Ragam Hias Batik Lasem

Motif Nagapuspa

Motif Nagapuspa

Desain motif hasil kreasi KUB Batik ”Srikandi”, Desa Jeruk, Pancur, Rembang, Februari 2008 yang mempersatukan motif liong (naga), burung hong (phoenix) pada budaya Cina dan isen-isen semanggi pada budaya Jawa.

 

 

 

Motif Sidoluhur Sisik Latoh

Motif Sidoluhur Sisik Latoh

Desain motif hasil kreasi KUB Batik ”Srikandi”, Desa Jeruk, Pancur, Rembang, Oktober 2007. Motif ini mencoba memadukan motif sidoluhur dari gaya batik kraton/ pedalaman Jawa (voorstenlanden) dengan isen-isen batik khas Lasem (sisik, latoh, cacingan, seritan, ungker, dan lain-lain)

Setia akan Panggilan Hidup

Sigit Witiaksono

Setia akan Panggilan Hidup

Biodata
Nama : Sigit Witiaksono (Njo Tjoe Hian)
Lahir : Lasem, 23 Oktober 1929
Istri : Marpat Rochani
Usaha Batik :
Sekar Kencana
Jl.Babagan IV/4, Lasem 59271 Telp (0295)531166

Setiap orang yang pernah berkunjung ke Lasem, pasti akan terasa masih kurang kalau belum beremu dengannya. Sikapnya yang ramah, semangat luar biasa, suka humor, dan berwawasan sangat luas, khususnya mengenai kota Lasem membuat setiap orang mempunyai kesan yang teramat mendalam terhadapnya. Walau usianya sudah mendekati 80 tahun, susah untuk kita menemukan kesan “tua” darinya. Dialah Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian), salah satu pengusaha batik dan ”sesepuh” masyarakat Lasem.

Jalan Hidup

Seperti anak muda yang lain, Sigit punya keinginan mengenyam pendidikan yang berkualitas dengan jenjang setinggi-tingginya. Setelah lulus SMP di Lasem, ia melanjutkan sekolah di Semarang, tepatnya di SMA Loyola sebagai angkatan II. Pada tahun 1954 Sigit masuk ke Universitas Airlangga jurusan Hukum, satu angkatan dengan Prof. J.E. Sahetapy. Walaupun beban kuliah yang berat, ia tetap aktif dalam kegiatan olahraga kampus seperti: sepakbola, tenis meja, bulutangkis, dan lain sebagainya. Ditengah kegiatan kuliah dan olahraga yang begitu padat, pada tahun 1960 tiba-tiba Sigit terserang radang selaput otak. Berbulan-bulan ia menjalani rawat inap di rumah sakit hingga akhirnya terpaksa harus berhenti sebagai mahasiswa. Tetapi ada hikmah dari peristiwa ini, ia menemukan jodoh seorang bidan yang bekerja di rumah sakit tempatnya dirawat.

Setelah berhenti sebagai mahasiswa, Sigit menjadi guru bahasa dan Civic Education (kewarganegaraan) di SMA yang berbahasa Mandarin di Pasuruan. Pada tahun 1965 seiring pergolakan politik waktu itu, sekolah ditutup. Tentu saja hal ini membuat Sigit pusing, mau kerja apa lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta istri dan satu anaknya.

Sigit sudah pernah menjalani pekerjaan sebagai karyawan di bengkel dan sales kopi, tetapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya Sigit bersama keluarganya pulang ke rumah orang tuanya di Lasem. Di Lasem, Sigit bekerja di kantor bus antarkota ”Kaloka”. Kebetulan pemiliknya, Tirto Konconoto (Lie Toen Oey), adalah teman lamanya. Tirto bilang padanya, ”Kalau kamu ikut saya terus maka kamu selamanya jadi buruh. Padahal bapak kamu adalah pengusaha batik besar, sebaiknya kamu meneruskan usahanya!”.

Nasihat dari bos ”Kaloka” menjadi pemicu awal bagi Sigit untuk mulai usaha batik. Ternyata Tirto tidak hanya memberikan nasihat saja, tetapi dia dan istrinya juga memberikan pinjaman modal kerja dan mengajarkan beberapa resep warna kepada Sigit dan istrinya. Dengan modal awal 10 pieces mori, Sigit dan istrinya mulai usaha batik. Berhubung morinya masih sedikit, maka kainnya dikethel di perusahaan batik milik adik bos ”Kaloka” – Lie Toen Hok, pemilik usaha batik tulis Lasem Cap Perkutut. Ia juga bilang ke Sigit, ”Kalau kamu mulai usaha batik seperti saya, kamu tidak usah bekerja sebagai karyawan lagi!” Nasihat ini menjadi lecutan bagi Sigit untuk lebih giat dalam merintis usaha batiknya.

Walaupun Sigit sudah punya perusahaan batik, ia tetap bekerja di Kaloka. Sedangkan perusahaan batik dijalankan oleh istrinya. Pada tahun 1974 Sigit berhenti dari Kaloka. Selanjutnya, pemilik bus ”Indonesia” meminta beliau bekerja sebagai Kepala Kantor di Lasem, tetapi karena pada tahun 1994 perusahaan bus Indonesia dijual oleh pemiliknya, Sigit pun berhenti dari pekerjaannya.

Dan mulai tahun itulah ia lebih banyak beraktivitas di rumah dengan terus aktif dalam kegiatan kegiatan sosial baik di Lasem, Rembang, maupun di luar kota, seiring perkembangan perusahaan batik “Sekar Kencana” yang dikelola istrinya.

Keprihatinan

Sewaktu krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998, industri batik Lasem sangat terpukul. Banyak pengusaha batik Lasem menutup usahanya, karena tidak bisa lagi berproduksi akibat tingginya harga bahan batik. Sebagian besar merupakan barang impor, harga naik tajam seiring melemahnya nilai rupiah terhadap dollar.

Walaupun beban yang harus ditanggung sangat berat, Sigit tetap mempertahankan perusahannya, karena beliau beranggapan bahwa menjadi pengusaha batik adalah panggilan hidupnya. Bukan saja panggilan untuk berbisnis, tetapi juga melestarikan budaya dan nilai-nilai leluhur. Dan ternyata pilihannya tepat, usaha batiknya tetap berkembang sampai sekarang, sampai-sampai terpaksa menolak pesanan karena keterbatasan kapasitas produksi.

Ironis memang. Di antara banyak orang yang ingin mengembangkan bisnisnya, Sigit menolak pesanan batik dari konsumen. Itulah yang menjadi keprihatinan Sigit sampai sekarang. Sebenarnya ia ingin kapasitas produksi perusahaan ditingkatkan untuk mengembangkan pasar batiknya, tetapi semua itu terbentur pada keterbatasan pembatik yang ada di Lasem dan sekitar. Sampai-sampai antar pengusaha harus ”rebutan” pembatik untuk menin-gkatkan kapasitas produksi. Kondisi yang demikian akan memberikan dampak negatif bagi industri batik Lasem. Sigit tidak mau hal itu terjadi, maka ia membina anak-anak muda untuk menjadi pembatik di perusahannya.

Tentu saja keprihatinan Sigit di sini menjadi keprihatinan semua pihak yang terlibat dalam revitalisasi batik Lasem, maka daripada itu sudah selayaknya kita memulai usaha regenerasi pembatik!

Budaya Lokal Warisan Leluhur, Siapa Mau Mewarisi ?

Profil Penjual Nasi Tahu dan Sate Ayam Srepeh serta Pembuat Gerabah

Budaya Lokal Warisan Leluhur, Siapa Mau Mewarisi ?

Oleh : Slamet Haryono dan Kartika Dewi

 

Tidak mudah menjaga kelang­sungan suatu jenis usaha berbasis budaya tradisional. Se­perti halnya yang terjadi pada in­dustri batik Lasem, berbagai usaha tradisional lain di Kabupaten Rem­ bang pun mengalami berbagai ancaman kelangsungan regenerasi bagi para pengusaha dan pekerjanya.

Sebagai upaya menemukan perbandingannya, IPI melakukan wawancara dengan Ibu Slamet, 57 tahun, seorang penjual nasi tahu (sego tahu) dan sate ayam srepreh khas Rembang di Jalan Dr. Wahidin No. 9, Rembang. Tim IPi juga men­gunjungi Ibu Karsiyatun, 42 tahun, salah seorang perajin gerabah di desa Kabongan Kidul, Kabupaten Rem­bang.

Ramai Pelanggan, TanpaPenerus

Usai berjualan, sekitar jam 09.00 bu Slamet dengan senyum bangga menceritakan awal mula berjualan yang tadinya cuma di emperan ping­gir jalan sekarang sudah berani sewa kios seharga 15 juta rupiah untuk tempat usaha selama 10 tahun ke de­pan.

 


Bu Slamet dibantu anaknya melayani pembeli


Bu Slamet sangat menjaga kualitas rasa nasi tahu dan sate ayam srepeh buatannya, sehingga dia mem­batasi pembuatan nasi tahu hanya sekitar 100 porsi dengan sate ayam srepeh 500 tusuk dalam sekali jualan. Tak heran jika banyak pembeli yang kecewa karena tidak kebagian. Agar dapat menikmati nasi tahu dan sate ayam srepeh Bu Slamet, pelanggan harus terima menunggu giliran dari sejak dibuka jam 07.00. “Kalau pasrame tidak sampai jam 09.00, tapi kalau agak sepi ya baru habis jam 10.00-an,” tutur Bu Slamet.

Untuk dapat menikmati satu por­si nasi tahu dan 10 tusuk sate ayam srepeh beserta satu gelas teh manis, kita cukup membayar Rp 12.500,- Kalau dihitung-hitung dalam sehari Bu Slamet mendapatkan laba bersih tak kurang dari Rp 200.000,-

Selain dengan membatasi jum­lah porsi dalam setiap penjualan dia juga meyakinkan bahwa semuanya dia kerjakan sendiri, membeli ba­han baku sendiri kemudian diramu dengan resep andalan, warisan dari almarhum ibu mertuanya. Suaminya juga dengan setia telah membantu dan mendampingi Bu Slamet berjualan selama 17 tahun. Karena umurnya yang sudah mulai menua, mereka berdua terkadang dibantu Mas Aba­di, 30 tahun, anaknya yang keempat beserta menantunya. Namun yang disayangkan ketika anaknya ditanya mengenai kelangsungan usahanya kelak, dia menjawab hanya sekedar membantu dan tidak bermaksud un­tuk meneruskannya. “Usaha jualan ini hanya sampai saya,” Bu Slamet menambahkan sambil berekspresi sedih. Mas Abadi masih belum yakin untuk bisa melanjutkan usaha terse­but, karena selama ini semua urus­an dagangan ditangani Bu Slamet. Nampaknya Mas Abadi perlu mendapatkan dukungan mental agar mau melanjutkan usahanya tersebut. Apalagi istrinya justru sudah mem­punyai pekerjaan tetap, sementara dia hanya membantu di tempat ibu­nya.

Keempat anak Bu Slamet yang lain sudah bekerja di luar kota dan tidak satupun yang mau meneruskan usaha jualan nasi tahu dan sate ayam srepeh. Ketika ditanya apakah Bu Slamet mau mewariskan ilmunya tersebut kepada orang lain yang mau melestarikan resep masakannya, dia merasa keberatan. Tetapi dari raut wajahnya dia juga menyayangkan usaha yang sudah dirintisnya tidak ada yang meneruskan, padahal sudah punya banyak penggemar berat dari kota-kota sekitarnya se­perti Juwana, Surabaya, Semarang bahkan juga ada yang dari Jakarta. “Kalau sudah tidak mampu berjualan saya masih bisa menikmati hari tua dari uang tabungan sendiri, ikut sama anak-anak” ujar Bu Slamet dengan yakin. Me­ngenai kelangsungan usaha nasi tahu dan sate ayam srepeh, dia menuturkan masih ada penjual lainnya meski tidak seramai usaha jualannya.

Sepi Permintaan, Ilmu Tidak Diwariskan

Di tempat lain, Ibu Karsiyatun, 42 tahun, seorang perajin gerabah asal desa Kabongan Kidul, mengeluh hidupnya hanya begini-begini saja, apalagi setelah ditinggal mati suaminya dua tahun yang lalu. Sepeninggal suaminya, dia hanya membuat gerabah mentah untuk kemudian dijual kepada Natono, adik laki-lakinya dengan harga Rp 3.500,- untuk setiap gerabah buatan­ nya yang seukuran gentong air besar (isi sekitar 25 liter). Sampai di tangan Natono, gerabah tersebut baru dibakar bersama-sama dengan gerabah dari perajin yang lain. Setelah melalui pembakaran, oleh Natono gentong terse­but dapat dijual seharga Rp 20.000,-. Jika cuaca mendukung (tidak banyak hujan turun), Bu Karsiyatun dapat memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp.90.000,- dalam sebulan. Uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan untuk membiayai sekolah kedua anaknya, Bu Karsiyatun menda­patkan kiriman uang dari anak sulungnya yang merantau berdagang di Palopo, Sulawesi Selatan.

 

Bu Karsiyatun membuat gerabah


Karsiyatun, Natono dan Karsiti adalah 3 dari enam barsaudara yang masih hidup. Ketiganya mendapatkan bekal keterampilan membuat gerabah dari orang tuanya. Meskipun mereka masih “dapat” menyambung hidup dari membuat gerabah, tetapi mereka justru tidak berharap anak anaknya me­warisi keterampilan mereka. “Jangan sampai mereka seperti orang tuanya, menderita. Biar kerja sebagai buruh di pabrik atau apa aja, asal jangan sep­erti saya yang membuat gerabah,” ujar Bu Karsiyatun. Apalagi anak-anak Bu Karsiyatun semua laki-laki, karena pada umumnya keterampilan untuk membuat gerabah diwariskan pada kaum perempuan. Meskipun yang laki-laki juga bisa saja membuat gerabah tetapi mereka lebih fokus pada proses pembakaran/ finishing dan penjualan.

Gerabah buatan mereka cenderung berukuran besar, setidaknya berka­pasitas 25 liter air, dengan tekstur agak kasar. Saat ini kebutuhan masyarakat akan gerabah buatan mereka tidaklah seramai jaman dulu karena kalah bersa­ing dengan perkakas sejenis yang terbuat dari bahan baku lain, seperti plastik dan alumunium. Dari sejak awal membuat gerabah sampai saat ini, mereka hampir tidak pernah melakukan inovasi pada model gerabah. Sebenarnya mereka membuka diri untuk membuat gerabah dengan model lain, namun hanya sebatas kalau ada pesanan.

Miris memang melihat perjuangan perajin gerabah dalam menyambung hidupnya. Pendampingan berbagai pihak peduli untuk perbaikan teknologi produksi, inovasi desain, bantuan modal maupun akses pemasaran perlu di­ lakukan agar kelangsungan produk gerabah warisan leluhur mereka tetap ter­jaga sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

UNTUK PENGUATAN REGENERASI BUDAYA BATIK LASEM

UNTUK PENGUATAN REGENERASI BUDAYA BATIK LASEM

Oleh: William Kwan HL (Direktur IPI)

Batik Lasem merupakan salah satu warisan luhur dari nenek moyang Indonesia. Dalam fungsinya sebagai bagian dari kain tradi­sional Indonesia, batik Lasem telah turut memberikan kontribusi keindahan dan keagungan seni budaya pa­kaian sekaligus membantu kesejahteraan ekonomi para pekerja dan pengusaha batik di berbagai desa di sekitar kota kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Industri batik Lasem pernah mengalami kejayaan sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia. Diper­kirakan skala industri batik Lasem mencapai posisi kelima di antara banyak industri batik di Hindia Belanda saat itu. Hal ini dapat dimengerti mengingat tingginya permintaan terhadap Batik Lasem oleh konsumen kain di Jawa, Sumatera, Bali, Gorontalo, Malaka, Suriname dan sebagainya. Namun demikian, potret industri batik Lasem pada tahun 2008 menunjukkan kondisi yang san­gat berbeda.

Jumlah pengusaha batik Lasem telah merosot dras­tis dari sekitar 120 orang (tahun 1930) menjadi hanya 26 orang (Juni 2008). Adapun jumlah perempuan pem­batik juga diperkirakan telah jauh merosot sebagaimana tampak dari dominasi pembatik berusia lanjut (rata-rata berkisar 45 tahun). Kedua hal tersebut di atas menunjukkan hambatan regenerasi industri batik Lasem, baik pada tingkat pengusaha maupun pembatik/ pengrajin. Jika tidak diatasi segera, maka hambatan regenerasi batik Lasem tersebut dipastikan akan mengancam ke­sinambungan industri dan budaya batik Lasem dalam jangka panjang.

Sebenarnya Pemerintah Daerah Kabupaten Rem­bang telah memberikan perhatian yang cukup tinggi un­tuk kelestarian budaya dan industri batik Lasem. Berba­gai jenis pelatihan teknis pembatikan (termasuk proses pewarnaan kain batik), bantuan peralatan produksi serta promosi batik Lasem melalui berbagai pameran kain tradisional, misalnya, telah dilaksanakan dengan inten­sif. Ditunjang oleh bergairahnya kembali pasar batik ditingkat nasional, berbagai bantuan tersebut telah mampu memperbaiki posisi industri batik Lasem di tengah se­ngitnya persaingan usaha batik. Batik Lasem mulai dike­nal kembali serta digemari oleh kalangan masyarakat luas di Indonesia.

Kian tingginya permintaan pasar terhadap batik Lasem menyebabkan munculnya dua fenomena sebagai berikut: a) bertambahnya jumlah pengusaha batik Lasem akibat meningkatnya minat para pemodal untuk ikut ter­jun dalam bidang usaha batik Lasem, b) para perempuan pembatik yang sebelumnya banyak menganggur mulai bekerja kembali.

Kedua hal tersebut di atas telah membantu pening­katan sumberdaya kewirausahaan, potensi inovasi in­dustri, serta penurunan angka pengangguran di kalangan perempuan pembatik yang berdomisili di berbagai desa tertinggal di Kabupaten Rembang. Selanjutnya, permint­aan yang tinggi terhadap tenaga kerja pembatik telah menyebabkan persaingan tajam antar pengusaha dalam memperebutkan tenaga kerja pembatik tersebut, terutama pembatik terampil.

Kelangkaan tenaga kerja pembatik telah merupakan sebuah masalah yang sangat nyata dan serius dalam in­dustri batik Lasem. Kesinambungan budaya dan industri batik Lasem dalam jangka panjang dapat terancam oleh kelangkaan tenaga kerja potensial tersebut. Kerja sama antar pihak yang peduli terhadap kelestarian batik Lasem amat dibutuhkan guna meningkatkan jumlah dan kualitas pengusaha maupun pembatik.

Berangkat dari keprihatinan terhadap lambatnya proses regenerasi pembatik tersebut, maka sejak April 2008 IPI mulai mempersiapkan upaya untuk mendukung berbagai pihak dalam memperkuat proses regenerasi ba­tik Lasem.

Upaya revitalisasi budaya batik Lasem tentu tidak mudah dilakukan mengingat adanya beberapa hambatan, antara lain sebagai berikut:

  1. Keterbatasan data sejarah dan peta budaya batik Lasem menambah sulitnya upaya penyusunan ma­teri program-program pelestarian batik Lasem.
  2. Rendahnya kesejahteraan ekonomi para pembatik meniadakan insentif generasi muda untuk mengikuti jejak orang tua mereka.
  3. Persepsi negatif generasi muda yang menganggap industri batik sebagai bidang pekerjaan yang sudah kuno, tidak menarik, dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman saat ini.
  4. Terbatasnya jumlah dan kapasitas sumber daya ma­nusia di Kabupaten Rembang untuk membantu pros­es revitalisasi budaya batik Lasem.
  5. Terbatasnya upaya promosi kepada para pihak terkait (multistakeholders) untuk bekerjasama secara siner­gis dalam rangka revitalisasi budaya batik Lasem.

Guna mengatasi ke lima hambatan di atas, IPI akan mencoba untuk melaksanakan program kegiatan sebagai berikut:

  1. Pemetaan Sosial Budaya dan Ekonomi Batik Lasem Melaksanakan kegiatan penelitian untuk mem­peroleh data yang memadai tentang aspek sosial, budaya dan ekonomi batik Lasem, antara lain a) penelitian “Sejarah Budaya Batik Lasem” dan b) penelitian “Strategi Pemberdayaan Sosial Ekonomi Perempuan Pembatik Lasem.”
  2. Pendidikan untuk Regenerasi Pembatik Lasem Mengembangkan sebuah model pendidikan budaya batik Lasem yang praktis dan efektif untuk generasi muda melalui kegiatan sebagai berikut:
    a) Pengembangan kurikulum muatan lokal budaya batik Lasem di 4 (empat) sekolah dasar proyek percontohan di kecamatan Pancur, yaitu SD Je­ruk, SD Doropayung, SD Warugunung.
    b) Pengembangan Sanggar Anak di 5 (lima) desa proyek percontohan, yaitu desa-desa Jeruk, Kara­skepoh, Doropayung, Tuyuhan dan Warugu­nung.
  3. Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Pembatik di Desa Jeruk Pendampingan IPI terhadap Desa Jeruk akan dilanjutkan guna penciptaan lapangan kerja, pening­katan pendapatan ekonomi dan kesadaran kritis masyarakat desa melalui pengembangan desa Jeruk sebagai sebuah desa wisata batik rakyat.

Guna melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, IPI berharap dapat bekerja sama dengan semua pihak yang peduli atas kelestarian budaya batik Lasem, baik di Kabupaten Rembang maupun di daerah-daerah lainnya. Semoga batik Lasem akan semakin berkembang di masa yang akan datang sehingga dapat memperkuat kesejahteraan ekonomi dan kesadaran budaya di Kabu­paten Rembang.

PAWALA

Dalam kegiatannya, IPI berjejaring dengan banyak lembaga untuk menyebarluaskan wacana dan kesadaran pluralisme serta pendampingan masyarakat. Salah satu lembaga yang konsen dalam hal tersebut adalah Pawala. Berikut wawancara tertulis dengan M. Tamtana (MT), Ketua Pawala.

Biodata:
Nama: M. Tamtana (Tan Djing Tam)
Tempat Tanggal Lahir: Lasem, 19 Januari 1947
Alamat: Jl.Kedoya Raya 99, Jakarta 11520
Telp. : 021 5802433
Organisasi : Pawala
Jabatan: Ketua

Apa it Pawala?

Pawala adalah Paguyuban Warga Lasem yang tinggal di wilayah Ja­bodetabek. Pawala didirikan pada ta­hun 2002, saat ini anggotanya kurang lebih 440 keluarga. Kegiatan Pawala antara lain dalam 1 tahun dua kali mengadakan temu kangen, yang ka­dang-kadang disertai dengan seminar mengenai kesehatan yang berhubun­gan dengan usia lanjut, misalnya os­teoporosis. Untuk 31 Januari 2009 seminar bertema UU No.23 Tahun 2009 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta cara mesra dalam berumah tangga oleh Marriage Encounter.

Apa ada kegiatan yang terkaitdengan batik Lasem?

Pawala pernah berpartisipasi dalam Gebyar Budaya Daerah Rem­bang di Kabupaten Rembang dengan tujuan untuk menggali kesenian daer­ah Rembang. Kegiatan ini diadakan oleh Himpunan Keluarga Rembang (HKR). Adapun kegiatan yang terkait langsung dengan batik Lasem, yaitu membantu promosi antara lain den­gan berpartisipasi dalam Pesona Batik Lasem pada 30 Agustus – 3 September 2006 di Permata Berlian Residence, men-display batik Lasem di Rumah Rembang Monas, serta membantu display perajin batik Lasem dalam pameran di Jakarta dan di Shanghai dengan Menteri Perdagangan pada tahun 2006 (Batik Purnomo).

Bagaimana perkembangan industri batik Lasem saat ini?

Industri batik Lasem sekarang sedang bergerak maju setelah keter­purukannya yang mendalam sejak era 1970-an sampai dengan awal ta­hun 2000-an. Fasilitas atau dukungan Pemda Kabupaten Rembang akan hal ini harus diberi acungan jempol, juga dukungan dari IPI serta Wastrapre­ma.

Kalau dibandingkan dengan industri batik masa lalu, apa kelebihan dan kekurangan yang ada saat ini?

Dibandingkan dengan masa lalu, kelebihannya adalah banyaknya ino­vasi dalam disain (corak), kombinasi warna (mengikuti selera pasar seh­ingga membuat biaya produksi lebih murah) dan tentunya hal ini men­jadi salah satu kunci merebut pasar. Adapun kekurangannya, dalam hal mutu. Mutu dalam hal ini adalah da­lam hal corak, pemilihan canting, dan pewarnaan. Dalam hal corak, terjadi pergeseran motif. Canting yang sering dipakai sekarang adalah canting yang besar. Sedangkan warna ”Lasem” tak seotentik dulu, karena bahan pewar­nanya yang dipakai lain dari waktu yang lalu.

Apa yang harus dilakukan oleh pengusaha batik Lasem untuk menutupi kekurangan industri batik Lasem saat ini?

Usaha-usaha yang harus dilaku­
kan antara lain:

  1. Dinas Indagkop dan Dinas Pari­wisata Kabupaten Rembang perlu membuat sayembara dalam hal adu corak asli dan adu mutu perajin batik Lasem.
  2. Perlu juga dibuat peta corak ba­tik Lasem ”lama” untuk referensi para perajin dalam menggali lagi keindahan karya leluhur Lasem.
  3. Dinas Indagkop Kabupaten Rem­bang harus mendorong para usa­hawan batik Lasem untuk mau meningkatkan mutu dalam arti yang sebenarnya, yaitu diawali dari disain motif, pemilihan kain, pemilihan kombinasi warna, dan pemilihan perajin yang harus membatik. Proses produksi yang selalu diiringi kontrol kualitas dalam setiap tahap, yaitu: (a) formulasi campuran lilin agar tak mudah retak bila kain dilipat tetapi juga tidak lengket bila kain dilipat atau ditumpuk, batik yang hendak dicelup warna mutlak dikontrol pecah lilinnya, bila ada harus disolder supaya malamnya meleleh, (b) pemilihan kehalu­san canting, (c) formulasi bahan pewarna dengan timbangan tepat dan kepekatan larutan juga harus tepat dan dikontrol secara berka­ la apabila melakukan pencelupan dalam jumlah banyak, (d) bila batik telah selesai harus dipikirkan packing-nya dan apakah pengirimannya tepat waktu, (e) mempersiap­ kan bila ada complain dari para pemakai.
  4. Dinas Indagkop Kabupaten Rembang perlu menda­ tangkan perancang mode untuk memberikan asistensi dalam disain, baik untuk busana masa kini, trend warna, dan sebagainya.(
  5. Dinas Indagkop dan Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang bekerja sama dengan Yayasan Batik In­donesia (YBI), IPI, Wastaprema, kolektor batik, dan sebagainya, membuat peringkat mutu batik Lasem dengan cara memberi pengusaha kelas bintang sep­erti halnya pada klasifikasi hotel (bintang 1, bintang 2, dan seterusnya).

Dengan begitu, maka pengusaha dengan bintang kecil harus terus berusaha meningkatkan mutunya agar kelasnya dapat naik.

Bila dilihat dari jumlahnya, pengusaha batik saat ini sangat sedikit dibandingkan dengan pengusaha batik ta­hun 1970-an. Mengapa demikian?

Kemunduran atau penurunan jumlah pengusaha batik Lasem disebabkan oleh:

  1. Urbanisasi. Putra-putri Tionghoa Lasem (termasuk pengusaha batik) setamat SMP pergi ke kota besar untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Mereka yakin hanya dengan pendidikan tinggi, ma­nusia bisa lebih dihormati dan dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah mencari uang/ penghidupan. Sebagian besar dari mereka yang belajar di kota-kota besar tersebut akhirnya bekerja dan menetap di kota-kota besar yang pada ujungnya juga mengajak ayah dan ibunya yang mulai sepuh untuk pindah ke kota besar pula. Jadi, terjadi pengurasan sumber daya ma­nusia di Lasem.
  2. Segi keekonomisan usaha. Pada era 1970-an usaha batik Lasem nampak mulai kurang menjanjikan kar­ena beberapa hal berikut: (a) konsumen batik Lasem yang utamanya adalah perempuan Tionghoa berusia lanjut (biasa disebut encim) semakin berkurang, kar­ena permintaan berkurang maka omset perusahaan pun terus merosot, (b) proses membuat batik tulis di Lasem yang membutuhkan waktu berbulan-bulan dalam era inflasi tinggi saat itu, dalam kondisi omset yang terus merosot membuat usaha batik tulis tidak menjanjikan lagi, (c) ditambah mulai munculnya ba­tik printing yang jauh lebih murah menambah frustasi para pengusaha.
  3. Tak ada R & D dalam disain motif dan pewarnaan ba­
    tik Lasem sehingga tak menarik generasi muda untuk
    mengenakannya.

Penurunan jumlah pengusaha batik Lasem tentu saja menyebabkan tingginya angka pengangguran di Lasem. Bagaimana menyikapi hal ini?

Saya melihat bukan hanya batik Lasem yang menyu­rut dan meskipun belum sampai punah, kerajinan tangan lain di Lasem malah sudah punah, seperti kerajinan emas (di Lasem disebut kemasan), kerajinan tembaga ketok (di Lasem disebut sayang) yang dahulu sentranya di Jolo­ tundo, industri genteng yang dahulu sentranya di daerah Gedongmulyo, industri sepatu yang dahulu sentranya di daerah Gedongmulyo, industri hio yang dahulu sentranya di daerah Sumurkepel.

Merosotnya industri kerajinan di kota kecil ini terjadi di banyak kota kecil di Indonesia. Fenomena ini sebetul­nya sudah menjadi problem dunia di mana kaum muda di pedesaan atau kota kecil pergi berurbanisasi ke kota besar yang penuh gemerlap dan menjanjikan. Di Jepang, pera­jin di pedesaan diberi uang insentif bulanan selama mer­eka masih mau berkarya di pedesaan. Sewaktu Gus Dur menjadi presiden pernah ada pertemuan dengan Pengurus Kadin Pusat dan Daerah di Gelanggang Mahasiswa Kun­ingan Jakarta. Saya yang sewaktu itu adalah Ketua Divisi Meubel dan Kerajinan Tangan DPP Kadin pernah me­nyerahkan paper yang diterima oleh Prof.Dr.Emil Salim bahwa bila Indonesia mau mengatasi banyak penganggu­ran, kerajinan tangan adalah salah satu kuncinya. Tangan putra dan putri Indonesia sangat terampil dalam bidang ini, kreativitasnya luar biasa, bahan dasarnya banyak disekitar perajin dan Indonesia sangat kaya dalam motif dan hias. Dalam paper tersebut saya mengusulkan agar di setiap kecamatan harus ada SMK unggulan daerah yang lulusannya dapat dipastikan akan menjadi perajin yang menguasai ilmu bahan, cara pengolahan bahan, cara disain yang baik, cara pengemasan, dan lain sebagainya sehingga hasil karya akan berkualitas bagus, dan dengan demikian akan mudah diterima oleh pasar. Harap diingat, mungkin 98% perajin Indonesia dan pengusaha kerajinan Indonesia tidak memiliki latar belakang sekolah kerajinan yang di­gelutinya. Umumnya mereka berusaha karena ikut-ikutan dan hanya sedikit yang serius belajar melalui buku atau ikut kursus-kursus singkat untuk menguasai bidangnya.

Apa rencana Pawala untuk membantu mengembangkan industri batik Lasem?

Dalam waktu dekat ini belum ada, karena anggota Pawala tidak ada yang expert dalam perbatikan. Kami ada rencana membuat showroom batik Lasem di Lasem untuk membantu pemasaran dan pengenalan batik Lasem bagi perajin batik yang produknya perlu dipromosikan.

Regenerasi Pembatik Tuban

Regenerasi Pembatik Tuban

Potret Uswatun Hasanah

Tekstil tradisional saat ini boleh dibilang lagi “naik daun”. Berbagai jenis dan motif tek­stil tradisional dapat kita temui di pameran-pameran dan toko dalam bentuk baju, perlengkapan interior, maupun kain atau sarung. Harga yang ditawarkan juga sangat kom­petitif, tergantung dari jenis tekstil yang dipakai dan bentuknya. Jenis tekstil tradisional yaitu batik, tenun, songket, sulam usus, kasab, dan lain sebagainya.

Tingginya permintaan harus di­kuti oleh kualitas yang meningkat pula. Banyak pengusaha yang sekedar mengejar kuantitas dan keun­tungan rupiah saja, tanpa mau men­ingkatkan kualitas produksi. Hal ini menjadi salah satu alasan turunnya pamor tekstil tradisional yang diikuti dengan turunnya permintaan. Se­lain hal tersebut, keberadaan tekstil tradisional bergantung pada jumlah pengrajinnya. Banyak anak muda yang sudah tidak tertarik lagi men­jadi pengrajin kain tradisional. Salah seorang yang prihatin dengan lang­kanya jumlah pembatik dan penenun adalah Uswatun Hasanah. Uswatun, begitu ia biasa dipanggil bukanlah seorang pembatik yang handal. Ke­luarganya pun bukan keluarga pem­batik. Dari kecil keterampilan yang dimilikinya adalah menenun gedog yang diajarkan secara turun-temurun. Suatu saat Uswatun dibuat penasaran dengan batik, karena di kampungnya di Desa Kedungrejo, Kerek – Tuban, dikenal sebagai penghasil batik te­nun, tapi ia belum bisa membatik.

Tahun 1993, Uswatun mem­beranikan diri pergi ke daerah Karang Semandung, Tuban untuk belajar membatik. Ia menemui salah satu pengusaha batik di daerah tersebut, yaitu Ibu Emi, pemilik batik Afra Karang. Uswatun minta Ibu Emi sudi mengajarinya membatik bahkan rela berkorban apapun asal ia bisa mem­batik. Melihat kegigihan Uswatun, akhirnya Ibu Emi sudi ‘menularkan’ keterampilan batik yang dimilikinya kepada Uswatun. Oleh Ibu Emi, Us­watun dilatih terjun langsung pada proses produksi batik mulai dari bel­ajar menggambar motif, nglengkreng, nerusi, ngiseni, nembok, dan mewar­na. Hal tersebut dilakukan Uswatun dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 1993. Setelah dirasa cukup, Uswatun pulang ke desanya.

Tanggal 22 November 1993, menjadi hari yang bersejarah bagi Uswatun, karena pada hari itulah untuk pertama kalinya ia mendapat pe­sanan batik untuk seragam Pamong Praja Tuban. Bukan main senangnya ia karena mulai dipercaya pihak lain. Dibantu adiknya yang sudah lebih dulu belajar mambatik, Uswatun mengerjakan pesanan tersebut den­gan rapi, teliti, dan tepat waktu. Ia tak ingin pemesan kecewa terhadap produknya. Di sela-sela mengerja­kan pesanan, Uswatun masih tetap berlatih mengembangkan keterampi­lan batik yang ia miliki. Ia pernah mencoba membuat 100 buah kaos untuk dibatik, tapi hasilnya banyak yang rusak. Setelah itu ia membeli lagi 100 buah untuk belajar warna, hasilnya kurang memuaskan dan juga banyak yang rusak. Uswatun sendiri tak mudah menyerah. Awal­ nya usahanya mengembangkan batik tidak mendapatkan dukungan dari Widodo, suaminya. Bagi Widodo usaha yang dilakukan Uswatun ini tidak menarik dan hanya akan meng­ hamburkan uang. Namun, secara perlahan tapi pasti, Uswatun terus menerima pesanan batik dan senan­tiasa mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Ia menunjukkan kepada suaminya, bahwa apa yang dilakukan ada manfaatnya.

Dari pengalaman ketika mem­peroleh ilmu dan pengetahuan mem­batik gratis dari Ibu Emi, Uswatun ingin sekali menularkan ilmu yang telah dimilikinya untuk masyarakat Kedungrejo, terutama anak-anak. Ia ingin agar batik dan tenun gedog Kedungrejo tidak punah. Pada tahun 1994, mulailah Uswatun mengajak anak-anak untuk membatik di ru­mahnya. Pertama-tama anak-anak itu diajak jalan-jalan ke tempat wisata secara gratis. Sudah pasti, anak-anak tersebut senang, dan minta jalan- jalan gratis kembali. Uswatun setuju, asalkan mereka berlatih batik di ru­mahnya. Sejak saat itulah anak-anak yang berusia sekitar SD sampai SMP (lebih kurang 10 orang) mulai bela­jar batik di rumah Uswatun. Awal­ nya mereka hanya diajarkan cara menggambar motif, nglengkreng, isen-isen, nerusi dan nembok saja. Berbagai tingkatan dilakukan secara bertahap. Misalnya seorang anak yang belum mahir nembok halus dan rapi tidak akan naik jenjang belajar nerusi. Tapi, bila mereka bisa nem­bok dengan halus, rapi dan disiplin, mereka akan naik ke jenjang ngleng­ kreng dan gambar motif (Catatan: tingkatan-tingkatan batik di Tuban adalah nembok, nerusi, isen-isen, nglengkreng dan gambar motif). Se­lanjutnya, jika mereka sudah mahir, mereka boleh membatik di kaos. Masing-masing memperoleh jatah 10 lembar dan rata-rata selesai dalam waktu sebulan. Jika kaos yang mereka batik laku, mereka memperoleh imbalan yang hanya boleh digunakan untuk jajan dan membeli buku tulis. Uswatun sengaja tidak membiasakan anak-anak dengan upah, karena mer­eka bukan pekerja, melainkan berla­tih membatik. Kalau kebetulan hasil batiknya dibeli orang, anak-anak tersebut memperoleh uang sebesar harga kain dikurangi bahan. Jumlah ini relatif lebih sedikit dibanding­kan dengan honor pembatik seki­tar Rp 4.000,00 sampai dengan Rp 60.000,00 per lembar yang dikerja­ kan selama 2 sampai 3 hari.

Makin lama usaha batik Uswa­tun makin besar. Hal ini diikuti den­gan jumlah anak yang belajar mem­batik meningkat menjadi 60 orang. Anak-anak tersebut datang sendiri, membatik dan membersihkan tempat sebelum pulang. Kondisi seperti ini menjadi pemandangan sehari-hari di rumahnya. Uswatun pun tidak mematok anak-anak tersebut harus berlatih berapa jam sehari, karena bagi Uswatun berlatih membatik adalah bermain bagi anak-anak. Jadi terserah anak-anak yang menentu­ kan berapa lama mereka akan ber­latih. Demikian juga dengan motif batik, diserahkan sepenuhnya kepada anak-anak. Satu hal yang selalu Us­watun tanamkan kepada anak-anak adalah sopan kepada orang lain dan disiplin dalam bekerja. Ini terbukti, ketika anak-anak berlatih membatik, merekaserius, jarang bercanda den­gan teman lain, selalu mengontrol pekerjaannya sendiri dan bersama-sama mereka membersihkan tempat latihan membatik.

Selain membatik, anak-anak juga dilatih Uswatun belajar menari dan ludruk, bahkan mereka pernah manggung di Bali. Uswatun juga mempunyai keinginan agar budaya yang ada di Desa Kedungrejo tidak punah. Dan manurutnya yang poten­sial mempertahankan budaya terse­but adalah anak-anak.

Melihat keberhasilan dan kegigihan Uswatun, suaminya mu­lai mendukung kegiatan Uswatun. Hal ini ditunjukkan Widodo dengan membantu menjual kain batik dan te­nun produksi Uswatun. Apalagi keti­ka suaminya tahu bahwa proses me­warnai batik ada seninya tersendiri, terutama ketika mencampur warna-warna, makin tertariklah ia. Mulai saat itu suaminya meninggalkan usa­ha membuat tahu, dan mendukung serta membantu seluruh kegiatan dan usaha yang dilakukan Uswatun.

Salah satu faktor pelestarian ke­budayaan yang ada di desa Kedun­grejo, Tuban adalah berkat Uswatun. Tidaklah berlebihan di tengah kes­ederhanaan dan kerendahan hatinya tersimpan potensi yang hebat seba­gai penyelamat budaya setempat. Kapan kita mengikuti jejaknya untuk menyelamatkan kebudayaan di ling­kungan kita sendiri?

Uswatun Hsanah

Pentingnya Muatan Lokal Budaya Batik Lasem Dalam Upaya Pelestarian Budaya

Pentingnya Muatan Lokal Budaya Batik Lasem Dalam Upaya Pelestarian Budaya

Oleh: Bambang Budi H., S.Pd
Kepala Sekolah SD N Doropayung I



Untuk mengetahui pentingnya mulok batik dalam pelestarian budaya se­harusnya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu mulok? Mulok merupakan ak­ronim dari kata muatan lokal. Muatan lokal adalah salah satu dari banyak program pen­didikan yang mengandung unsur-unsur ling­kungan alam, lingkungan sosial dan budaya yang khas di daerah yang seyogyanya dipela­jari dan dikuasai oleh siswa di daerah terse­but.

Sesuai dengan SK Mendikbud No.0412/U/1987 tentang penerapan muatan lokal, dikurikulum Sekolah Dasar, muatan lokal di­artikan sebagai program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, sosial, budaya, serta kebu­tuhan pembangunan daerah yang perlu dia­jarkan kepada siswa. Isi dalam pengertian di atas adalah bahan pelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan muatan lokal, sedang media penyampaian merupakan metode dan sarana yang digunakan dalam penyampaian isi muatan lokal.

Jika dilihat dari komponennya, kurikulum muatan lokal berisikan suatu bahan kajian dari mata pelajaran yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan yang bersangkutan. Untuk mempelajari dan mengem­bangkan muatan lokal diperlukan sumber bacaan dan nara sumber yang memahami bahan kajian sumber be­lajar lainnya yang ada atau tersedia di lingkungan seki­tar yang merupakan media penyampaian bahan muatan lokal. Karena itu, dipandang dari komponen kurikulum, muatan lokal dapat berupa isi kurikulum dan media pe­nyampaiannya.

Kedudukan Muatan Lokal Dalam Kurikulum Sekolah Dasar

Muatan lokal dalam kurikulum Sekolah Dasar dapat merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri atau ba­han kajian suatu mata pelajaran yang telah ada. Sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, muatan lokal mempunyai alokasi waktu sendiri. Sedangkan sebagai bahan kajian mata pelajaran, muatan lokal dapat sebagai tam­bahan bahan kajian dari mata pelajaran yang telah ada atau disampaikan secara terpadu dengan bahan kajian lain yang telah ada. Karena itu mulok dapat dan tidak dapat diberikan alokasi waktu tersendiri. Muatan lokal sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri tentu dapat diberikan alokasi jam pelajaran, sebagai contoh pelajaran bahasa daerah.

Mulok Batik

Di Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Rembang, Kurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan (KTSP), mu­atan lokal merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, seperti Bahasa Jawa (Daerah) sebagai mulok propinsi, Bahasa Inggris sebagai mulok Kabupaten. Sementara mu­lok sekolah ada tiga jenisyang perlu dipilih dan ditetap­kan di sekolah dasar, antara lain: Batik Tulis, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta Maritim.

Sesuai dengan kondisi lokasi sekolah kami (SD Ne­geri Doropayung I, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rem­bang), mulok batik tulis merupakan pilihan yang tepat sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri dan diberi ruang waktu serta dibuat kurikulum muatan lokal oleh sekolah sendiri.

Pentingnya Mulok Batik Tulis

(a) Ditinjau dari letaknya, SDN Doropayung I berada di Desa Doro­payung yang berbatasan dengan Desa Karasgede atau selatan Kota Lasem juga berdekatan dengan Sun­gai Babagan yang menjadi akses lalu lintas dari lautan dengan kota di masa itu. Adanya interaksi antara lingkungan sosial, alam, dan budaya membuat para penduduk, khususnya perempuan bekerja sebagai pembatik tangan (batik tulis) sampai dengan sekarang. Mengapa banyak perem­puan bekerja sebagai pembatik? Ya, karena pekerjaan membatik membu­tuhkan ketelitian lebih, kehalusan, dan keindahan. Kota yang dekat de­ngan Desa Doropayung adalah Kota Lasem yang hingga sekarang masih terkenal sebagai Kota Batik Lasem. Lasem hingga sekarang masih terke­nal sebagai kota batik tulis. Batik Lasem sangat populer dengan batik pesisiran Laseman. Batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat. Terlebih lagi, perkem­bangan batik Laseman juga dipen­garuhi unsur dari negeri Tiongkok dan Champa.

(b) Krisis Regenerasi Pembatik. Banyaknya orang Cina dan Champa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi budaya yang positif dan kaya, salah satunya ada­ lah seni batik itu sendiri. Batik Lase­man sendiri pernah mengalami masa kemashyuran dan kejayaan produksi dan pemasarannya pada zaman dahu­lu. Saat ini batik Lasem mengalami kemerosotan karena adanya persa­ingan pasar atau dalam hal tuntutan intensitas kreasi dan produktifitas diera yang modern ini. Meski demikian hingga kini masih dapat kita temui batik Lasem mewarnai perbatikan nasional. Karena banyaknya pengu­saha batik yang mengalami kemerosotan, maka banyak pengusaha batik yang gulung tikar dan alih usaha, dan pada akhirnya banyak pekerja batik kehilangan pekerjaan. Perusahaan batik yang tersebar di Kecamatan Lasem dan Pancur tinggal beberapa perusahaan yang bertahan, akibatnya generasi pekerja batik terputus se hingga pekerja batik yang kita jumpai tidaklah banyak, tinggal yang tua-tua saja dengan rata-rata usia di atas 40 tahun. Ini memperkuat adanya krisis regenerasi pembatik dan kelestarian budaya batik Lasem.

Materi Mulok Batik dan Sistem Pengajarannya

Mulok batik merupakan matapelajaran yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, bahan kajian mulok batik telah disusun dalam sebuah kuriku­lum muatan lokal batik. Materi diberi­kan sesuai dengan tingkatan usia atau kelas, dan dari tingkat yang mudah ke tingkat yang sukar. Adapun sistem pelajarannya dapat menggunakan multi metode, yaitu menggunakan berbagai macam teknik mengajar dalam proses belajar mengajar serta berbagai model pembelajaran yang kontekstual, di mana belajar dengan dunia nyata serta aktif dan menga­lami sendiri. Mengingat mulok batik membutuhkan dana yang cukup be­sar, maka model pembela­jaran ko­operatif juga tepat ataupun bisa jadi dengan menggunakan PAKEM.

Tanggapan dan Harapan Murid dan Guru atau Sekolah

(a) Murid

Tanggapan murid terhadap mu­lok batik antusias sekali. Mereka bergembira dan merasa senang sekali karena mendapat kesempatan untuk mengapresiasikan cipta rasa seninya ke mata pelajaran mulok batik.

(b) Guru

Guru merasa bangga pada siswa dengan adanya mulok batik tersebut, sebab dimasukkannya mulok batik, guru tidak hanya mulai memperke­nalkan apa yang disebut sandang atau pakaian dan apa fungsinya, tetapi lebih dari itu guru mengalirkan teknologi serta budaya setempat ke­pada siswa.

(c) Sekolah

Sekolah sebagai satuan pendidi­kan yang memasukkan mulok batik ingin mengajak berbagai pihak me­lihat ke belakang, mengapa ba­nyak anak muda yang urbanisasi atau mengapa banyak anak yang menjadi PRT di kota besar atau di negara lain. Pernahkan terpikir di benak hati kita bagaimana hidup mereka di kota be­sar jika tidak berhasil mengadu na­sib. Urbanisasi terjadi bukan karena di kota banyak lowongan pekerjaan, tetapi lebih dari itu, karena siswa atau anak tidak mengenal kondisi alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya. Agar siswa menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungan­ nya sendiri, SDN Doropayung I ber­harap kepada semua pihak agar ikut serta memberikan andil besar kepada SDN Doropayung I agar mulok ba­tik tulis tetap berjalan di sekolah dan tidak putus mata rantainya sebagai tradisi budaya yang berkembang dimasyarakat. Jika daerah batik tulis dikemas menjadi daerah pariwisa­ta bagi masyarakat daerah Lasem, Pancur dan kawasan sekitarnya, ka­wasan tersebut menjadi aset besar bagi daerah untuk mendulangkan de­visa bagi daerah. Dalam hal ini SDN Doropayung I siap menjadi objek karya wisata, baik dari dalam mau­pun luar daerah.

Pelatihan Guru : Pendidikan Budaya Batik Lasem

Sebagai langkah persiapan pengembangan pelajaran muatan lokal budaya batik Lasem (membatik) di Kabupaten Rembang, Institut Pluralisme Indo­nesia (IPI) bekerja sama dengan Di­nas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Rembang mengadakan Pelatihan Guru: ”Pendidikan Bu­daya Batik Lasem”. Sebagian besar peserta pelatihan adalah guru-guru yang sebelumnya ikut dalam acara sosialisasi muatan lokal (mulok) bu­daya batik Lasem (membatik) yang diadakan di aula Diknas pada tanggal 22 Juni 2008.

Pelatihan Guru dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada tanggal 9, 10, dan 12 Juli 2008. Pelaksanaan pelatihan hari I bertempat di SDN Je­ruk, selebihnya dilanjutkan di Sang­gar KUB Batik “Srikandi Jeruk”. Sebanyak 26 orang guru dari 22 SD menjadi peserta pelatihan den­gan perincian: 2 SD dari Kecamatan Sluke, 5 SD dari Kecamatan Pancur, 2 SD dari Kecamatan Rembang, dan 13 SD dari Kecamatan Lasem.

Apa itu Batik Lasem?

Pada hari pertama, William Kwan HL, Direktur IPI, memberi­kan pemaparan tentang sejarah batik di Indonesia dan ragam hias batik Lasem. Dalam paparan tersebut dika­takan bahwa Rembang lebih berun­tung daripada kota batik lainnya kar­ena dalam sejarah batik Lasem ada bukti tertulis di Kitab Badra Santi. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Puteri Na Li Ni (istri Bi Nang Un) dari Champa (catatan: sekarang masuk Vietnam) mengajarkan mem­batik pertama kali di Lasem pada ta­hun 1413 Masehi. Walaupun hal ini masih diperdebatkan karena sampai sekarang pengaruh budaya Champa pada ragam hias batik Lasem belum diketahui.

Dalam sesi ini William Kwan HL juga menjelaskan mengenai rag­am hias dan isen-isen batik Lasem, diantaranya: latohan, ukel, tanahan, palangan, dan lain sebagainya. Dis­amping ragam hias batik Lasem yang dikenal masyarakat umum, seperti: Kendoro-Kendiri, Baganan, Banji Tambal, dan Lokcan. Ada beberapa ragam hias yang nama dan bentuknya mirip dengan batik pesisir lainnya, sehingga agak susah membedakan ragam hias batik khas Lasem dengan batik pesisir dari daerah lain seperti Juwana, Cirebon, dan Pekalongan.

Belajar Mencanting

Hari pertama menjadi sesi teori budaya batik Lasem. Pada hari kedua, peserta diajak berkelil­ing Sanggar KUB Batik “Srikandi Jeruk” untuk mengenal alat, bahan, dan proses membatik. Para anggota KUB dan Dyah Rosina, salah satu staf IPI, dengan setia mendampingi maupun menjelaskan nama alat dan fungsinya kepada peserta. Kemudian peserta menggambar pola batik pada kain berukuran 20 X 20 cm, yang sebelumnya pola batik telah mereka gambar pada kertas HVS di rumah masing-masing sebagai tugas peserta pelatihan.

Selesai menggambar pola batik di kain, peserta mulai belajar men­canting. Di sinilah peserta mengeluh susahnya mencanting karena ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar peserta. “Dari­ pada susah-susah mencanting, lebih baik meminta pembatik mengerja­kannya, nanti gampang upahnya,” kata Wahyudi (guru SDN Kabon­gan Kidul) sambil bercanda melepas ketegangan para peserta. Ada juga peserta yang sangat menikmati sesi mencanting ini, seperti Hoetomo (Kepala SDN Trenggulunan) dan Bambang (Kepala SDN Doropayung I).

Dukungan dan Harapan

Pada hari ketiga, Umy Jazilah Salim didampingi Edi Winarno dan Kusrini (staf Diknas Kabupaten Rembang) menyempatkan waktu me­nemui peserta pelatihan. Umi selaku Ketua Dekranasda Kabupaten Rem­bang, memberikan motivasi penuh kepada peserta untuk berlatih den­ gan sungguh-sungguh supaya dapat mengajarkan membatik dengan baik kepada anak didiknya. Peserta juga minta dukungan dari Dekranasda da­lam pengembangan mulok membatik (budaya batik Lasem) termasuk un­tuk pengadaan alat dan bahan batik.

Sebagai pelengkap materi sebe­lumnya, peserta diberi materi dan mempraktekkan ngetheli dan mewarna batik. Ramini, Ketua KUB Batik ”Srikandi Jeruk” menjelas­kan, “Untuk hasil yang bagus, kain sebelum dibatik harus diketheli su­paya kotoran yang ada pada kain hilang sehingga kain akan menyerap warna secara sempurna. “Sekarang sedikit pengusaha batik yang masih melakukan proses ngetheli karena akan memperlama proses produksi”, tambah Rosi.

Pukul 12.00 WIB pelatihan ini ditutup dengan ucapan terima kasih dari peserta, diwakili oleh Hoetomo kepada KUB dan IPI. Begitu pula Ramini yang mewakili KUB dan Rosi mewakili IPI memberikan uca­pan terima kasih atas partisipasi guru-guru dalam mengikuti pelatihan ini. Dan peserta pulang dengan harapan yang sama bahwa mulok membatik dapat dilaksanakan di sekolahnya. Semoga terwujud!

Tentang Muatan Lokal Budaya Batik Lasem

Keprihatinan akan minimnya generasi muda Kabupaten Rembang yang menekuni pekerjaan sebagai pembatik sudah lama mengemuka, baik melalui media massa maupun dalam diskusi-diskusi pihak terkait industri batik Lasem. Tetapi belum ada langkah nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut. Akhirnya muncul gagasan dan keberanian dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Rembang untuk mengembangkan pelajaran muatan lokal (mulok) budaya batik Lasem. Bekerja sama dengan Institut Pluralisme Indonesia (IPI) dan pihak terkait lainnya, saat ini muatan lokal budaya batik Lasem sudah diterapkan di beberapa Sekolah Dasar di Kecamatan Pancur, Rembang. Berikut tanggapan dari beberapa pihak tentang pelaksanaan muatan lokal budaya batik Lasem.

Edi Winarno Kepala Bagian Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Rembang

Batik Lasem merupakan kekayaan masyarakat Rembang, sangat sayang kalau generasi muda tidak tahu sejarahnya dan tidak bisa membatik. Untuk itu, mulok budaya batik Lasem merupakan sarana mendidik anak murid untuk mandiri dan sekaligus dapat melestarikan budayanya. Diknas akan berusaha secara maksimal menyiapkan kurikulum dan sarana untuk mulok di sekolah. Diknas juga berharap masyarakat, khususnya pengusaha untuk ikut serta dalam menyukseskan upaya pengembangan mulok budaya batik Lasem ini. Pengusaha dapat memberikan kontribusi pengetahuan teknis, menyediakan tempat berlatih, dan membantu bahan batik di sekolah-sekolah dalam pelajaran tersebut.

Suparno Kepala Desa Tuyuhan

Saya yakin muatan lokal budaya batik Lasem akan berdampak positif bagi siswa- siswa SD N Tuyuhan, yaitu meningkatkan kreativitas anak-anak. Supaya anak-anak lebih mahir, sanggar membatik juga perlu didirikan di Tuyuhan. Selain untuk lebih melatih anak-anak di luar jam sekolah, para remaja Tuyuhan juga dapat ikut serta belajar membatik. Ke depan diharapkan remaja Tuyuhan mempunyai keterampilan membatik sehingga budaya batik Lasem tetap lestari. Selain itu, para remaja tersebut kelak juga dapat bekerja sebagai pembatik. Dan tentu saja hal ini akan meningkatkan kesejahteraan warga Tuyuhan.

Sekar Kepala Sekolah SDN Warugunung

Murid-murid sangat senang dengan diadakannya mulok budaya batik Lasem di sekolah kami, begitu juga guru-guru. Ibu Juniah, pengrajin batik di Warugunung, sudah siap membantu pelatihan batik untuk murid-murid. Untuk alat dan bahan membatik, sekolah kami telah membeli alat-alat untuk membatik seperti gawangan, kompor, dan sebagainya secara mandiri, di luar bantuan dari IPI. Mulok budaya batik Lasem cocok dengan potensi desa Warugunung yang dari dulu terkenal sebagai desa pembatik. Semoga murid-murid yang sudah lulus SD, khususnya yang tidak dapat melanjutkan ke SMP dapat bekerja sebagai pembatik daripada harus ke luar kota untuk menjadi baby sister atau pembantu rumah tangga (PRT).

Evi Maspuatun Siswa Kelas VI SDN Doropayung I

Dengan adanya pelajaran mulok membatik (budaya batik Lasem), maka saya dapat belajar membatik. Sebelumnya saya tidak bisa membatik walaupun ibu saya bekerja sebagai pembatik borongan di rumah. Ibu saya takut kalau saya membantu membatik kainnya akan rusak. Membatik adalah pelajaran yang menyenangkan. Pada waktu pertama kali mencanting, saya langsung bisa, dan malamnya tidak mbleber (mengalir dengan tidak merata), sedangkan banyak teman saya yang malamnya mbleber waktu mencanting, terutama laki-laki. Saya juga belajar motif-motif batik Lasem di sekolah, tetapi sayang buku tentang motif tersebut tidak dibagikan. Saya berharap setiap siswa mempunyai buku motif Lasem di kemudian hari.

Upaya Pengembangan Muatan Lokal Batik Lasem

Hasil lengkrengan siswa sekolah dasar negeri di Lasem

Institut Pluralisme Indonesia (IPI) setelah melakukan observasi dan sekaligus pendampingan pada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Lasem di Desa Jeruk, Keca­matan Pancur, merasakan urgensi pengembangan pelajaran muatan lokal budaya Batik Lasem di beber­ apa sekolah di Kabupaten Rembang mengingat semakin menipisnya pe­mahaman budaya batik Lasem di ka­langan generasi muda.

Kurangnya kesadaran akan arti penting budaya batik Lasem me­nyebabkan semakin berkurang pula usaha-usaha pengembangan industri batik Lasem. Akibatnya, industri ba­tik Lasem semakin sulit menyedia­kan lapangan pekerjaan dan tambah­an pendapatan/upah yang layak bagi para pekerjanya yang rata-rata meru­pakan kaum perempuan di daerah pedesaan miskin. Pada gilirannya, penurunan kesejahteraan pembatik sudah pasti akan menurunkan moti­vasi generasi muda untuk melanjut­kan tradisi pembatikan. Hal ini tentuakan mengancam kelestarian budaya batik Lasem dalam jangka panjang ke depan.

Berangkat dari keprihatinan ter­hadap kurangnya apresiasi akan bu­daya batik Lasem serta dampaknya terhadap aneka permasalahan sosial budaya dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Rembang, IPI terus beru­paya mendorong dikembangkannya pelajaran muatan lokal budaya batik Lasem di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Rembang.

Upaya pengembangan pelajaran muatan lokal di sekolah yang telah dilakukan oleh IPI dengan menggan­deng Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang adalah: Pertama, koordi­nasi dengan Dinas Pendidikan Kabu­paten Rembang, Kedua, dialog-­dialog terbatas dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, Ketiga, sosialisasi pentingnya muatan lokal bu­daya batik Lasem kepada 22 sekolah di Kabupaten Rembang yang berasal dari 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Pancur, Rembang, Pamotan, Sluke, dan Lasem, yang dilaksanakan pada bulan Juni 2008, Keempat, pelak­sanaan Training Of Trainers (TOT) Guru, yang dilaksanakan pada bulan
Juli 2008, Kelima, pembentukan Tim Perumus Kurikulum muatan lokal budaya batik Lasem di tingkat Di­nas Pendidikan Kabupaten Rembang yang hingga sekarang masih dalam proses penyelesaian. Tim Kurikulum terdiri atas 6 (enam) anggota, yaitu:
(1) SDN Sendangasri
(2) SDN Doropayung I
(3) SDN Karasgede
(4) SDN Jolotundo I
(5) SDN Trenggulunan
(6) SDN Kabongan Kidul

Keenam, mulai bulan Agustus 2008 IPI mendampingi 4 (empat) Sekolah Dasar di Kecamatan Pan­cur, yaitu SDN Doropayung I, SDN Jeruk, SDN Warugunung, dan SDN Tuyuhan. Adapun 18 sekolah lain­ nya yang tersebar di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Sluke, Kecamatan Rembang, Kecamatan Pamotan, dan Kecamatan Lasem akan didampingi langsung oleh Dinas Pendidikan Ka­ bupaten Rembang. Ke-18 sekolah tersebut adalah:
(1) SDN Karasgede
(2) SDN Gedongmulyo I
(3) SDN Pangkalan
(4) SDN Gedongmulyo II
(5) SDN Leran
(6) SDN Sumbergirang II
(7) SDN Trenggulunan
(8) SDN Sendangasri
(9) SDN Selopuro I
(10) SDN Selopuro II
(11) SDN Sumbergirang III
(12) SDN Jolotundo I
(13) SDN Jolotundo II
(14) SDN Selopuro II
(15) SDN Sumbergirang I
(16) SDN Babagan
(17) SDN Kabongan Kidul
(18) SDN Kasreman, serta UPT TK
SD Pancur.

Diharapkan dengan pengem­bangan muatan lokal budaya batik Lasem ini akan menumbuhkan keasadaran dan pemahaman budaya batik Lasem kepada generasi muda sejakdini, khususnya di Kabupaten Rem­bang.