PAWALA

Dalam kegiatannya, IPI berjejaring dengan banyak lembaga untuk menyebarluaskan wacana dan kesadaran pluralisme serta pendampingan masyarakat. Salah satu lembaga yang konsen dalam hal tersebut adalah Pawala. Berikut wawancara tertulis dengan M. Tamtana (MT), Ketua Pawala.

Biodata:
Nama: M. Tamtana (Tan Djing Tam)
Tempat Tanggal Lahir: Lasem, 19 Januari 1947
Alamat: Jl.Kedoya Raya 99, Jakarta 11520
Telp. : 021 5802433
Organisasi : Pawala
Jabatan: Ketua

Apa it Pawala?

Pawala adalah Paguyuban Warga Lasem yang tinggal di wilayah Ja­bodetabek. Pawala didirikan pada ta­hun 2002, saat ini anggotanya kurang lebih 440 keluarga. Kegiatan Pawala antara lain dalam 1 tahun dua kali mengadakan temu kangen, yang ka­dang-kadang disertai dengan seminar mengenai kesehatan yang berhubun­gan dengan usia lanjut, misalnya os­teoporosis. Untuk 31 Januari 2009 seminar bertema UU No.23 Tahun 2009 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta cara mesra dalam berumah tangga oleh Marriage Encounter.

Apa ada kegiatan yang terkaitdengan batik Lasem?

Pawala pernah berpartisipasi dalam Gebyar Budaya Daerah Rem­bang di Kabupaten Rembang dengan tujuan untuk menggali kesenian daer­ah Rembang. Kegiatan ini diadakan oleh Himpunan Keluarga Rembang (HKR). Adapun kegiatan yang terkait langsung dengan batik Lasem, yaitu membantu promosi antara lain den­gan berpartisipasi dalam Pesona Batik Lasem pada 30 Agustus – 3 September 2006 di Permata Berlian Residence, men-display batik Lasem di Rumah Rembang Monas, serta membantu display perajin batik Lasem dalam pameran di Jakarta dan di Shanghai dengan Menteri Perdagangan pada tahun 2006 (Batik Purnomo).

Bagaimana perkembangan industri batik Lasem saat ini?

Industri batik Lasem sekarang sedang bergerak maju setelah keter­purukannya yang mendalam sejak era 1970-an sampai dengan awal ta­hun 2000-an. Fasilitas atau dukungan Pemda Kabupaten Rembang akan hal ini harus diberi acungan jempol, juga dukungan dari IPI serta Wastrapre­ma.

Kalau dibandingkan dengan industri batik masa lalu, apa kelebihan dan kekurangan yang ada saat ini?

Dibandingkan dengan masa lalu, kelebihannya adalah banyaknya ino­vasi dalam disain (corak), kombinasi warna (mengikuti selera pasar seh­ingga membuat biaya produksi lebih murah) dan tentunya hal ini men­jadi salah satu kunci merebut pasar. Adapun kekurangannya, dalam hal mutu. Mutu dalam hal ini adalah da­lam hal corak, pemilihan canting, dan pewarnaan. Dalam hal corak, terjadi pergeseran motif. Canting yang sering dipakai sekarang adalah canting yang besar. Sedangkan warna ”Lasem” tak seotentik dulu, karena bahan pewar­nanya yang dipakai lain dari waktu yang lalu.

Apa yang harus dilakukan oleh pengusaha batik Lasem untuk menutupi kekurangan industri batik Lasem saat ini?

Usaha-usaha yang harus dilaku­
kan antara lain:

  1. Dinas Indagkop dan Dinas Pari­wisata Kabupaten Rembang perlu membuat sayembara dalam hal adu corak asli dan adu mutu perajin batik Lasem.
  2. Perlu juga dibuat peta corak ba­tik Lasem ”lama” untuk referensi para perajin dalam menggali lagi keindahan karya leluhur Lasem.
  3. Dinas Indagkop Kabupaten Rem­bang harus mendorong para usa­hawan batik Lasem untuk mau meningkatkan mutu dalam arti yang sebenarnya, yaitu diawali dari disain motif, pemilihan kain, pemilihan kombinasi warna, dan pemilihan perajin yang harus membatik. Proses produksi yang selalu diiringi kontrol kualitas dalam setiap tahap, yaitu: (a) formulasi campuran lilin agar tak mudah retak bila kain dilipat tetapi juga tidak lengket bila kain dilipat atau ditumpuk, batik yang hendak dicelup warna mutlak dikontrol pecah lilinnya, bila ada harus disolder supaya malamnya meleleh, (b) pemilihan kehalu­san canting, (c) formulasi bahan pewarna dengan timbangan tepat dan kepekatan larutan juga harus tepat dan dikontrol secara berka­ la apabila melakukan pencelupan dalam jumlah banyak, (d) bila batik telah selesai harus dipikirkan packing-nya dan apakah pengirimannya tepat waktu, (e) mempersiap­ kan bila ada complain dari para pemakai.
  4. Dinas Indagkop Kabupaten Rembang perlu menda­ tangkan perancang mode untuk memberikan asistensi dalam disain, baik untuk busana masa kini, trend warna, dan sebagainya.(
  5. Dinas Indagkop dan Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang bekerja sama dengan Yayasan Batik In­donesia (YBI), IPI, Wastaprema, kolektor batik, dan sebagainya, membuat peringkat mutu batik Lasem dengan cara memberi pengusaha kelas bintang sep­erti halnya pada klasifikasi hotel (bintang 1, bintang 2, dan seterusnya).

Dengan begitu, maka pengusaha dengan bintang kecil harus terus berusaha meningkatkan mutunya agar kelasnya dapat naik.

Bila dilihat dari jumlahnya, pengusaha batik saat ini sangat sedikit dibandingkan dengan pengusaha batik ta­hun 1970-an. Mengapa demikian?

Kemunduran atau penurunan jumlah pengusaha batik Lasem disebabkan oleh:

  1. Urbanisasi. Putra-putri Tionghoa Lasem (termasuk pengusaha batik) setamat SMP pergi ke kota besar untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Mereka yakin hanya dengan pendidikan tinggi, ma­nusia bisa lebih dihormati dan dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah mencari uang/ penghidupan. Sebagian besar dari mereka yang belajar di kota-kota besar tersebut akhirnya bekerja dan menetap di kota-kota besar yang pada ujungnya juga mengajak ayah dan ibunya yang mulai sepuh untuk pindah ke kota besar pula. Jadi, terjadi pengurasan sumber daya ma­nusia di Lasem.
  2. Segi keekonomisan usaha. Pada era 1970-an usaha batik Lasem nampak mulai kurang menjanjikan kar­ena beberapa hal berikut: (a) konsumen batik Lasem yang utamanya adalah perempuan Tionghoa berusia lanjut (biasa disebut encim) semakin berkurang, kar­ena permintaan berkurang maka omset perusahaan pun terus merosot, (b) proses membuat batik tulis di Lasem yang membutuhkan waktu berbulan-bulan dalam era inflasi tinggi saat itu, dalam kondisi omset yang terus merosot membuat usaha batik tulis tidak menjanjikan lagi, (c) ditambah mulai munculnya ba­tik printing yang jauh lebih murah menambah frustasi para pengusaha.
  3. Tak ada R & D dalam disain motif dan pewarnaan ba­
    tik Lasem sehingga tak menarik generasi muda untuk
    mengenakannya.

Penurunan jumlah pengusaha batik Lasem tentu saja menyebabkan tingginya angka pengangguran di Lasem. Bagaimana menyikapi hal ini?

Saya melihat bukan hanya batik Lasem yang menyu­rut dan meskipun belum sampai punah, kerajinan tangan lain di Lasem malah sudah punah, seperti kerajinan emas (di Lasem disebut kemasan), kerajinan tembaga ketok (di Lasem disebut sayang) yang dahulu sentranya di Jolo­ tundo, industri genteng yang dahulu sentranya di daerah Gedongmulyo, industri sepatu yang dahulu sentranya di daerah Gedongmulyo, industri hio yang dahulu sentranya di daerah Sumurkepel.

Merosotnya industri kerajinan di kota kecil ini terjadi di banyak kota kecil di Indonesia. Fenomena ini sebetul­nya sudah menjadi problem dunia di mana kaum muda di pedesaan atau kota kecil pergi berurbanisasi ke kota besar yang penuh gemerlap dan menjanjikan. Di Jepang, pera­jin di pedesaan diberi uang insentif bulanan selama mer­eka masih mau berkarya di pedesaan. Sewaktu Gus Dur menjadi presiden pernah ada pertemuan dengan Pengurus Kadin Pusat dan Daerah di Gelanggang Mahasiswa Kun­ingan Jakarta. Saya yang sewaktu itu adalah Ketua Divisi Meubel dan Kerajinan Tangan DPP Kadin pernah me­nyerahkan paper yang diterima oleh Prof.Dr.Emil Salim bahwa bila Indonesia mau mengatasi banyak penganggu­ran, kerajinan tangan adalah salah satu kuncinya. Tangan putra dan putri Indonesia sangat terampil dalam bidang ini, kreativitasnya luar biasa, bahan dasarnya banyak disekitar perajin dan Indonesia sangat kaya dalam motif dan hias. Dalam paper tersebut saya mengusulkan agar di setiap kecamatan harus ada SMK unggulan daerah yang lulusannya dapat dipastikan akan menjadi perajin yang menguasai ilmu bahan, cara pengolahan bahan, cara disain yang baik, cara pengemasan, dan lain sebagainya sehingga hasil karya akan berkualitas bagus, dan dengan demikian akan mudah diterima oleh pasar. Harap diingat, mungkin 98% perajin Indonesia dan pengusaha kerajinan Indonesia tidak memiliki latar belakang sekolah kerajinan yang di­gelutinya. Umumnya mereka berusaha karena ikut-ikutan dan hanya sedikit yang serius belajar melalui buku atau ikut kursus-kursus singkat untuk menguasai bidangnya.

Apa rencana Pawala untuk membantu mengembangkan industri batik Lasem?

Dalam waktu dekat ini belum ada, karena anggota Pawala tidak ada yang expert dalam perbatikan. Kami ada rencana membuat showroom batik Lasem di Lasem untuk membantu pemasaran dan pengenalan batik Lasem bagi perajin batik yang produknya perlu dipromosikan.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *