batik lasem

William Kwan, Kisah Membangkitkan Batik Lasem

Dari keprihatinan akan berbagai kerusuhan bernuansa primordialisme di Nusantara pada akhir dekade 1990-an, William Kwan mendirikan organisasi nirlaba untuk mengembangkan wacana pluralisme di tengah masyarakat. Sama sekali tak diduga, langkah itu menjadi awal kebangkitan batik lasem.

Kerusuhan Mei 1998, kerusuhan di Ambon, perselisihan antarsuku di Kalimantan, dan beberapa konflik karena primordialisme lainnya mendorong William mendirikan Institut Pluralisme Indonesia (IPI).

Pada awalnya kegiatan IPI, antara lain, adalah donor darah, menjadi mediator daerah konflik, dan kegiatan lain yang berupaya mempersatukan masyarakat berdasarkan keadaan di lapangan dan observasi. Namun, belakangan, kegiatannya berkembang menjadi meneliti dan mengembangkan batik di Lasem, Jawa Tengah. ”Tidak ada maksud sama sekali awalnya,” kata William Kwan ketika dihubungi pekan lalu.

Mengapa batik? Mengapa Lasem? Mengapa bukan batik cirebon, batik pekalongan, atau batik solo? William tertawa. ”Ketika itu, saya tidak tahu batik. Memakai batik hanya pakai saja, tidak tahu sejarah, motifnya. Lasem, saya juga belum pernah ke sana,” ujarnya. Batik juga bukan bidang penelitiannya yang pada waktu itu lebih banyak pada bidang ekonomi mikro pedesaan.

eddy.hasby
William Kwan, seorang peneliti dan pemerhati batik Lasem, bercerita mengenai filosofi dan detail dari makna batik Tiga Negeri yang ada di Lasem, Jawa Tengah.

Boleh dibilang, Lasem ”ditemukan” William secara tidak sengaja. Sekitar Januari 2004, ia bertandang ke kakak kelasnya yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Jateng di Semarang. Ketika sedang menunggu temannya itu, dia bertemu dua orang ibu yang bercerita tentang perjalanan mereka ke Lasem, antara lain, bercerita tentang batik Tiga Negeri Lasem yang dibuat dari rumah ke rumah. Waktu itu situasi perbatikan di sana sedang sepi.

Krisis 1998-1999 membuat industri batik Lasem melempem dan masih berlangsung hingga 2004. Selain itu, serbuan batik printing yang lebih murah juga mengganggu industri batik tulis. ”Pulang dari Semarang ke Jakarta, kepala saya penuh dengan pertanyaan seputar batik Lasem,” kata William. Dia pun mencari informasi lebih lanjut tentang batik dan Lasem.

Bulan Februari 2004, William dan dua staf IPI berangkat ke Lasem tanpa satu pun kenalan di kota pesisir tersebut. ”Anehnya, ketika sampai di Lasem, saya merasa kenal, merasa pulang. Entahlah, mungkin saya orang Lasem dulu ha-ha-ha,” kata William yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah.

William pun melihat sendiri bagaimana lesunya industri batik Lasem. Dari ada sekitar 120 keluarga pembatik di Lasem pada 1930-an turun menjadi 110 keluarga pada tahun 1970, dan pada 2004 tinggal tersisa 18 keluarga pembatik. Empat belas keluarga di antaranya keluarga keturunan Tionghoa dan empat keluarga Jawa.

Motif batik lasem ”Gemblong Sak Iris” koleksi William Kwan. Motif ini biasanya digunakan oleh pasangan pengantin dan akan disimpan hingga tua. Bahkan, kadang diwariskan kepada anak cucu. Ketika suami pergi bekerja beberapa hari dan sang anak sakit, istri akan menyelimuti anaknya dengan kain ini yang dipercaya dapat meredakan sakit.

Motif batik lasem ”Gemblong Sak Iris” koleksi William Kwan. Motif ini biasanya digunakan oleh pasangan pengantin dan akan disimpan hingga tua. Bahkan, kadang diwariskan kepada anak cucu. Ketika suami pergi bekerja beberapa hari dan sang anak sakit, istri akan menyelimuti anaknya dengan kain ini yang dipercaya dapat meredakan sakit.


KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Baca juga: Wisdariman, Seniman Dayak Pelestari Keberagaman

Membangun kembali

William ingin membangun kembali kejayaan batik Lasem. Dia kembali ke Jakarta dan menceritakan niatnya kepada teman-temannya. Bukan dukungan yang didapat, melainkan celaan. ”Menurut teman-teman saya, daripada membantu industri yang sudah sekarat, lebih baik membantu industri lain, seperti para pedagang bakso. Tidak perlu jauh-jauh ke Lasem, di Jakarta saja banyak. Batik Lasem tidak terkenal, tidak ada juga pasarnya. Kalau mau mengembangkan batik, batik pekalongan, batik solo lebih jelas,” kata William menirukan kawan-kawannya.

Akan tetapi, William tidak putus asa. Dia tetap pergi ke Lasem. Bertemu dengan para pengusaha batik lasem yang terkesan sudah mati suri. Padahal, batik lasem merupakan identitas daerah Lasem dan juga merupakan perpaduan dua budaya. Motif batik Lasem adalah perpaduan antara budaya China dan budaya Lasem dan menjadi perwujudan toleransi di Lasem.

Dari berbagai pertemuan, William mulai merancang revitalisasi industri batik Lasem. Dibantu stafnya, William memutuskan membuat proyek percontohan agar lebih banyak lagi pengusaha batik Lasem yang bangkit.

”Pemda memberikan beberapa desa yang dapat dijadikan percontohan. Tetapi, saya tidak menggunakan daftar tersebut. Saya mencari desa tertinggal yang perekonomian warganya susah dan desa yang memiliki tradisi membatik. Batiknya pun bukan batik halus, jadi masih dapat ditingkatkan mutunya,” kata William.

Pembatik tulis Lasem di Rumah Batik Kidang Mas, Desa Babagan, Lasem, Kabupaten Rembang, Jumat (9/3/2018). Regenerasi pembatik tulis Lasem terancam karena kaum muda lebih pilih bekerja sebagai buruh pabrik.

Pembatik tulis Lasem di Rumah Batik Kidang Mas, Desa Babagan, Lasem, Kabupaten Rembang, Jumat (9/3/2018). Regenerasi pembatik tulis Lasem terancam karena kaum muda lebih pilih bekerja sebagai buruh pabrik.

KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN

Dari pencarian singkat, pertengahan 2006, mereka memutuskan untuk membuat Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, menjadi desa percontohan. Di desa ini ada sekitar 172 orang perempuan yang dapat membatik, tetapi ketika itu sudah tidak membatik lagi. William membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Srikandi Jeruk dengan empat anggota. ”Di desa ini saya bertemu Ibu Ramini, yang hanya sekolah hingga kelas 2 SD, dan biasanya bertugas menutup atau menembok kain,” katanya.

William mengatakan, pewarnaan batik Lasem ketika itu menggunakan pewarna sintetis. ”Setiap pengusaha menyimpan sendiri resep pewarnaannya, tidak ada pekerja yang mengetahui resep itu. Warna merah mengkudu merupakan warna khas batik Lasem,” katanya.

Anggota KUB Srikandi Jeruk lalu diberi pelatihan pewarnaan alami di Girilaya, Bantul, Yogyakarta, selama satu pekan. Para pembatik selama ini tidak menggunakan pewarna alami karena prosesnya memerlukan hingga 20-30 kali pencelupan untuk mendapatkan warna yang bagus, sementara pewarna sintetis naphtol hanya 2-3 kali pencelupan saja.

William memerlukan waktu dua tahun hingga 2008  untuk kembali memperkenalkan proses pencelupan dengan pewarna alami di Lasem. William juga memperkenalkan batik Lasem kepada para perancang busana agar dapat memberi masukan warna apa yang digemari konsumen sehingga pembatik pun dapat menyesuaikan tanpa menghilangkan ciri khas batik Lasem.

Para pengusaha batik tidak hanya dari KUB Srikandi Jeruk diajak ke sejumlah sentra batik untuk belajar, tetapi juga menyertakan mereka ke pameran-pameran kriya sehingga batik Lasem perlahan semakin dikenal. Tidak hanya itu, William juga pergi ke sekolah-sekolah untuk mengajak anak muda membatik kembali. Dari tahun ke tahun, jumlah pengusaha dan pamor batik Lasem semakin meningkat. Tahun 2021 ini sudah ada 111 pengusaha batik Lasem.

Andriana Santoso, generasi ketiga pemilik batik tulis Lasem Pusaka Beruang, menata penyimpanan batik tulis Lasem di Desa Sumbergirang, Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (11/3/2018). Potensi pasar batik tulis Lasem di dalam negeri dan mancanegara cukup besar karena keunikan warna, motif tulis, dan nilai historisnya.

Andriana Santoso, generasi ketiga pemilik batik tulis Lasem Pusaka Beruang, menata penyimpanan batik tulis Lasem di Desa Sumbergirang, Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (11/3/2018). Potensi pasar batik tulis Lasem di dalam negeri dan mancanegara cukup besar karena keunikan warna, motif tulis, dan nilai historisnya.

KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN

Baca juga: Arman AZ, Menelusuri Jejak Samar Peradaban Lampung

Pendampingan

Tidak mudah mengajak para ibu sederhana di desa Jeruk untuk menjadi pengusaha tahan banting. William menegaskan, KUB Srikandi Jeruk merupakan sebuah komunitas pemilik usaha, bukan perorangan.

Pendampingan yang dilakukan William dilakukan secara tarik ulur dari Jakarta. Para buruh batik yang sedang berproses menjadi pengusaha dibekali berbagai pengetahuan, tetapi tidak ada campur tangan penuh dari para pendamping. Mereka dibiarkan menjalani proses secara alami.

Perjalanan mendampingi para ibu tersebut tidak selalu mulus. Terkadang timbul konflik di antara mereka. Terkadang juga mereka merasa lelah. Suatu kali, pemerintah daerah setempat membagikan stiker yang menandakan bahwa rumah tersebut berhak mendapatkan bantuan tunai.

William Kwan, peneliti dan pemerhati batik lasem.

William Kwan, peneliti dan pemerhati batik lasem.

KOMPAS/EDDY HASBY

Rumah para anggota KUB Srikandi Jeruk pun ditempeli stiker tersebut. William lalu mengajak para anggota KUB berdiskusi. ”Pengusaha itu memberi uang. Buruh itu menerima uang. Setelah saya mengatakan begitu, saya santai-santai saja lalu pulang ke Jakarta,” ujar William.

Rupanya terjadi perdebatan panjang dan seru di antara para anggota. Sebagian merasa berhak dan nyaman dengan bantuan tunai tersebut, sebagian merasa tidak pantas. Beberapa hari kemudian, salah satu dari mereka menelepon William dan mengatakan, mereka akan mengembalikan stiker.

Jangan melihat mereka sebagai obyek saja dan pendamping merasa lebih pintar dari yang didampingi.

”Buat saya, ini merupakan langkah besar. Sebuah revolusi mental mereka karena mereka sudah dapat menempatkan diri tidak sebagai pihak yang selalu diberi. Revolusi mental ini membuat paradigma mereka berubah menjadi lebih tahan banting, mau berusaha, pantang menyerah. Sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi pengusaha,” ujar William.

William memberikan pendampingan, seperti membantu membuat para ibu menjadi lebih komunikatif, berani menawarkan hasil karyanya hingga ke kota-kota lain. ”Kami mendampingi dengan menjaga jarak, tidak setiap saat. Secara natural tentu ada naik dan turunnya. Jangan melihat mereka sebagai obyek saja dan pendamping merasa lebih pintar dari yang didampingi,” kata William.

Dalam perjalanannya, anggota KUB Srikandi Jeruk ada yang berkembang biasa saja, ada yang pesat. Salah satu anggota saat ini sudah memiliki toko di pusat batik Jakarta, Thamrin City.

Sekian tahun mendampingi Lasem, apakah visi dan misi IPI mengenai pluralisme masih tetap melekat? William dan IPI masih tetap fokus pada visi dan misi tersebut. ”Sudah jamak orang beranggapan bahwa hanya keluarga Tionghoa yang dapat menjadi pengusaha. Tetapi, nyatanya, di Lasem sekarang banyak pengusaha batik yang keluarga Jawa. Kita juga belajar menerima apa adanya. Batik Lasem warna khasnya, antara lain, darah pitik, demikian pula dengan simbol-simbol yang ada merupakan perpaduan budaya,” tutur William.

Goretan canting pada selembar kain batik Lasem tidak sekadar torehan malam pada selembar mori. Di dalamnya ada nilai keberagaman, kebersamaan, saling menghargai, saling mendukung, juga menerima apa adanya.

Perajin batik Lasem saat bekerja (12/06/2017). Komunitas Kesengsem Lasem bersama Traval.co mengajak peserta tur virtual mengunjungi Lasem, kota batik penghasil batik tiga negeri tertua di Indonesia. Selama dua jam perjalanan Kisah Batik Tiga Negeri Lasem, peserta diajak mengenal sejarah, asal-usul, filosofi warna, makna motif dan fungsi batik untuk Indonesia.

Perajin batik Lasem saat bekerja (12/06/2017). Komunitas Kesengsem Lasem bersama Traval.co mengajak peserta tur virtual mengunjungi Lasem, kota batik penghasil batik tiga negeri tertua di Indonesia. Selama dua jam perjalanan Kisah Batik Tiga Negeri Lasem, peserta diajak mengenal sejarah, asal-usul, filosofi warna, makna motif dan fungsi batik untuk Indonesia.

KOMPAS/DENTY PIAWAI NASTITIE

Kwan Hwie Liong (William Kwan)

Lahir: Pekalongan, 13 September 1962

Jabatan: Direktur, Institut Pluralisme Indonesia (IPI), Jakarta, 2000-sekarang

Pendidikan:

– Graduate Program in Economic Development, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, AS

– Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah

 

 

Sumber : Kompas.id
https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/02/16/william-kwan-kisah-membangkitkan-batik-lasem/

menenun

Makna Kain Tenun Perempuan Ammatoa Kajang

Bulukumba – Aktivitas menenun dapat ditemui di beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya di wilayah adat Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Menenun adalah keterampilan yang wajib dimiliki perempuan suku Ammatoa Kajang. Keterampilan menenun kain menjadi syarat utama bagi perempuan Ammatoa Kajang agar bisa menikah.

“Perempuan adat di sini wajib menenun karena sudah jadi adat yang kami pegang sejak dulu. Sebab, apabila seorang perempuan di desa Tanah Toa ingin menikah, syaratnya adalah harus bisa menenun kain,” kata Ketua Perempuan Adat Masyarakat Ammatoa Kajang, Nur Haedah.

Aturan dan keterampilan menenun kain diwariskan secara turun temurun di Desa Tanah Toa. Setiap pagi, perempuan adat Ammatoa Kajang akan menenun kain dengan menggunakan tangan, kemudian dijual ke koperasi atau pasar dengan harga satu juta rupiah per lembar. Para penenun juga tergabung dalam kelompok perempuan penenun seperti kelompok Wanita Tani Tenun Kajang, Gerai Tenun Kajang dan Kalea. Tiap kelompok terdiri dari 20 sampai dengan 30 penenun perempuan.

Kain tenun yang dihasilkan para perempuan Ammatoa Kajang bukan kain sembarangan. Sebelum dijual, kain digosok punggung cangkang keong agar mengkilat. Satu lembar kain dapat diselesaikan dalam waktu tiga minggu.

Kain tenun Kajang (foto Nursida)

Kain tenun Kajang (foto Nursida)

Menurut keterangan Nur Haedah, hal pertama pertama yang dilakukan penenun adalah mengambil daun tarung dari pohon indigo untuk direndam selam 24 jam. Setelah itu, dicampur kapur, lalu abu dapur yang berasal dari bakaran kayu untuk memasak dengan tungku. Selanjutnya diayak dan masuk dalam karung dan airnya dialirkan ke korontana atau tempat hasil pengendapan.

Air hasil endapan (tekkeh) dimasukkan dalam wadah sebagai pewarna kain yang akan ditenun yaitu hitam. Tekkeh tidak akan diganti dan selalu dipakai untuk pewarna kain, hanya ditambah setiap dua hari sekali.

Mengenai penjualan, tergantung dari pemesanannya. Kadang dalam seminggu mendapat pesanan 10 kain, kadang tidak ada pesanan sama sekali. Tapi setiap hari mereka menenun sebagai tabungan bila tiba-tiba ada pesanan.

“Uniknya selama pandemi Covid-19 pemesanan dari sekitar wilayah adat Kajang justru meningkat. Karena meskipun pandemi, banyak dilangsungkan acara pernikahan di lingkungan masyarakat adat Kajang. Kain tenun merupakan salah satu hantaran penting dalam pernikahan masyarakat adat Kajang. Dalam satu pernikahan tak jarang membutuhkan minimal 20 lembar kain tenun sebagai hantarannya,” ujar Nursida, salah satu perempuan adat Ammatoa Kajang.

Salah seorang perempuan Ammatoa Kajang sedang melakukan aktivitas menenun (foto : Nursida)

Salah seorang perempuan Ammatoa Kajang sedang melakukan aktivitas menenun (foto : Nursida)

Keterampilan menenun perempuan Ammatoa Kajang sudah dilakukan turun temurun. Selain salah satu syarat agar dapat menikah, menenun juga membuat perempuan Ammatoa Kajang berdaya dan mendapatkan penghasilan untuk meningkatkan perekonomian sang perempuan sendiri dan keluarganya.

belajar produksi pupuk kandang (1)

Seorang Guru Belajar Produksi Pupuk Kandang untuk Bantu Petani di Desa Dermolo

Suharyanto adalah seorang guru yang berdedikasi memajukan masyarakat di desa tempat tinggalnya yaitu Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Ia prihatin atas adanya masalah potensial di bidang kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh banyaknya kotoran ternak kambing di Desa Dermolo. Di sisi lain ia juga menyadari tentang sering terjadinya kelangkaan pupuk sehingga menyulitkan para petani tetangganya.

Sebagai salah seorang penggerak masyarakat yang kreatif, Suharyanto mendapat gagasan untuk mengubah kotoran kambing menjadi pupuk kandang. Walaupun tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian, Suharyanto tidak menyerah untuk membuat pupuk kandang dari bahan kotoran kambing. Ia pun belajar secara otodidak melalui aneka video dokumentasi dan tutorial di laman YouTube untuk kemudian dipraktekkan sendiri dalam membuat pupuk kandang.

Suharyanto berdiskusi saat mengunjungi kandang sapi komunal di Desa Tubanan

Suharyanto berdiskusi saat mengunjungi kandang sapi komunal di Desa Tubanan

Akhirnya ia berhasil membuat pupuk kandang namun belum yakin dengan kualitas pupuk yang dihasilkannya. Ia ingin sekali mendapatkan masukan dan bimbingan para ahli tentang cara membuat pupuk kandang yang berkualitas.

Atas bantuan akses dari Bina Swadaya Konsultan (BSK), Samadaya IPI (Institut Pluralisme Indonesia) menghubungkan Suharyanto dengan perusahaan PT Bhumi Jati Power (BJP) yang memiliki program pendampingan di sekitar lokasi tempat tinggalnya. Dengan tangan terbuka, Suharyanto diterima  untuk belajar pembuatan pupuk kandang di Desa Tubanan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah yang didukung oleh Program CSR PT Bhumi Jati Power (BJP) selaku pengelola PLTU Tanjung Jati B Unit 5 & 6.

Proses pengolahan kotoran kandang menjadi pupuk kandang

Proses pengolahan kotoran kandang menjadi pupuk kandang

Kunjungan studi ke Desa Tubanan dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 2021 oleh sebuah tim beranggotakan enam orang terdiri dari tiga orang anggota Forum Kesehatan Desa Dermolo (Sukahono, Darsin, Suharyanto) dan tiga orang peternak muda (Sumanto, Tama, Rama). Suharyanto dan tim disambut  CSR Manager PT BJP, Ari Wibawa dan Kelompok Masyarakat KSM Ternak Makmur Bhumi Jaya, Desa Tubanan. Kegiatan yang diikuti oleh tim Desa Dermolo adalah dialog dan kunjungan lapangan dalam rangka melihat secara langsung praktek pembuatan dan pemanfaatan pupuk kandang.

Penduduk Desa Tubanan sudah mendapatkan bimbingan teknis dan usaha dari Bina Swadaya Konsultan (BSK) atas dukungan program CSR PT BJP pada tahun 2020 untuk belajar membuat pupuk kendang, memanfaatkannya sebagai pupuk aneka tanaman hortikultura (sayur mayur) dan juga sebagai bahan pakan untuk budidaya ikan lele. Penduduk Desa Tuban juga sudah mengembangkan kandang komunal yang bertujuan mengumpulkan ternak sapi yang dimiliki penduduk Desa Tubanan.

Salah satu pupuk yang dihasilkan oleh KSM Ternak Makmur Bhumi Jaya digunakan untuk integrasi tanaman pangan di Desa Tubanan.

Salah satu pupuk yang dihasilkan oleh KSM Ternak Makmur Bhumi Jaya digunakan untuk integrasi tanaman pangan di Desa Tubanan.

Suharyanto dan rekan-rekan anggota tim Desa Dermolo berterima kasih atas kesempatan belajar yang diberikan oleh PT BJP dan rekan-rekan peternak di Desa Tubanan. Mereka berharap dapat mengimplementasikan pengetahuan baru dalam pembuatan dan pemanfaatan pupuk kandang di bidang pertanian dan peternakan. Suharyanto dan masyarakat Desa Dermolo mengharapkan dukungan kerjasama dalam aneka bentuk kegiatan dari PT BJP, KSM Ternak Makmur Bhumi Jaya, masyarakat Desa Tubanan, Samadaya IPI dan pihak lainnya.  Khusus bagi Samadaya IPI, membangun  dan memfasilitasi kerjasama, termasuk di bidang pemberdayaan sosial ekonomi, antar individu dan antar kelompok tanpa membedakan latar belakang merupakan visi dan misi organisasi yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dwi Anggraeni

Rasa Cinta Terhadap Batik

Saya Dwi Anggraeni dari Lasem, Rembang. Saya adalah salah satu pembatik generasi muda dari Lasem.

Sebagai generasi muda, saya memperhatikan kecenderungan fashion batik yang selalu dilihat dari mahal atau tidaknya batik tersebut. Anak muda sering kali lebih memilih untuk membeli Sneakers dengan harga yang sangat mahal dibandingkan batik yang katakanlah seharga Rp.200.000. Selain itu, mereka pun masih enggan untuk membeli batik karena menurut mereka motif batik dari dulu sampai sekarang tidak berubah sehingga dianggap “kuno”. Hal-hal inilah yang menurut saya menjadi alasan mengapa anak muda atau generasi muda saat ini kurang meminati fashion batik.

Selain itu, minat generasi muda untuk menjadi pembatik di Lasem juga sangatlah kurang. Anak muda yang sudah lulus lebih memilih untuk bekerja di toko atau pabrik sepatu dengan alasan bahwa upah yang didapat mereka ketika bekerja di toko dan juga di pabrik itu lebih besar dibandingkan menjadi pembatik.

Harapan saya untuk kedepannya untuk IPI dan Samadaya agar dapat kembali menghidupkan minat anak muda terhadap batik atau membuat sanggar batik dan budaya di Lasem. Hal ini sangat berguna untuk menanamkan rasa cinta terhadap batik.

Saat ini, saya pelan-pelan mulai untuk mengajak anak-anak untuk mengenal budaya Jawa yang kemudian saya ingin mengajak anak-anak, khususnya di desa saya, untuk mencoba mengenal proses membatik.

 

-Dwi Anggraeni, Pembatik Lasem, Rembang –

Pembatik Nurul

Membatik Itu Mempelajari Bermacam-Macam Corak Dengan Makna dan Filosofi Sendiri

Saya Nurul Maslahah dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Saya adalah salah satu pembatik generasi muda dari Batang. 

Batik indonesia telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Walaupun sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, tampaknya tidak menggerakan hati kalangan muda Indonesia untuk membatik. Minat generasi muda untuk membatik ini sangatlah rendah. Salah satunya dikarenakan harga jual batik yang relatif rendah dan proses pembuatannya memerlukan waktu yang lama.

Di daerah saya, usia pembatik itu rata-rata kisaran 50 tahun keatas. Hal ini dipengaruhi generasi muda yang beranggapan bahwa membatik itu seperti “orang kuno”, hanya untuk orang “tua” dan “jadul”.

Menurut saya, dengan membatik, kita bisa berkolaborasi dan berkreasi sesuai dengan keinginan kita, mengenal beragam motif batik beserta corak-coraknya. Batik yang bermacam-macam itu sangatlah unik. Filosofi dan makna dari batik itu sendiri pun sangatlah menarik bagi saya.

Kesadaran untuk melestarikan menjaga warisan budaya bangsa itu harus dimulai dari generasi muda generasi muda. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh generasi muda? Tidak hanya membeli dan mengoleksi saja, namun generasi muda juga bisa mengenal nama-nama batik dan mempelajari tentang motif batik yang “katanya” itu susah.

Harapan saya, dengan adanya IPI dan Samadaya ini bisa mengadakan pelatihan padat karya kepada generasi muda seperti “festival membatik” bagi generasi muda agar meningkatkan kemauan pemuda atau generasi muda untuk belajar membatik. Pelatihan padat karya ini sangat berguna untuk masyarakat karena misalnya masyarakat dapat diberikan kesempatan membuka usaha dengan memberikan modal sehingga masyarakat tidak dibebankan untuk modal usaha yang cukup besar.

– Nurul Maslahah, Pembatik Kabupaten Batang, Jawa Tengah –

 

 

 

 

C191D083-D8C4-436A-8E37-213E8611529F

Diskusi tentang Perkembangan Batik Batang di Jogjakarta

Batang adalah daerah yang cukup memiliki potensi, seperti adanya perkembangan seni batik. Batik Batang memiliki ciri desain yang sangat khas, menampilkan gaya klasik yang merupakan hasil silang budaya Tionghoa, Jawa, India, dan juga terdapat pengaruh Islam di dalamnya. Penting rasanya, jika hal tersebut di ungkap ada apa dengan Batik Batang secara keseluruhan dan perkembangannya.
Institut Pluralisme Indonesia, Komunitas Redaya, dan Rumah Budaya Babaran Segara Gunung, membangun diskusi yang berbasis edukasi untuk mengupas lebih dalam tentang Batik Batang di Jogjakarta pada tanggal 20 Juli 2019.
Kenapa kita memilih Jogjakarta sebagai tempat untuk belajar dan berdiskusi? Hal ini dikarenakan ada kaitan erat antara keberadaan budaya Batik Batang dengan budaya Batik Mataraman (yang diwakili oleh Batik Jogja, Batik Solo, Batik Pakualaman, dan Batik Mangkunegaran). Kanjeng Ratu Batang, salah satu istri (garwa) dari Sultan Agung Raja Mataram berasal dari Batang, dan ini disinyalir memberikan banyak pengaruh budaya Batik Mataraman ke Batik Batang Sogan (warna, motif).
Batik Batang sendiri untuk saat ini yang bisa dilihat dikelompokkan menjadi
a. Batik Batang Pesisiran, dengan ciri-ciri motif dan warna yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, India, Jawa, dan Islam (Batik Pelo Ati, Batik Tiga Negeri, Batik Nyah Pratin dan sebagainya). Saat ini, pusat pembatikan dapat kita lihat di Desa Kalipucang Wetan, Desa Watesalit, dan Desa Denasri Wetan, dan kesemuanya dikerjakan dengan teknik tulis
b. Batik Batang Pedalaman dengan ciri-ciri yang mirip sekali dengan Batik Mataraman, seperti batik motif Kawung, motif Udan Liris, motif Parang, dan lainnya, yang kesemuanya mempunyai kecenderungan berwarna coklat sogan seperti batik mataraman pada umumnya.
Pusat pembatikan Batik Batang Pedalaman berwarna sogan saat ini ada di desa Proyonanggan, dan dikerjakan dengan teknis tulis dan cap
c. Batik Batang Pesisiran dan Pedalaman
Pada diskusi kali ini membahas tentang perkembangan Batik Batang dari masa ke masa, sejak dari pengaruh jaman Dinasti Syailendra, pengaruh jaman kerajaan Islam, pengaruh jaman penjajahan Belanda dan Jepang, serta pengaruh yang ada saat ini.
Di-moderator-I oleh Ananta Hari, diskusi ini menampilkan pembicara pertama adalah Romo Manu Widyaseputra, seorang filsuf dan juga penasehat Kraton Jogjakarta,yang mempelajari dan meneliti budaya Jawa. Beliau memaparkan tentang keberadaan Batik Batang, khususnya Batik Rifaiyah, dengan manuskrip tulisan Repen Ripangi. Tulisan Repen Ripangi sendiri berisi tentang karya sastra H. Ahmad Rifai, salah satu kyai besar di Batang yang terkenal dengan ajaran Rifaiyah, yang didalamnya menyebutkan bahwa batik merupakan salah satu produk budaya yang dibuat untuk mentransfer ajaran Kyai Rifai tentang Islam dan perjuangan mengusir penjajah Belanda saat itu kepada murid-muridnya, selain tembang. Ini dilakukan karena penjajah sudah mulai mencium tindak tanduk Kyai Rifai dan ajarannya yang mengobarkan semangat perjuangan mengusir penjajah dan hal ini dianggap berbahaya. Hingga saat ini yang mempelajari khusus tentang manuskrip Repen Ripangi ini sampai tuntas belum ada.
Pembicara kedua adalah William Kwan, peneliti Batik Batang yang memaparkan tentang macam-macam Batik Batang, daerah pembuatannya, motif dan warnanya dipengaruhi oleh faktor apa saja, dan perkembangan keberadaan Batik Batang hingga saat ini.
Pembicara ketiga adalah MJA Nashir dari Paguyuban Batang Heritage, yang memaparkan tentang kondisi daerah Batang pada umumnya, dan sedikit tentang keberadaan Batik Batang Tiga Negeri Rifaiyah.
Acara diskusi dan tanya jawab berlangsung sekitar 3 jam, banyak peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan kepada pembicara. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan di Jogjakarta seperti dosen, pelaku batik, mahasiswa dan pelajar dari Batang yang sedang studi di Jogja, tokoh agama, budayawan, dan juga masyarakat biasa yang berjumlah sekitar 100 orang peserta.
Acara berlangsung sampai pukul 22.30, dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

5-1024x707

WONG BEJO

Yakinlah bahwa sebuah usaha tidak akan membohongi hasil yang kita dapakan, raihlah semua impian dengan doa dan kesungguhan dalam melangkah ke masa depan (bejosulasih)

WONG BEJO

Bejo Sulasih
minder, justru bisa lebih berusaha karena saya yakin semua dimulai dari sebuah proses bukan hasil. Proses yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan sebuah impian atau cita cita.
Waktu saya masuk SMK Jurusan Tata Boga di SMK N 1 Pekalongan, saat itu memang masih ikutan teman karena ketidaktahuan dalam memilih jurusan, maklum orang kampung jauh dari kota, dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari rumah sampai sekolah dengan naik bis, ceritanya mau merantau cari pengalaman. Saya ingat waktu mau pendaftaran ada tes wawancara ditanya tentang berbagai macam bumbu dapur, ya saya jawab sebisa saya dan Alhamdulillah diterima.
Secara akedemik waktu di SMP saya termasuk anak biasa, tidak pinter atau punya prestasi seperti teman-teman yang lain, tapi saat masuk SMK saya mulai berani dalam bersosialisasi dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sehingga mulai tumbuh rasa percaya diri, sampai pada akhirnya prestasi akademik di SMK pun mengikuti. Pada tahun kedua, akhirnya saya dipercaya menjadi ketua OSIS. Seorang perempuan menjadi ketua OSIS? Hal itu seperti mimpi dalam hidup saya dan membuat saya semakin belajar untuk menjadi perempuan yang dewasa dalam bertindak. Tiga tahun tak terasa berlalu di SMK dengan masa-masa yang tak mungkin terlupakan, namanya juga ABG. Waktu itu cara berpikir saya simple saja, habis lulus SMK saya mau jualan, buka warung dekat rumah. Apalagi keluarga saya memang berlatar belakang pedagang semua, jadi jiwa berdagang pasti ada.
Kemudian waktu itu nama saya didaftarkan PMDK untuk masuk kuliah di IKIP Semarang dengan jalur prestasi. Alhamdulillah diterima, almarhum Bapak sempat pesimis dan bilang ke saya, “Nduk apa Bapak bisa nguliahke kamu, wong bapak ora duwe duwit” (Nak, apa Bapak bisa menguliahkan kamu, orang Bapak tidak punya uang). Lalu Ibu saya yang menanggapi, “Ora popo mangkat kuliah ae nggo masa depanmu, mengko Mae tak luru-luru” (Tidak apa-apa kuliah saja untuk masa depanmu, nanti Ibu biar yang cari rejeki untuk kuliah).
Percakapan itu yang akan selalu saya ingat untuk menjadikan semangat saya saat kuliah, masuk tahun 1999 walaupun dengan uang saku pas-pasan. Kadang saat makan, satu bungkus bisa untuk dua kali makan, tapi tetap semangat dan mungkin ini juga sudah takdir, hal itu membuat saya untuk selalu bersungguh-sungguh dalam menempuh ilmu waktu itu di IKIP (sekarang UNNES, Universitas Negeri Semarang). Saat pemilihan jurusan di semester tiga, saya mantap menjatuhkan pilihan untuk masuk Jurusan Tata Busana.
Berat memang dengan masuk kelas yang rata-rata berasal dari jurusan yang memang linier yaitu Tata Busana, tapi itu tidak menjadikan saya malas. Justru hal tersebut saya jadikan tantangan dengan modal mesin jahit baru yang dibelikan Ibu. Saya langsung mengikuti les menjahit yang murah waktu itu untuk bisa mengimbangi teman-teman di kampus.
Alhasil tahun 2003 saya dapat menyelesaikan studi S1 dengan mendapat piagam penghargaan mahasiswa terbaik karena waktu itu saya dapat menyelesaikan studi dengan usia termuda untuk Jurusan Tata Busana, 21 tahun. Terimakasih Ya ALLAH.
BEJO SULASIH. Nama itu dipanggil oleh panitia wisuda untuk maju ke depan podium dengan didampingi Bapak dan Ibu. “Waaaaaaah…. aku luluuuuus…”.
Hal yang tak terduga pun terjadi dalam hidup saya. Saya berangkat ke Negara Tirai Bambu untuk mengikuti Program Magang Guru di sana. Alhamdulillah seperti mimpi. Proses yang dilalui pun panjang, mulai dari persyaratan pendaftaran, seleksi akademis hingga tes wawancara. Dan akhirnya terpilih dan bisa berangkat ke China selama tiga minggu.
Cerita pengalaman di atas mungkin bisa membuat motivasi para anak muda atau mungkin murid-murid saya yang membaca. Keyakinan dalam melakukan sesuatu hal dibutuhkan juga bantuan orang lain baik dalam bentuk doa, dukungan ataupun bahkan materi terutama dengan orang terdekat kita yaitu orang tua dan keluarga.
Jangan sampai lupa akan jasa orang tua yang bersusah payah membesarkan dan memberikan pendidikan yang layak. Doa orang tua untuk kita itulah letak keberkahan dalam hidup yang kita jalani hingga saat ini. Dengan segala keterbatasan yang kita miliki harusnya membuat kita untuk bisa tampil meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa dan saya siap menatap masa depan.

Penulis adalah seorang guru yang mempunyai harapan dan impian yang besar untuk terus mengembangkan ilmu sekaligus dapat menginspirasi banyak orang khususnya generasi muda.
Nama : Bejo Sulasih
Tempat,Tanggal Lahir : Batang, 26 Februari 1982
Alamat : Jl. Raya Bandar No. 114, Bandar, Batang
Riwayat Pendidikan
• Tahun 1987 – 1993 : SD N 2 Bandar
• Tahun 1993 – 1996 : SMP N 1 Bandar
• Tahun 1996 – 1999 : SMK N 1 Pekalongan
• Tahun 1999 – 2003 : S1 Prodi Tata Busana Universitas Negeri Semarang
• Tahun 2014 – 2017 : S2 Prodi Pendidikan Kejuruan Universitas Negeri Semarang
Pengalaman Kerja
• Tahun 2006 – 2013, SMK N 1 Ampelgading Pemalang, Guru Produktif Tata busana
• Tahun 2013 – Sekarang, SMK N 1 Warungasem Batang, Guru Produktif Tata Busana
• Wiraswasta di bidang busana

7507FEA5-77A1-4B40-A173-F2323CD87DE5-trans

Baru Ada

Samadaya, sebuah penggambaran upaya menjalin ikatan lintas ruang sosial, ekonomi maupun budaya, untuk bersama-sama menuju masa depan yang baik, dan batik sebagai pintu masuknya. Melalui pendidikan batik diharapkan mampu memberikan pemahaman baru yang holistik. Berawal dari perkenalan tentang nama motif, asal, dibuat oleh siapa, hingga makna pada sehelai kain batik, untuk kemudian mengajak kita berpikir bagaimana prosesnya. Proses pembuatan yang tidak sederhana, yang melibatkan berbagai elemen masyarakat yang beragam. Sampai pada akhirnya muncul kesadaran bahwa bicara batik ternyata mencakup batasan yang luas.