan kreatifitas ke dalam selembar kain.

Kecintaanya terhadap budaya batik membuatnya tak ragu-ragu untuk terus melakukan inovasi dan membagi-bagikannya melalui pelatihan-pelatihan. Dia membuka diri kepada siapa saja yang punya niat sungguh-sungguh untuk mengembangkan batik cap, bisa mengikuti program pelatihan yang diselenggarakannnya, terlebih lagi jika untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat. Dia berharap bahwa orang-orang yang dilatihnya kelak juga akan membagikan pengetahuan dan ketrampilannya kepada orang lain. Mereka yang sudah pernah dilatih diharapkan juga dapa membuka lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan taraf hidum masyarakat sekitarnya. Baginya pelestarian budaya batik dan spirit kepedulian sosial itu lebih luhur, bukan sekedar urusan bisnis belaka. (Slamet Haryono).

Ragam Hias Batik Lasem

Motif Nagapuspa

Motif Nagapuspa

Desain motif hasil kreasi KUB Batik ”Srikandi”, Desa Jeruk, Pancur, Rembang, Februari 2008 yang mempersatukan motif liong (naga), burung hong (phoenix) pada budaya Cina dan isen-isen semanggi pada budaya Jawa.

 

 

 

Motif Sidoluhur Sisik Latoh

Motif Sidoluhur Sisik Latoh

Desain motif hasil kreasi KUB Batik ”Srikandi”, Desa Jeruk, Pancur, Rembang, Oktober 2007. Motif ini mencoba memadukan motif sidoluhur dari gaya batik kraton/ pedalaman Jawa (voorstenlanden) dengan isen-isen batik khas Lasem (sisik, latoh, cacingan, seritan, ungker, dan lain-lain)

Setia akan Panggilan Hidup

Sigit Witiaksono

Setia akan Panggilan Hidup

Biodata
Nama : Sigit Witiaksono (Njo Tjoe Hian)
Lahir : Lasem, 23 Oktober 1929
Istri : Marpat Rochani
Usaha Batik :
Sekar Kencana
Jl.Babagan IV/4, Lasem 59271 Telp (0295)531166

Setiap orang yang pernah berkunjung ke Lasem, pasti akan terasa masih kurang kalau belum beremu dengannya. Sikapnya yang ramah, semangat luar biasa, suka humor, dan berwawasan sangat luas, khususnya mengenai kota Lasem membuat setiap orang mempunyai kesan yang teramat mendalam terhadapnya. Walau usianya sudah mendekati 80 tahun, susah untuk kita menemukan kesan “tua” darinya. Dialah Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian), salah satu pengusaha batik dan ”sesepuh” masyarakat Lasem.

Jalan Hidup

Seperti anak muda yang lain, Sigit punya keinginan mengenyam pendidikan yang berkualitas dengan jenjang setinggi-tingginya. Setelah lulus SMP di Lasem, ia melanjutkan sekolah di Semarang, tepatnya di SMA Loyola sebagai angkatan II. Pada tahun 1954 Sigit masuk ke Universitas Airlangga jurusan Hukum, satu angkatan dengan Prof. J.E. Sahetapy. Walaupun beban kuliah yang berat, ia tetap aktif dalam kegiatan olahraga kampus seperti: sepakbola, tenis meja, bulutangkis, dan lain sebagainya. Ditengah kegiatan kuliah dan olahraga yang begitu padat, pada tahun 1960 tiba-tiba Sigit terserang radang selaput otak. Berbulan-bulan ia menjalani rawat inap di rumah sakit hingga akhirnya terpaksa harus berhenti sebagai mahasiswa. Tetapi ada hikmah dari peristiwa ini, ia menemukan jodoh seorang bidan yang bekerja di rumah sakit tempatnya dirawat.

Setelah berhenti sebagai mahasiswa, Sigit menjadi guru bahasa dan Civic Education (kewarganegaraan) di SMA yang berbahasa Mandarin di Pasuruan. Pada tahun 1965 seiring pergolakan politik waktu itu, sekolah ditutup. Tentu saja hal ini membuat Sigit pusing, mau kerja apa lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta istri dan satu anaknya.

Sigit sudah pernah menjalani pekerjaan sebagai karyawan di bengkel dan sales kopi, tetapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya Sigit bersama keluarganya pulang ke rumah orang tuanya di Lasem. Di Lasem, Sigit bekerja di kantor bus antarkota ”Kaloka”. Kebetulan pemiliknya, Tirto Konconoto (Lie Toen Oey), adalah teman lamanya. Tirto bilang padanya, ”Kalau kamu ikut saya terus maka kamu selamanya jadi buruh. Padahal bapak kamu adalah pengusaha batik besar, sebaiknya kamu meneruskan usahanya!”.

Nasihat dari bos ”Kaloka” menjadi pemicu awal bagi Sigit untuk mulai usaha batik. Ternyata Tirto tidak hanya memberikan nasihat saja, tetapi dia dan istrinya juga memberikan pinjaman modal kerja dan mengajarkan beberapa resep warna kepada Sigit dan istrinya. Dengan modal awal 10 pieces mori, Sigit dan istrinya mulai usaha batik. Berhubung morinya masih sedikit, maka kainnya dikethel di perusahaan batik milik adik bos ”Kaloka” – Lie Toen Hok, pemilik usaha batik tulis Lasem Cap Perkutut. Ia juga bilang ke Sigit, ”Kalau kamu mulai usaha batik seperti saya, kamu tidak usah bekerja sebagai karyawan lagi!” Nasihat ini menjadi lecutan bagi Sigit untuk lebih giat dalam merintis usaha batiknya.

Walaupun Sigit sudah punya perusahaan batik, ia tetap bekerja di Kaloka. Sedangkan perusahaan batik dijalankan oleh istrinya. Pada tahun 1974 Sigit berhenti dari Kaloka. Selanjutnya, pemilik bus ”Indonesia” meminta beliau bekerja sebagai Kepala Kantor di Lasem, tetapi karena pada tahun 1994 perusahaan bus Indonesia dijual oleh pemiliknya, Sigit pun berhenti dari pekerjaannya.

Dan mulai tahun itulah ia lebih banyak beraktivitas di rumah dengan terus aktif dalam kegiatan kegiatan sosial baik di Lasem, Rembang, maupun di luar kota, seiring perkembangan perusahaan batik “Sekar Kencana” yang dikelola istrinya.

Keprihatinan

Sewaktu krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998, industri batik Lasem sangat terpukul. Banyak pengusaha batik Lasem menutup usahanya, karena tidak bisa lagi berproduksi akibat tingginya harga bahan batik. Sebagian besar merupakan barang impor, harga naik tajam seiring melemahnya nilai rupiah terhadap dollar.

Walaupun beban yang harus ditanggung sangat berat, Sigit tetap mempertahankan perusahannya, karena beliau beranggapan bahwa menjadi pengusaha batik adalah panggilan hidupnya. Bukan saja panggilan untuk berbisnis, tetapi juga melestarikan budaya dan nilai-nilai leluhur. Dan ternyata pilihannya tepat, usaha batiknya tetap berkembang sampai sekarang, sampai-sampai terpaksa menolak pesanan karena keterbatasan kapasitas produksi.

Ironis memang. Di antara banyak orang yang ingin mengembangkan bisnisnya, Sigit menolak pesanan batik dari konsumen. Itulah yang menjadi keprihatinan Sigit sampai sekarang. Sebenarnya ia ingin kapasitas produksi perusahaan ditingkatkan untuk mengembangkan pasar batiknya, tetapi semua itu terbentur pada keterbatasan pembatik yang ada di Lasem dan sekitar. Sampai-sampai antar pengusaha harus ”rebutan” pembatik untuk menin-gkatkan kapasitas produksi. Kondisi yang demikian akan memberikan dampak negatif bagi industri batik Lasem. Sigit tidak mau hal itu terjadi, maka ia membina anak-anak muda untuk menjadi pembatik di perusahannya.

Tentu saja keprihatinan Sigit di sini menjadi keprihatinan semua pihak yang terlibat dalam revitalisasi batik Lasem, maka daripada itu sudah selayaknya kita memulai usaha regenerasi pembatik!

Budaya Lokal Warisan Leluhur, Siapa Mau Mewarisi ?

Profil Penjual Nasi Tahu dan Sate Ayam Srepeh serta Pembuat Gerabah

Budaya Lokal Warisan Leluhur, Siapa Mau Mewarisi ?

Oleh : Slamet Haryono dan Kartika Dewi

 

Tidak mudah menjaga kelang­sungan suatu jenis usaha berbasis budaya tradisional. Se­perti halnya yang terjadi pada in­dustri batik Lasem, berbagai usaha tradisional lain di Kabupaten Rem­ bang pun mengalami berbagai ancaman kelangsungan regenerasi bagi para pengusaha dan pekerjanya.

Sebagai upaya menemukan perbandingannya, IPI melakukan wawancara dengan Ibu Slamet, 57 tahun, seorang penjual nasi tahu (sego tahu) dan sate ayam srepreh khas Rembang di Jalan Dr. Wahidin No. 9, Rembang. Tim IPi juga men­gunjungi Ibu Karsiyatun, 42 tahun, salah seorang perajin gerabah di desa Kabongan Kidul, Kabupaten Rem­bang.

Ramai Pelanggan, TanpaPenerus

Usai berjualan, sekitar jam 09.00 bu Slamet dengan senyum bangga menceritakan awal mula berjualan yang tadinya cuma di emperan ping­gir jalan sekarang sudah berani sewa kios seharga 15 juta rupiah untuk tempat usaha selama 10 tahun ke de­pan.

 


Bu Slamet dibantu anaknya melayani pembeli


Bu Slamet sangat menjaga kualitas rasa nasi tahu dan sate ayam srepeh buatannya, sehingga dia mem­batasi pembuatan nasi tahu hanya sekitar 100 porsi dengan sate ayam srepeh 500 tusuk dalam sekali jualan. Tak heran jika banyak pembeli yang kecewa karena tidak kebagian. Agar dapat menikmati nasi tahu dan sate ayam srepeh Bu Slamet, pelanggan harus terima menunggu giliran dari sejak dibuka jam 07.00. “Kalau pasrame tidak sampai jam 09.00, tapi kalau agak sepi ya baru habis jam 10.00-an,” tutur Bu Slamet.

Untuk dapat menikmati satu por­si nasi tahu dan 10 tusuk sate ayam srepeh beserta satu gelas teh manis, kita cukup membayar Rp 12.500,- Kalau dihitung-hitung dalam sehari Bu Slamet mendapatkan laba bersih tak kurang dari Rp 200.000,-

Selain dengan membatasi jum­lah porsi dalam setiap penjualan dia juga meyakinkan bahwa semuanya dia kerjakan sendiri, membeli ba­han baku sendiri kemudian diramu dengan resep andalan, warisan dari almarhum ibu mertuanya. Suaminya juga dengan setia telah membantu dan mendampingi Bu Slamet berjualan selama 17 tahun. Karena umurnya yang sudah mulai menua, mereka berdua terkadang dibantu Mas Aba­di, 30 tahun, anaknya yang keempat beserta menantunya. Namun yang disayangkan ketika anaknya ditanya mengenai kelangsungan usahanya kelak, dia menjawab hanya sekedar membantu dan tidak bermaksud un­tuk meneruskannya. “Usaha jualan ini hanya sampai saya,” Bu Slamet menambahkan sambil berekspresi sedih. Mas Abadi masih belum yakin untuk bisa melanjutkan usaha terse­but, karena selama ini semua urus­an dagangan ditangani Bu Slamet. Nampaknya Mas Abadi perlu mendapatkan dukungan mental agar mau melanjutkan usahanya tersebut. Apalagi istrinya justru sudah mem­punyai pekerjaan tetap, sementara dia hanya membantu di tempat ibu­nya.

Keempat anak Bu Slamet yang lain sudah bekerja di luar kota dan tidak satupun yang mau meneruskan usaha jualan nasi tahu dan sate ayam srepeh. Ketika ditanya apakah Bu Slamet mau mewariskan ilmunya tersebut kepada orang lain yang mau melestarikan resep masakannya, dia merasa keberatan. Tetapi dari raut wajahnya dia juga menyayangkan usaha yang sudah dirintisnya tidak ada yang meneruskan, padahal sudah punya banyak penggemar berat dari kota-kota sekitarnya se­perti Juwana, Surabaya, Semarang bahkan juga ada yang dari Jakarta. “Kalau sudah tidak mampu berjualan saya masih bisa menikmati hari tua dari uang tabungan sendiri, ikut sama anak-anak” ujar Bu Slamet dengan yakin. Me­ngenai kelangsungan usaha nasi tahu dan sate ayam srepeh, dia menuturkan masih ada penjual lainnya meski tidak seramai usaha jualannya.

Sepi Permintaan, Ilmu Tidak Diwariskan

Di tempat lain, Ibu Karsiyatun, 42 tahun, seorang perajin gerabah asal desa Kabongan Kidul, mengeluh hidupnya hanya begini-begini saja, apalagi setelah ditinggal mati suaminya dua tahun yang lalu. Sepeninggal suaminya, dia hanya membuat gerabah mentah untuk kemudian dijual kepada Natono, adik laki-lakinya dengan harga Rp 3.500,- untuk setiap gerabah buatan­ nya yang seukuran gentong air besar (isi sekitar 25 liter). Sampai di tangan Natono, gerabah tersebut baru dibakar bersama-sama dengan gerabah dari perajin yang lain. Setelah melalui pembakaran, oleh Natono gentong terse­but dapat dijual seharga Rp 20.000,-. Jika cuaca mendukung (tidak banyak hujan turun), Bu Karsiyatun dapat memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp.90.000,- dalam sebulan. Uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan untuk membiayai sekolah kedua anaknya, Bu Karsiyatun menda­patkan kiriman uang dari anak sulungnya yang merantau berdagang di Palopo, Sulawesi Selatan.

 

Bu Karsiyatun membuat gerabah


Karsiyatun, Natono dan Karsiti adalah 3 dari enam barsaudara yang masih hidup. Ketiganya mendapatkan bekal keterampilan membuat gerabah dari orang tuanya. Meskipun mereka masih “dapat” menyambung hidup dari membuat gerabah, tetapi mereka justru tidak berharap anak anaknya me­warisi keterampilan mereka. “Jangan sampai mereka seperti orang tuanya, menderita. Biar kerja sebagai buruh di pabrik atau apa aja, asal jangan sep­erti saya yang membuat gerabah,” ujar Bu Karsiyatun. Apalagi anak-anak Bu Karsiyatun semua laki-laki, karena pada umumnya keterampilan untuk membuat gerabah diwariskan pada kaum perempuan. Meskipun yang laki-laki juga bisa saja membuat gerabah tetapi mereka lebih fokus pada proses pembakaran/ finishing dan penjualan.

Gerabah buatan mereka cenderung berukuran besar, setidaknya berka­pasitas 25 liter air, dengan tekstur agak kasar. Saat ini kebutuhan masyarakat akan gerabah buatan mereka tidaklah seramai jaman dulu karena kalah bersa­ing dengan perkakas sejenis yang terbuat dari bahan baku lain, seperti plastik dan alumunium. Dari sejak awal membuat gerabah sampai saat ini, mereka hampir tidak pernah melakukan inovasi pada model gerabah. Sebenarnya mereka membuka diri untuk membuat gerabah dengan model lain, namun hanya sebatas kalau ada pesanan.

Miris memang melihat perjuangan perajin gerabah dalam menyambung hidupnya. Pendampingan berbagai pihak peduli untuk perbaikan teknologi produksi, inovasi desain, bantuan modal maupun akses pemasaran perlu di­ lakukan agar kelangsungan produk gerabah warisan leluhur mereka tetap ter­jaga sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

UNTUK PENGUATAN REGENERASI BUDAYA BATIK LASEM

UNTUK PENGUATAN REGENERASI BUDAYA BATIK LASEM

Oleh: William Kwan HL (Direktur IPI)

Batik Lasem merupakan salah satu warisan luhur dari nenek moyang Indonesia. Dalam fungsinya sebagai bagian dari kain tradi­sional Indonesia, batik Lasem telah turut memberikan kontribusi keindahan dan keagungan seni budaya pa­kaian sekaligus membantu kesejahteraan ekonomi para pekerja dan pengusaha batik di berbagai desa di sekitar kota kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Industri batik Lasem pernah mengalami kejayaan sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia. Diper­kirakan skala industri batik Lasem mencapai posisi kelima di antara banyak industri batik di Hindia Belanda saat itu. Hal ini dapat dimengerti mengingat tingginya permintaan terhadap Batik Lasem oleh konsumen kain di Jawa, Sumatera, Bali, Gorontalo, Malaka, Suriname dan sebagainya. Namun demikian, potret industri batik Lasem pada tahun 2008 menunjukkan kondisi yang san­gat berbeda.

Jumlah pengusaha batik Lasem telah merosot dras­tis dari sekitar 120 orang (tahun 1930) menjadi hanya 26 orang (Juni 2008). Adapun jumlah perempuan pem­batik juga diperkirakan telah jauh merosot sebagaimana tampak dari dominasi pembatik berusia lanjut (rata-rata berkisar 45 tahun). Kedua hal tersebut di atas menunjukkan hambatan regenerasi industri batik Lasem, baik pada tingkat pengusaha maupun pembatik/ pengrajin. Jika tidak diatasi segera, maka hambatan regenerasi batik Lasem tersebut dipastikan akan mengancam ke­sinambungan industri dan budaya batik Lasem dalam jangka panjang.

Sebenarnya Pemerintah Daerah Kabupaten Rem­bang telah memberikan perhatian yang cukup tinggi un­tuk kelestarian budaya dan industri batik Lasem. Berba­gai jenis pelatihan teknis pembatikan (termasuk proses pewarnaan kain batik), bantuan peralatan produksi serta promosi batik Lasem melalui berbagai pameran kain tradisional, misalnya, telah dilaksanakan dengan inten­sif. Ditunjang oleh bergairahnya kembali pasar batik ditingkat nasional, berbagai bantuan tersebut telah mampu memperbaiki posisi industri batik Lasem di tengah se­ngitnya persaingan usaha batik. Batik Lasem mulai dike­nal kembali serta digemari oleh kalangan masyarakat luas di Indonesia.

Kian tingginya permintaan pasar terhadap batik Lasem menyebabkan munculnya dua fenomena sebagai berikut: a) bertambahnya jumlah pengusaha batik Lasem akibat meningkatnya minat para pemodal untuk ikut ter­jun dalam bidang usaha batik Lasem, b) para perempuan pembatik yang sebelumnya banyak menganggur mulai bekerja kembali.

Kedua hal tersebut di atas telah membantu pening­katan sumberdaya kewirausahaan, potensi inovasi in­dustri, serta penurunan angka pengangguran di kalangan perempuan pembatik yang berdomisili di berbagai desa tertinggal di Kabupaten Rembang. Selanjutnya, permint­aan yang tinggi terhadap tenaga kerja pembatik telah menyebabkan persaingan tajam antar pengusaha dalam memperebutkan tenaga kerja pembatik tersebut, terutama pembatik terampil.

Kelangkaan tenaga kerja pembatik telah merupakan sebuah masalah yang sangat nyata dan serius dalam in­dustri batik Lasem. Kesinambungan budaya dan industri batik Lasem dalam jangka panjang dapat terancam oleh kelangkaan tenaga kerja potensial tersebut. Kerja sama antar pihak yang peduli terhadap kelestarian batik Lasem amat dibutuhkan guna meningkatkan jumlah dan kualitas pengusaha maupun pembatik.

Berangkat dari keprihatinan terhadap lambatnya proses regenerasi pembatik tersebut, maka sejak April 2008 IPI mulai mempersiapkan upaya untuk mendukung berbagai pihak dalam memperkuat proses regenerasi ba­tik Lasem.

Upaya revitalisasi budaya batik Lasem tentu tidak mudah dilakukan mengingat adanya beberapa hambatan, antara lain sebagai berikut:

  1. Keterbatasan data sejarah dan peta budaya batik Lasem menambah sulitnya upaya penyusunan ma­teri program-program pelestarian batik Lasem.
  2. Rendahnya kesejahteraan ekonomi para pembatik meniadakan insentif generasi muda untuk mengikuti jejak orang tua mereka.
  3. Persepsi negatif generasi muda yang menganggap industri batik sebagai bidang pekerjaan yang sudah kuno, tidak menarik, dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman saat ini.
  4. Terbatasnya jumlah dan kapasitas sumber daya ma­nusia di Kabupaten Rembang untuk membantu pros­es revitalisasi budaya batik Lasem.
  5. Terbatasnya upaya promosi kepada para pihak terkait (multistakeholders) untuk bekerjasama secara siner­gis dalam rangka revitalisasi budaya batik Lasem.

Guna mengatasi ke lima hambatan di atas, IPI akan mencoba untuk melaksanakan program kegiatan sebagai berikut:

  1. Pemetaan Sosial Budaya dan Ekonomi Batik Lasem Melaksanakan kegiatan penelitian untuk mem­peroleh data yang memadai tentang aspek sosial, budaya dan ekonomi batik Lasem, antara lain a) penelitian “Sejarah Budaya Batik Lasem” dan b) penelitian “Strategi Pemberdayaan Sosial Ekonomi Perempuan Pembatik Lasem.”
  2. Pendidikan untuk Regenerasi Pembatik Lasem Mengembangkan sebuah model pendidikan budaya batik Lasem yang praktis dan efektif untuk generasi muda melalui kegiatan sebagai berikut:
    a) Pengembangan kurikulum muatan lokal budaya batik Lasem di 4 (empat) sekolah dasar proyek percontohan di kecamatan Pancur, yaitu SD Je­ruk, SD Doropayung, SD Warugunung.
    b) Pengembangan Sanggar Anak di 5 (lima) desa proyek percontohan, yaitu desa-desa Jeruk, Kara­skepoh, Doropayung, Tuyuhan dan Warugu­nung.
  3. Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Pembatik di Desa Jeruk Pendampingan IPI terhadap Desa Jeruk akan dilanjutkan guna penciptaan lapangan kerja, pening­katan pendapatan ekonomi dan kesadaran kritis masyarakat desa melalui pengembangan desa Jeruk sebagai sebuah desa wisata batik rakyat.

Guna melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, IPI berharap dapat bekerja sama dengan semua pihak yang peduli atas kelestarian budaya batik Lasem, baik di Kabupaten Rembang maupun di daerah-daerah lainnya. Semoga batik Lasem akan semakin berkembang di masa yang akan datang sehingga dapat memperkuat kesejahteraan ekonomi dan kesadaran budaya di Kabu­paten Rembang.