PENDEKATAN KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUB) UNTUK PENGEMBANGAN BATIK TULIS LASEM DI KABUPATEN REMBANG

PENDEKATAN KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUB)
UNTUK PENGEMBANGAN BATIK TULIS LASEM
DI KABUPATEN REMBANG

Oleh: William Kwan HL*

Industri batik tulis Lasem merupakan pendukung ekonomi masyarakat yang penting di Kabupaten Rembang, khususnya di Kecamatan Lasem, pada masa prakemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun 1930 diperkirakan industri batik Lasem didukung oleh keberadaan dari 120 unit usaha batik. Sebagian besar rumah tangga di Lasem saat itu terlibat dalam kegiatan produksi dan penjualan batik. Peran penting usaha batik Lasem tersebut terus berlanjut sampai tahun 1970-an, di mana masih terdapat sekitar 144 orang pengusaha batik. Selanjutnya, perkembangan industri batik Lasem turun naik namun dengan kecenderungan terus menurun sampai dengan tahun 2004. Banyak perusahaan batik Lasem tutup usaha akibat kalah bersaing dengan batik printing, terkena imbas krisis ekonomi berulang kali, terutama pada tahun 1997–2002, kegagalan dalam regenerasi usaha dan sebagainya. Sebagai akibatnya, jumlah perusahaan batik Lasem sekarang merosot menjadi 20 unit saja (Februari 2007).

Berkat kian pulihnya daya beli masyarakat dan dukungan penuh Pemda Kabupaten Rembang dalam promosi pemasaran ke berbagai acara pameran dan promosi penjualan di berbagai daerah (Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bali, Lampung, Makasar, dan sebagainya), kinerja usaha industri batik Lasem kembali menunjukkan peningkatan sejak tahun 2004. Namun demikian, ekspansi industri tersebut sebenarnya masih terlampau kecil untuk mampu menyerap seluruh tenaga kerja produktif batik yang saat ini kebanyakan menganggur di 25 desa di kabupaten Rembang.

Berdasarkan perkiraan kasar IPI, sebagai hasil pengamatan di Kabupaten Rembang selama periode Agustus 2006–Februari 2007, tenaga kerja trampil pembatikan yang menganggur atau bekerja di pekerjaan non-batik diperkirakan cukup besar yaitu lebih dari 70%.

Tenaga kerja trampil batik di desa Jeruk yang menganggur adalah 69 orang (40%). Sedangkan potensi tenaga kerja trampil batik yang tidak termanfaatkan, baik karena menganggur maupun bekerja di bidang usaha non-batik, adalah 139 orang (81%). Kondisi ketenagakerjaan ini sangat memprihatinkan di tengah kesulitan ekonomi (kemiskinan) dan pengangguran tenaga kerja produktif di desa Jeruk. Keadaan serupa juga diperkirakan terjadi di sebagian besar dari 25 desa asal pembatik di Kabupaten Rembang.

Sementara itu, strategi pemberdayaan industri batik Lasem yang diterapkan berbagai instansi Pemda Kabupaten Rembang cenderung berfokus pada pemberdayaan pengusaha batik Lasem. Bantuan peralatan kerja, pelatihan teknis, permodalan dan promosi pemasaran telah diberikan kepada para pengusaha tersebut. Tidak ada yang salah dengan pilihan strategi ini. Peningkatan kapasitas peng usaha diharapkan akan mampu menyerap tenaga kerja pembatik dalam jumlah lebih besar sehingga dapat menekan angka pengangguran. Namun demikian, strategi pemberdayaan pengusaha batik ini perlu dikritisi sebagai berikut: 1. Kapasitas kewirausahaan tidak dapat ditingkatkan secara cepat. Akibatnya, dalam jangka waktu pendek, jumlah 20 orang pengusaha batik Lasem saat ini tidak dapat diharapkan untuk menyerap seluruh tenaga kerja produktif batik yang menganggur di 25 desa asal pembatik di Kabupaten Rembang.

Peningkatan jumlah pengusaha baru batik Lasem perlu dijadikan sebagai strategi pelengkap untuk pemberdayaan industri batik Lasem oleh Pemda Kabupaten Rembang saat ini. 2. Menguatnya kapasitas usaha akan meningkatkan keuntungan yang dapat diperoleh para pengusaha batik Lasem. Namun demikian, hal ini tidak berarti akan otomatis terjadi perbaikan kesejahteraan para pekerja batik berupa peningkatan upah kerja mereka. Relatif rendahnya upah pekerja batik di Kabupaten Rembang selama ini diperkirakan telah mengakibatkan turunnya mutu produksi, tidak membaiknya angka kemiskinan di pedesaan dan menghambat regenerasi pekerja batik Lasem. Generasi muda memilih untuk bekerja di sektor usaha non-batik yang menawarkan upah relatif lebih tinggi, misalnya menjadi tenaga pengasuh bayi dikota-kota besar.

Strategi pemberdayaan kapasitas pekerja batik perlu diterapkan untuk peningkatan produktivitas kerja dan tingkat upah industri batik Lasem dalam jangka panjang sehingga menjamin kesinambungan/regenerasi usaha batik Lasem, menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

Berdasarkan kedua pertimbangan di atas, maka Institut Pluralisme Indonesia (IPI) mengambil inisiatif untuk membangun proyek percontohan di salah satu desa sumber pembatik, yaitu desa Jeruk di Kecamatan Pancur. Tujuan proyek percontohan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan kapasitas teknis dan non teknis para pembatik 2. Pengembangan semangat kewirausahaan dan peningkatan jumlah pengusaha batik di desa tempat tinggal pembatik.

Kegiatan IPI ini sesungguhnya bukan hal baru di Kabupaten Rembang. Pada tahun 1987 Dinas Perindagkop Kabupaten Rembang, misalnya, pernah mengadakan pelatihan teknis produksi dan menejemen usaha untuk para pembatik di beberapa desa di kecamatan Pancur. Walaupun program pelatihan tersebut tidak berkesinambungan, tetapi setidaknya telah berhasil menumbuhkan kewirausahaan baru batik di desa Karaskepoh. Dua orang pengusaha batik di desa Karaskepoh (Ibu Tasminah dan Ibu Sugiyem) merupakan contoh lulusan program pelatihan untuk para pembatik tersebut.

Kesulitan penumbuhan pengusaha baru batik kiranya dapat dimengerti karena tidak mudah bagi seorang pekerja batik melakukan proses transformasi diri untuk menjadi seorang pengusaha batik. Di tengah aneka hambatan yang harus dihadapi, khususnya kebutuhan keuangan yang lebih mudah dihadapi dengan terus mempertahankan status sebagai seorang pekerja batik, ia harus berusaha keras untuk mempertahankan semangatnya untuk menjadi seorang pengusaha sambil terus membekali diri dengan aneka ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam usahanya kelak. Hal ini sungguh tidak mudah dilakukan. Hanya seorang pekerja batik yang tidak pernah menyerah untuk menjadi pengusaha-lah yang akhirnya benar-benar berhasil. Selain itu, ia juga perlu mendapatkan dukungan anggota keluarga serta pihak lain, misalnya instansi Pemerintah dan organisasi kemasyarakatan, untuk memperbesar kemungkinannya menjadi seorang pengusaha.

Proses alamiah yang harus ditempuh seorang pekerja batik untuk menjadi seorang pengusaha batik dapat berlangsung lama. Sebagai contoh, Ibu Sugiyem membutuhkan waktu 7 (tujuh) tahun, yaitu periode tahun 1987–1994, dalam proses pengembangan diri sebagai seorang pengusaha batik. Mengingat betapa sulitnya proses pengembangan kewirausahaan tersebut di atas bagi para individu pekerja batik yang umumnya berasal dari latar belakang pendidikan dan dukungan sosial ekonomi keluarga yang terbatas, maka diperlukan sebuah strategi pengembangan kapasitas yang lebih memadai. Belajar dari aneka program pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah di Indo- nesia maupun negara-negara lain, IPI mengusulkan strategi “Kelompok Usaha Bersama (KUB)” untuk di- terapkan dalam upaya pemberdayaan pembatik Lasem.

Strategi KUB Batik Lasem di atas pada hakekat-nya mengandalkan dinamika kelompok sebagai dasar pengembangan semangat, sikap, pengetahuan dan ketrampilan berusaha dari calon pengusaha batik. Keanggotaan KUB diawali dengan beberapa orang anggota pekerja batik yang memiliki kemauan kuat untuk bekerjasama, saling belajar dan berbagi resiko demi pe- ningkatan kesejahteraan ekonomi mereka melalui usaha bersama batik Lasem. Secara bertahap, anggota KUB dapat ditambah dengan catatan tidak mengakibatkan melemahnya koordinasi antar anggota tersebut.

Organisasi KUB disusun secara sederhana, terdiri dari Pengurus dan Anggota KUB. Pengurus KUB terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan beberapa orang Koordinator Operasional sesuai dengan hasil analisa kebutuhan pengembangan KUB. Periode jabatan seorang Pengurus KUB ditentukan oleh kesepakatan bersama semua Anggota KUB dalam Rapat Umum KUB. Demikian pula halnya dengan semua aturan organisasi KUB lainnya, baik di bidang produksi, keuangan, pemasaran, sumberdaya manusia, hubungan masyarakat, dan sebagainya harus dibuat dan disepakati secara demokratis dalam rapat-rapat KUB. Dengan demikian, “Semangat Kebersamaan” perlu dikedepankan sebagai landasan utama bagi berfungsinya KUB.

Kegiatan KUB tidak bersifat eksklusif untuk para anggotanya saja. KUB juga turut aktif membantu aneka kegiatan sosial ekonomi di desa tempat tinggal para anggota, misalnya kontribusi dalam kegiatan Posyandu, pendalaman agama dan sebagainya. Selain itu, KUB turut serta dalam proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbang Desa) untuk mengakses dana APBD
Kabupaten Rembang (baca melalui ADD/ Alokasi Dana Desa) guna pem-berdayaan ekonomi masyarakat desa, termasuk alokasi dana untuk investasi dan modal kerja usaha batik. Dengan demikian, diharapkan kehadiran KUB benar-benar dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat desa secara keseluruhan.

Secara operasional, IPI hanya bertindak sebagai perantara pembentukan dan operasionalisasi KUB. Segala jenis keputusan akan diambil melalui kesepakatan bersama dalam rapat-rapat KUB, baik yang menyangkut pengembangan organisasi kelompok, arah usaha maupun interak- si dengan aneka pihak lain (termasuk Pemerintah, perusahaan lain dan masyarakat luas). Pembatasan peranan IPI hanya pada tingkat perantara ini dilakukan agar secara bertahap KUB dapat mandiri sepenuhnya.

Pendampingan IPI terhadap KUB berupa bantuan nasehat kebijakan maupun teknis operasional. Di samping itu, secara teratur IPI membantu fasilitasi pelatihan KUB baik secara teknis (misalnya, proses produksi batik, kepemimpinan dan menejemen usaha) maupun non-teknis (misalnya, pemahaman budaya batik, partisipasi pembangunan, pemetaan sumberdaya lokal dan eksternal, proses kebi- jakan dalam tata kelola Pemerintahan yang baik, modal sosial, kesadaran lingkungan hidup, sensitivitas jender, dan sebagainya). Evaluasi terhadap strategi KUB akan dilakukan IPI secara rutin untuk penyempurnaan proses pendampingan IPI terhadap KUB.

Sejak tanggal 18 September 2006, sebuah KUB Batik Lasem telah terbentuk di desa Jeruk, kecamatan
Pancur, Kabupaten Rembang dengan anggota awal 4 orang. KUB ini menamakan diri sebagai “KUB Srikandi Jeruk”.

Pengurus KUB Srikandi Jeruk terdiri dari:
Ketua : Ibu Ramini
Sekretaris : Ibu Juwariah
Bendahara : Ibu Marni
Koordinator Operasional : Ibu Sulastri

Saat ini KUB Srikandi Jeruk sedang melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran dan eksperimen produksi batik yang disesuaikan dengan kemampuan anggota KUB sendiri
  2. Identifikasi fokus usaha KUB di masa yang akan datang
  3. Rekrutmen dan pelibatan anggota KUB secara bertahap.

Semoga KUB Srikandi Jeruk berhasil dalam meningkatkan kapasitas para anggotanya dalam usaha bersama batik Lasem sehingga pada gilirannya dapat membantu penambahan lapangan pekerjaan bagi para pembatik di desa Jeruk serta memotivasi tumbuh berkembangnya KUB Batik Lasem di berbagai desa lainnya di Kabupaten Rembang.

PENINGKATAN KAPASITAS DAN KETRAMPILAN MELALUI PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN KUB BATIK TULIS DESA JERUK

PENINGKATAN KAPASITAS DAN KETRAMPILAN
MELALUI PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN
KUB BATIK TULIS DESA JERUK

Oleh : Restu Hapsari (Staf Institut Pluralisme Indonesia)

Suasana Pelatihan Modal Sosial / Foto : Dok. IPI

 

Peningkatan kapasitas dan keterampilan menjadi satu kegiatan yang secara rutin dilakukan untuk mendukung pengembangan KUB. Berikut laporan singkat kegiatan pelatihan ”Manajemen dan Kepe- mimpinan” serta ”Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Daerah” yang telah diselenggarakan untuk KUB batik tulis desa Jeruk.

Pelatihan ”Manajemen dan Kepemimpinan”

Pada pelatihan yang diadakan pada tanggal 25-26 November 2006 ini peserta adalah para perempuan perajin batik yang bertempat tinggal di desa Jeruk, Pereng, dan Sendang Mulyo.

Di dalam pelatihan para peserta diajak untuk mengenali dan memetakan kemampuan atau potensi diri yang dimiliki oleh masing-masing serta potensi desa secara umum yang nantinya dapat menjadi modal bagi pengembangan KUB.

Gambaran kekuatan dan kelemahan di atas kemudian dikaitkan dengan praktek dan fasilitas serta perangkat desa yang selama ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Jeruk dan sekitarnya.

Pada sesi berikutnya ada 3 pertanyaan refleksi yang diberikan kepada peserta, yaitu (1) apa yang mendorong kesuksesan seseorang, (2) apa yang menghambat kesuksesan dan (3) bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.

Pelatihan dilanjutkan dengan sesi ketrampilan manajemen tentang bagaimana mengatur, menata dan memulai sebuah kegiatan, yaitu dengan: (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3) pelaksanaan, dan (4) evaluasi.

Sesi pada pelatihan di hari ke-2 lebih terfokus pada kepemimpinan, yaitu: (1) pengertian dan unsur–unsur kepemimpinan, (2) kepercayaan, (3) berpikir positif, (4) kreatif, (5) sinergi atau gotong royong (kerja sama dan mandiri). Dalam pelatihan kepemimpinan ini peserta lebih banyak berinteraksi dalam kelompok. Peserta diajak untuk memahami unsur-unsur kepemimpinan melalui beberapa permainan dalam kelompok.

Pelatihan ”Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Daerah

Pada pelatihan yang diadakan pada tanggal 27-28 Januari 2007 ini peserta berjumlah 23 orang, sebagian besar adalah peserta pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen.

Dalam pelatihan, peserta diajak untuk mengingat kembali potensi desa yang telah digali bersama di dalam pelatihan sebelumnya dan sekaligus memetakan gambaran pluralitas sosial masyarakat.

Dalam pelatihan peserta juga diajak memperdalam keterampilan bernegosiasi lewat permainan peran antara pengusaha dan pengrajin batik.

Pada sesi berikutnya peserta diajak untuk memperdalam soal gender dan maknanya, lalu memberikan contoh–contoh aktor perempuan yang aktif dan produktif, misalnya Srikandi-Srikandi Lasem: Ibu Kartini, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Ratu Sima, dan Putri Campa.

Peserta juga berinteraksi dalam diskusi kelompok untuk lebih memperdalam pemahaman gender dengan mendiskusikan penryataan-pernyataan berikut: (1) lelaki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, (2) setelah berkeluarga anak pertama yang didambakan adalah anak lelaki, (3) adalah wajar bagi suami mengerjakan pekerjaan dapur, (4) kalau sebuah keluarga memiliki sorang putra dan seorang putri maka prioritas untuk mendapatkan pendidikan diberikan kepada putri, (5) yang layak menjadi ilmuwan terkemuka adalah laki–laki, (6) yang lebih mampu mengembangkan karier/pekerjaan adalah perempuan, dan (7) pimpinan pemerintah daerah pada masa mendatang sebaiknya perempuan. Pertanyaan–pertanyaan diatas dibahas dalam kelompok.

Dalam pelatihan ada testimoni pengalaman Ibu Naisah sebagai Bayan (perempuan pertama yang menjadi Bayan) tentang bagaimana seorang perempuan dapat juga berperan dalam kegiatan kemasyarakatan: “Menjadi bayan ini dianugerahkan oleh Allah SWT, dipercaya oleh masyarakat dan bangga menjadi ibu Bayan dusun Gading. Pekerjaannya mendampingi tokoh masyarakat un- tuk menarik pajak iuran masyarakat, masjid, memfasilitasi pertemuan”.

Di akhir pelatihan ditekankan untuk menggabungkan berbagai keterampilan yang sudah dipelajari dengan perjuangan perempuan dalam membantu perekonomian keluarga dan berpartisipasi dalam masyarakat.

Profil: Pengusaha Batik Lasem Buah Kerja Keras dan Dukungan Keluarga

Sugiyem: Pengusaha Batik Lasem Buah Kerja Keras dan Dukungan Keluarga

Sugiyem bersama suami, Abdul Karim
Usaha : Batik ”Sido Mulyo”, Desa
Karaskepoh, Kec. Pancur,
Rembang
Kontak : 085225007513

 

Pada tahun 1987, Dinas Perindustrian Rembang mengadakan pelatihan sebulan bagi pembatik diberbagai desa termasuk Karaskepoh, tempat tinggal Sugiyem (50 thn).

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha sendiri dengan bantuan alat dan kemampuan yang diberikan. Tetapi setelah pelatihan selesai, beberapa peserta pelatihan malah menjual morinya kepada Sugiyem.

Walaupun sudah memproduksi batik sendiri, Sugiyem tetap bekerja sebagai buruh batik dari pagi sampai sore. Pekerjaan yang sudah dia tekuni sejak tahun 1974 di perusahaannya Tok Gie, Lasem. Dengan demikian Sugiyem harus kerja keras lagi membuat batik pada malam hari, waktu yang bia- sanya dimanfaatkan orang untuk istirahat. Dalam menjual batik, Sugiyem dibantu oleh suaminya, Abdul Ka-rim. Dengan naik sepeda, Karim menjual batik ke desa-desa lain. Kalau Karim melihat ada ibu-ibu kumpul, dia langsung datangi dan menawarkan batik, “sopo sing butuh batik anti luntur, regane 17.500”. Satu batik terjual, Beli dua lembar mori. Dua batik terjual, Beli empat lembar mori, begitu seterusnya. Itu prinsip yang dipegang Sugiyem dalam mengembangkan usahanya.

Setelah lama memproduksi batik sendiri, tahun 1994 Sugiyem menetapkan diri untuk berhenti menjadi buruh batik dan memulai usaha sendiri secara penuh. Saat itu Sugiyem baru mempunyai dua bakul (pedagang) yang membeli batiknya. Menjadi pengusaha batik tidak dilewatinya dengan mudah. Beberapa pengalaman buruk harus dialaminya.

Tahun 1994 Sugiyem bersama putrinya, Wiwin, pergi ke Pasar Klewer untuk belanja bahan-bahan batik, sebelumnya mereka belum pernah ke Solo. Sesampai di Pasar Klewer, setiap ditanya orang tentang tujuannya, Sugiyem selalu menjawab “sedang mencari keponakannya yang kerja di Klewer”. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencopet sehingga “mereka” tidak tahu kalau dia bawa uang untuk belanja. Setelah selesai belanja, mereka pulang dengan naik bis jurusan Solo-Surabaya karena beranggapan bahwa bis tersebut akan lewat Rembang. Ditengah perjalanan sekitarMadiun, Sugiyem baru sadar kalau dirinya tersesat dan bertanya pada kernet “apa bis ini akan lewat Rembang”. Akhirnya mereka turun, dan mencari terminal terdekat untuk mencari bis jurusan Rembang, dengan mengotong 10 pieces mori dan bahan-bahan pewarnaan. Akhirnya mereka sampai rumah sekitar pukul 21.30.

Begitu juga pada tahun 2000, Sugiyem bersama suaminya belanja di Pasar Klewer. Setelah selesai belanja, mereka naik bis di terminal Solo. Pada saat naik bis, tas Sugiyem dicopet. Mereka melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Karena mereka tidak bawa uang lagi maka mereka juga minta tolong kepada polisi untuk membantu cari taxi. Polisi tersebut jadi jaminan bagi sopir taxi bahwa Sugiyem akan membayar ongkos sesampai di rumah. Sesampainya di rumah, Sugiyem membayar ongkos taxi sebesar 350.000.

Tidak cukup itu saja, kerikil-kerikil yang harus dilewati Sugiyem dalam perjalanannya menjadi pengusaha. Ketidaktahuan dan keirian dari tetangganya akan kesuksesannya menimbulkan tuduhan negatif terhadap Sugiyem. Ada tetangga yang menuduh Sugiyem punya “pesugihan” sehingga dia bisa kaya, bahkan beberapa warga sempat mengecek langsung dengan mendatangi rumahnya. Dia santai saja menghadapi gosip ini. Seiring dengan banyaknya tamu datang kerumahnya, tuduhan miring itu hilang.

Cobaan paling besar yang harus ditanggung Sugiyem datang pada saat krisis moneter, tahun 1998. Saat itu pemasaran batik lasem sedang sulit-sulitnya Namun dia tetap berproduksi terus hingga batiknya menumpuk sampai lima karung. Ditengah kesulitan ini, Karim berusaha membantu istrinya. Dia mencoba menawarkan batik ke Matahari Department Store, Kudus. Tetapi staf Matahari menolak, bahkan batiknya dikira rombengan (barang bekas) karena dia cuma membawa tiga kain. usai krisis, lambat laun penjualan batiknya semakin meningkat, salah satunya dengan mengikuti pameran batik di berbagai daerah. Bahkan kadang-kadang Sugiyem kehabisan stok karena terlalu besarnya permintaan. Keuntungan dari usaha batik yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dia gunakan untuk membangun rumah. Sebelumnya rumahnya berdinding gedeg (anyaman bambu) dan berlantai tanah, dibangun menjadi rumah tembok dan berlantai keramik. Sangat berbeda dengan rumah rumah di sekelilinginya.

Semua cobaan dilalui Sugiyem dengan lapang dada. Takwa dan selalu berdoa kepada Tuhan, itu merupakan pegangan Sugiyem dalam meniti kesuksesan, dari buruh menjadi pengusaha batik Lasem. Sesuatu yang mungkin oleh semua buruh batik dianggap sebagai sesuatu yang mustahil, tetapi Sugiyem telah membuktikan bahwa dia bisa melakukannya. Siapa mau mengikut jejak Sugiyem?

Oleh :
Hempri Suyatna, M.Si.
Dosen Jurusan Ilmu
Sosiatri Fisipol UGM

hj siti

USAHA EKONOMIS PRODUKTIF – KELOMPOK USAHA BERSAMA : ALTERNATIF PEMBERDAYAAN SOSIAL EKONOMI

USAHA EKONOMIS PRODUKTIF – KELOMPOK USAHA BERSAMA: ALTERNATIF PEMBERDAYAAN SOSIAL EKONOMI
Oleh Hj. Siti Mardiyah, SH*

Kondisi Kemiskinan di Kabupaten Rembang Wilayah Kabupaten Rembang terletak di jalur pantai utara (pantura), di ujung timur Propinsi Jawa Tengah. Berbatasan dengan Kabupaten Tuban Propinsi Jawa Timur di timur, Kabupaten Blora di selatan, Kabupaten Pati di sebelah barat. Secara geografis luas wilayah Kabupaten Rembang adalah 1.014,08 km 2 , dengan jumlah penduduk sebanyak 591.508 jiwa, jumlah kepala keluarga sebanyak 158.767 KK. Keadaan topografi Kabupaten Rembang bervariasi, meliputi dataran tinggi atau pegunungan, dataran rendah dan daerah pantai. Kabupaten Rembang terdiri dari 14 wilayah Kecamatan, 294 desa dan kelurahan. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian, peternakan dan perikanan, dan sebagian lainnya menekuni sektor industri rumah tangga dan kerajinan termasuk didalamnya para pengrajin batik tulis yang sebagian besar tinggal di wilayah Kecamatan Lasem dan Pancur. Menurut Survei Sosial Ekonomi Daerah Tahun 2003, rata-rata pengeluaran penduduk Rembang sebesar Rp 131.520 per bulan. Dengan indikator pengeluaran rata-rata tersebut, jumlah penduduk di bawah rata-rata sebanyak 342.618 jiwa (59,16%). Sedangkan penduduk miskin sebanyak 191.231 jiwa (33,02%) dengan batas miskin penge-
luaran per bulan sebesar Rp 105.593 per bulan. Sebagian besar penduduk miskin berdomisili di daerah pedesaan dengan sumber mata pencaharian sebagai buruh tani, petani penggarap maupun nelayan. Secara umum berbagai faktor penyebab kemiskinan di Kabupaten Rembang relatif sama dengan daerah kabupaten/kota lainnya, baik disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal serta akumulasi dari keduanya.

Faktor dominan yang memicu terjadinya fenomena kemiskinan di Kabupaten Rembang yaitu pendidikan, ketrampilan yang rendah, mental sosial serta keterbatasan kepemilikan modal. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi kemiskinan di Kabupaten Rembang, antara lain: terbatasnya lapangan kerja formal, belum terciptanya sistem ekonomi kerakyatan, serta kondisi geografis yang relatif sulit.

Program Dinas Kesosnakertrans dalam Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat

Melalui berbagai Program Penanggulangan Kemiskinan yang telah ada, Pemerintah Kabupaten Rembang bertekad untuk menghilangkan status Daerah Tertinggal pada Tahun 2009. Salah satu Program Departemen Sosial yang diarahkan bagi upaya penang- gulangan kemiskinan yaitu Usaha Ekonomis Produktif– Kelompok Usaha Bersama dalam Program Pemberdayaan Fakir Miskin, yang sinergi dengan kebijakan Pemda Kabupaten Rembang. Program penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu kebijakanstrategis Pemda yang tertuang dalam Visi Pemerintah Kabupaten Rembang dan empat Pilar Pembangunan yang bermuara pada kesejahteraan dan kemandirian masyarakat Rembang.

Ada beberapa alasan mengapa perlu dikembangkan organisasi Fakir Miskin yang disebut dengan
KUBE, yakni:

  1. Kelompok KUBE adalah mereka yang memiliki keterbatasan dalam berbagai hal, seperti keterbatasan dalam pendapatan, perumahan, kesehatan, pendidikan, kemampuan, ketrampilan, kepemilikan, modal, komunikasi, teknologi, dan lain-lain.
  2. Dengan mekanisme KUBE, maka diharapkan :
    a. Kegiatan usaha dikembangkan dalam kelompok sehingga memudahkan pembinaan dan  monitoring.
    b. Pembinaan lebih efektif dan efisien biaya, tenaga, waktu.
    c. Anggota kelompok dapat saling kerja sama.
  3. Dengan pembinaan melalui kelompok, anggotaakan saling membantu ( kemampuan, ketrampilan,modal, dll ) yang terkait dengan kegiatan KUBE.
  4. Dapat meningkatkan kemampuan dan wawasan berpikir managerial dan upaya menggali dan memanfaatkan sumber yang ada.
  5. Menumbuhkan rasa kebersamaan, kekeluargaan, kegotongroyongan, rasa kepedulian dan kesetiakawanan sosial antara Kelompok Binaan Sosial maupun
    masyarakat.

Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

Prinsip-prinsip dalam pengembangan KUBE yakni: penentuan nasib sendiri, kekeluargaan, kegotongroyongan, potensi anggota sebagai modal dasar, sumber-sumber setempat (Desa/Lingkungan ) sebagai aset, keberlanjutan program, dan usaha yang berorientasi pasar.

Strategi pengembangan KUBE yang harus diterapkan, yakni:

  1. Perlu adanya administrasi dan pengorganisasian kelompok yang baik dan rapi
  2. Pertemuan rutin kelompok minimal satu minggu sekali yang didasari kesepa- katan dan komitmen setiap anggotanya
  3. Mempertahankan dan mengedepankan asas musyawarah untuk mufakat
  4. Pengelolaan dan pengembangan KUBE harus berorientasi pada nilai manfaat dan penggalian potensi maupun sumber di lingkungan desa
  5. Penerapan penemuan atau gagasan baru
  6. Pengembangan kemitraan dan jaringan kerja dengan berbagai pihak

Dalam pelaksanaan KUBE, ada beberapa hal yang menjadi hambatan, antara lain:

  1. Pemberdayaan Fakir Miskin melalui pola terpadu KUBE dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tanpa pendamping profesional akan mengakibatkan proses persiapan sosial tidak akan optimal
  2. Anggota KUBE yang bukan termasuk Fakir Miskin akan mengganggu hak pengguliran dana
  3. Para pendiri LKM (aparat desa, tokoh masyarakat, masyarakat mampu, perwakilan KUBE) kadangkala mengintervensi proses pengambilan keputusan Pengelola LKM
  4. Koordinasi dan pengawasan oleh Dinas Kesosnakertrans setempat belum optimal karena tidak melihat sisi ”keuntungan” dari bantuan modal usaha yang diterima langsung oleh KUBE

Untuk keberlanjutan KUBE, maka ada dua mekanisme yang harus dilaksanakan:

  1. Pertanggung jawaban administrasi berupa laporan tertulis meliputi :
    – Laporan proses pelaksanaan program
    – Hasil kegiatan serta realisasi penggunaan dan pengguliran dana program melalui pembiayaan di LKM KUBE.
    – Laporan dibuat berkala dan berjenjang oleh Pengelola LKM KUBE melalui pendamping kepada Departemen Sosial dan Diskesosnakertrans.
  2. Menjaga keberlanjutan program
    a. Pengelolaan program harus mampu memberi “garansi/jaminan“ kepada masyarakat, terutama keluarga fakir miskin tentang kemanfaatan kegiatan secara berkelanjutan.
    b. Hasil- hasil kegiatan program berupa prasarana, modal penyertaan atau dana pembiayaan kepada KUBE melalui LKM KUBE, merupakan aset pembangunan sosial yang dikelola oleh masyarakat melalui LKM KUBE dan aset dimaksud harus dipelihara

KUBE di Kabupaten Rembang Tahun 2006

Upaya penanganan masalah kemiskinan yang dilaksanakan di Kabupaten Rembang pada tahun 2006 yaitu Program Kegiatan Pemberdayaan Fakir Miskin melalui KUBE di wilayah perdesaan dengan kegiatan penggemukan sapi potong. Kegiatan ini dikelola oleh 400 kepala keluarga miskin yang tersebar di Kecamatan Bulu, Kecamatan Sluke, dan Kecamatan Sarang. Program ini difasilitasi oleh Dana Penyertaan dari Departemen Sosial RI. Selain itu, Dana Penyertaan tersebut juga digunakan untuk santunan hidup, bantuan bahan bangunan rumah dan manajemen pendampingan guna mendukung pelaksanaan program kegiatan.

Sebagai wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Rembang dalam Program Pemberdayaan Fakir Miskin, maka Pemda menyediakan fasilitasi bantuan anggaran pendampingan melalui APBD untuk menambah jumlah modal bagi 400 KK miskin, fasilitasi pembuatan kandang, penga- daan bantuan konsentrat/nutrisi serta obat-obatan untuk satu periode penggemukan ternak sapi. Anggaran Pendampingan tersebut diharapkan dapat mendukung keberhasilan dan optimalisasi pelaksanaan program serta dapat langsung
menyentuh aspek kebutuhan permodalan pada kegiatan Pemberdayaan Fakir Miskin, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan keluarga serta kesejahteraan masyarakat setempat.

Aktivitas Mola Batik / Foto : Dok. IPI

 

Pemberdayaan Keluarga Pengrajin Batik Lasem.

Mendasarkan kegiatan pada tahun 2006, maka penanganan masalah kemiskinan tahun 2007 diarahkan melalui KUBE dengan mekanisme Teknologi Tepat Guna untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin yang menekuni/memiliki minat di bidang industri rumahtangga/industri kecil, seperti keluarga pengrajin batik tulis Lasem. Dengan program ini diharapkan industri batik tulis Lasem dapat meningkatkan daya saing produksi dan pemasaran baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Seiring dengan peningkatan produksi dan pemasaran batik Lasem, maka kesejahteraan keluarga pengrajin batik Lasem juga akan meningkat.

Secara umum proses dan mekanisme KUBE dengan mekanisme Teknologi Tepat Guna relatif sama dengan pola KUBE wilayah pedesaan, pinggir kota, pesisir pantai dan lainnya. Karena berhubungan dengan penerapan Teknologi Tepat Guna, maka dalam pelaksanaannya melibatkan pihak Perguruan Tinggi yang terkait dalam rangka transfer teknologi dan pembinaan teknis lebih lanjut.

Penutup

Pemberdayaan Fakir Miskin merupakan upaya komprehensif, terintegrasi dan berkesinambungan. Program ini hanya dapat terselenggara sesuai dengan harapan apabila didukung oleh peran aktif dari segenap pihak, stakeholders terkait serta partisipasi sosial masyarakat melalui pem- berdayaan masyarakat yang bermuara pada kemandirian masyarakat.

Pendamping KUBE merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses penguatan peran aktif masyarakat untuk melaksanakan pendampingan kepada keluarga fakir miskinyang ada dilingkungannya.

 

Sumber Kepustakaan :
– Panduan Umum Pemberdayaan Fakir Miskin, Departe-men
Sosial RI, Jakarta 2005
– Petunjuk Teknis Pelaksana- anUEP KUBE P2FM, Diskesosnakertrans, Rembang 2006

 

Hj. Siti Mardiyah, S.H
Kepala DinasKesosnakertrans
Kab. Rembang(2004-2007)
Staf Ahli Bupati
(Maret 2007-sekarang)

kub

Batik Lasem: Kain Kuno Indonesia Meretas Harapan Pengrajin Batik Lasem

Anggota awal KUB dari kiri ke kanan :
Ramini, Juwariyah, Sumarni, Sulastri

Sejak dulu batik tulis Lasem sangat dikenal sebagai salah satu batik pesisiran yang berkualitas baik. Semakin lama umur sebuah batik Lasem maka warnanya akan semakin bagus, tidak makin pundar.

Pengakuan masyarakat terhadap batik Lasem sebagai karya seni bangsa Indonesia yang unggul memangtak diragukan lagi. Akan tetapi tahukah kita dibalik proses pembuatan karya seni adiluhung ini, ada tangan-tangan terampil yang mengerjakannya dengan penuh ketelitian dan kesabaran.

Ya, sangat jarang dari kita mengetahui cerita kehidupan dibalik keindahan batik Lasem. Kehidupan perempuan-perempuan yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan warisan budaya dari leluhurnya, selain untuk menyambung kehidupan keluarga dari hari ke hari. Ditengah semakin beratnya beban hidup, banyak pengrajin kehilangan pekerjaan dan terpaksa beralih pekerjaan bahkan banyak juga yang menganggur. Hal ini disebabkan oleh penurunan jumlah unit usaha batik Lasem, dari 140 pengusaha pada tahun 1970 jadi 20 pengusaha pada tahun 2006.

Kondisi seperti ini yang melatarbelakangi IPI untuk berusaha melakukan sesuatu selain untuk melestarikan budaya bangsa, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masih tergolong miskin secara ekonomi. Usaha ini terumuskan dalam program Kain Nusantara Lestari(KANURI).

Dalam hal pelestarian batik Lasem, IPI bergerak dalam bingkai program Revitalisasi Budaya dan Usaha Kecil Batik Lasem sebagai bagian dari program KANURI. Salah satu usaha yang dilakukan IPI untuk mensukseskan program ini melalui penguatan kapasitas pengrajin batik Lasem me- lalui pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB).

Survei Awal

Sebelum menetapkan pelestarian batik Lasem sebagai program pertama KANURI, kurang lebih dua tahun IPI telah melakukan studi pustaka dan beberapa kali melakukan kunjungan lapangan ke Lasem serta menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait baik pemerintah, pengusaha, organisasi masyarakat dan pemerhati batik Lasem. Sebagai awal pelaksanaan program Revitalisasi Budaya dan Usaha Kecil Batik Lasem, pada tanggal 3 Agustus 2006 Tim IPI berangkat ke Rembang untuk melakukan survei pencarian data-data yang terkait dengan usaha pelestarian batik Lasem dengan menemui pihak pihak yang terkait. Hal utama yang dibahas dalam pertemuan dengan pihak pihak tersebut, IPI minta masukan desa mana yang cocok dijadikan desa percontohan pelestarian batik Lasem. Berbagai pihak memberikan masukan desa-desa yang cocok sebagai desa percontohan, semuanya berada di dalam wilayah kecamatan Pancur.

Tanggal 5 Agustus 2007, Tim IPI berkunjung ke kantor kecamatan Pancur dan berdialog dengan Bapak Sulistiyono, Camat Pancur. Pak Sulistiyono memberikan gambaran mengenai usaha batik di Pancur serta kondisi pengrajin dan desanya.

Karena keterbatasan waktu, Tim IPI hanya mela- kukan survei mendalam pada dua desa, Karaskepoh dan Jeruk, dari beberapa desa yang direkomendasikan untuk dijadikan desa percontohan. Sebelum melakukan survei pengrajin batik di kedua desa tersebut, Tim IPI berkunjung ke rumah Kepala Desa Karas kepoh dan Jeruk untuk men- jelaskan maksud dari survei
ini.

Partisipasi KUB dalam kegiatan
Posyandu di dusun Gading
desa Jeruk – 23 Pebruari 2007

Di desa Karaskepoh, Bu Sugiyem (pengusaha batik Lasem di Karaskepoh) membantu kami untuk melakukan pendataan pengrajin. Sedangkan di desa Jeruk, Kepala Desa langsung merekomendasikan dua orang, Sujinah dan Ramini (sekarang ketua KUB), yang memiliki kemampuan untuk membentuk kelompok usaha. Berhubung saat itu Bu Sujinah tidak berada di rumah maka kami hanya dapat menemui Ramini. Dengan dibantu Ramini, kami melakukan pendataan pengrajin batik Lasem yang masih maupun tidak bekerja lagi.

Survei awal ini berakhir pada tanggal 12 Agustus 2007. Setelah kami melakukan analisis hasil survei maka IPI menetapkan desa Jeruk, kecamatan Pan- cur sebagai desa percontohan program ini. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi desa Jeruk dipilih sebagai desa percontohan.

Pertama, potensi tenaga kerja pengrajin batik di desa Jeruk besar karena masih banyak perempuan yang mempunyai ketrampilan membatik (menurut data IPI sekitar 172 orang), tetapi sebagian besar sudah tidak bekerja lagi sebagai pembatik.

Kedua, potensi pembatik yang banyak belum bisa di maksimalkan karena belum ada pengusaha batik Lasem di desa Jeruk.

Ketiga, kehidupan perekonomian masyarakat desa Jeruk masih tergantung pada sektor pertanian padahal desa Jeruk merupakan desa kering, pengairan sawah hanya mengandalkan air hujan. Faktor ini merupakan salah satu penyebab sebagian besar masyarakat desa Jeruk masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Keempat, jika dilihat dari letak geografisnya, desa Jeruk lebih berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa pengembangan batik Lasem karena terletak di pinggir jalan besar yang menghubungkan Rembang Pancur dan ada pendukung wisata makanan yakni sentra lontong tuyuhan.

Pembentukan KUB

Setelah IPI menetapkan desa Jeruk sebagai desa percontohan, kami berdialog dengan Ramini supaya dia mengajak pembatik yang tidak bekerja untuk belajar bersama mengembangkan diri menjadi wirausaha batik. Proses pemilihan anggota awal dengan proses bergulir dimulai dari Ramini sebagai orang pertama yang ditemui oleh IPI sewaktu survei awal, akhirnya dia memilih tiga orang, yakni Juwariyah, Sulastri, dan Sumarni. Dalam tahap awal pembentukan KUB Ramini hanya memilih tiga orang supaya proses awal perjalanan KUB dapat berjalan bagus dengan modal kepercayaan yang sudah dimiliki oleh anggota awal tersebut.

Walaupun hanya empat orang dengan latar belakang pendidikan rendah, rata-rata hanya lulusan SD, tetapi potensi yang dimiliki anggota beragam dan saling melengkapi. Dilihat dari teknis membatik, Sumarni mempunyai kemampuan nglerengkeng (membatik ragam hias di bagian muka mori). Sedangkan untuk nerusi (membatik ragam hias di bagian belakang mori) dan nembok (menutup kain dengan lilin setelah di- batik), tiga anggota lainnya bisa melakukannya. Semua proses membatik dilakukan sendiri oleh anggota awal,hanya pewarnaan yang tidak bisa mereka lakukan sendiri. Karena selama ini resep pewarnaan hanya diketahui oleh para pengusaha, pengrajin tidak ada yang mengetahui formula untuk pembuatan warna.

Selain kemampuan membatik, anggota awal KUB juga memiliki kemampuan dan pengalaman yang mendukung pengembangan KUB. Sejak awal ketemu dan berdialog dengan Ramini, kami dapat merasakan Ramini memiliki jiwa kepemimpinan. Asumsi ini diperkuat setelah kami membaca buku yang berisi catatan perjalanannya saat melatih membatik di daerah Sumatera Utara.

Ramini mencatat kisah- kisah dalam perjalanannya secara rinci, seperti kisah dia sembuh dari pusing karena minum Paramex sedangkan temannya yang lain minum Bodrex pun di-
tulisnya.

Juwariyah mempunyai kemampuan menjadi pembawa acara karena dia sering menjadi pembawa acara dalam acara-acara Fatayat dan Muslimat NU. Begitu juga Sulastri yang aktif sebagai ketua kelompok Simpan Pinjam Perempuan PPK Pancur mempunyai kemampuan dalam mengelola keuangan. Kekuatan KUB semakin bertambah dengan kemampuan Sumarni dalam hal pemasaran. Kemampuan ini dimiliki Sumarni karena sudah lama menekuni pekerjaan sebagai pedagang buah-buahan di pasar.

Tepatnya pada tanggal 18 September 2006 keempat pembatik tersebut membentuk KUB Srikandi Jeruk. Tujuan KUB didirikan untuk menumbuhkan wirausaha batik Lasem di desa-desa sekitar Lasem. Hal ini dilakukan untuk mendukung sentra batik di Lasem yang terancam regenerasinya karena banyak anak pengusaha batik yang tidak bersedia meneruskan usaha batik orang tuanya. Mereka lebih suka kerja di kota-kota besar setelah menamatkan kuliahnya. Secara khusus, dibentuknya KUB Srikandi Jeruk untuk meningkatkan kesejahteraan pembatik di desa Jeruk, yang pada akhirnya mendo- rong bergeraknya perekonomian desa. Upaya ini sangat perlu didukung oleh pemerintah dan masyarakat sehingga KUB harus terlibat aktif dalam musyawarah-musyawarah desa untuk menentukan arah pembangunan desa khususnya yang terkait dalam pengembangan batik Lasem.

Dinamika Perjalanan KUB Srikandi Jeruk

Pengembangan usaha lewat model KUB merupakan sesuatu yang baru di desa Jeruk, apalagi model penguatan ekonomi yang berbasis budaya. Keuntungan pengembangan usaha bersifat kelompok adalah proses kerja dapat selalu terpantau oleh anggota sendiri. Usaha yang dijalankan lebih kuat karena ditopang oleh tanggung jawab beberapa orang. Selain itu pengembangan produksi lebih bervariasi karena dikerjakan oleh beberapa orang.

Konsep organisasi yang dibangun dalam KUB merupakan hal baru bagi anggota KUB. Mereka belum pernah mengikuti konsep organisasi yang utuh, dalam arti semua fungsi yang ada di organisasi dijalankan secara efektif dan berkelanjutan. Organisasi yang biasa mereka ikuti hanya berupa kegiatan yang bersifat sesekali saja dan tidak memerlukan partisipasi yang sangat aktif dari anggotanya.

Proses pembentukan KUB yang mulai dari awal, tentu saja banyak hambatan di tengah perjalanannya. Sejak awal pendiriannya anggota KUB diajarkan konsep berorganisasi secara benar, ditekankan sifat jujur antar anggota, dan juga konsep berbagi antar anggota secara adil. Tapi kadang kala anggota masih saja mengedepankan sifat egois sehingga tercipta jarak antar anggota. Ada juga yang masih belum berani berpendapat, masih sangat tergantung pimpinan, kurang dapat menerima masukan dari pihak luar, mobilitas yang rendah, partisipasi dan kreativitas yang kurang.

Semua ini merupakan hambatan yang ditemui dalam perjalanan KUB. Hambatan-hambatan tersebut sedikit demi sedikit dikikis, dengan cara yang disesuaikan dengan karakte-ristik anggota dan tentunya dengan adanya pengarahan dan pengetahuan bagi mereka. Upaya ini didukung oleh semangat anggota KUB untuk terus belajar dan maju, demi tercapai impian mereka menjadi wirausaha batik Lasem.

IPI sebagai perantara dalam program ini memberikan pelatihan-pelatihan teknis maupun non teknis bagi anggota KUB dan juga pembatik yang ada di desa Jeruk seperti pelatihan kepemimpinan, pengorganisasian, modal sosial, pola batik.

Menyadari bahwa keberhasilan KUB perlu didukung berbagai pihak maka IPI juga mendampingi dan mendorong KUB dalam berkomunikasi dan membina kerjasama dengan pihak-pihak terkait melalui wahana resmi seperti lokakarya dan urun rembug warga maupun wahana lainnya seperti kunjungan dan dialog bersama aparat pemerintahan baik di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten.

KUB membagikan majalah KANURI
kepada para pembatik sebagai sarana
komunikasi dan informasi untuk kelestarian Batik Lasem

Harapan ke depan

Pelatihan-pelatihan yang diadakan KUB bersama IPI memberikan kesem- patan kepada pembatik diluar KUB untuk berpartisipasi dalam kegiatan KUB. Hal ini sangat berguna untuk mendorong partisipasi pembatik di luar dusun Jeruk seperti dusun Gading dan Sendangmulyo yang merupakan wilayah desa Jeruk. Upaya untuk meningkatkan keterlibatan pembatik di luar KUB juga didorong dengan partisipasi KUB dalam kegiatan desa seperti posyandu.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan posyandu, KUB dapat berkomunikasi dengan pembatik-pembatik di luar KUB mengenai aktivitas KUB selama ini dan ke depan. Seiring dengan meningkatnya interaksi pembatik antar dusun, KUB akan menambah keanggotaannya dari dua dusun yang lain. Sehingga ke depan KUB ini benar-benar dimiliki oleh desa Jeruk karena anggotanya berasal dari seluruh dusun dan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan desa.

Untuk mewujudkan harapan diatas, ke depan anggota KUB harus mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membatik.

Produksi batik yang telah dihasilkan KUB masih perlu diperbaiki untuk meningkatkan daya jual batiknya. Semakin meningkatnya penjualan maka jumlah produksi batik KUB akan semakin bertambah. Dengan demikian semakin banyak pengrajin di desa Jeruk yang dilibatkan dalam KUB.

Bertambahnya anggota KUB perlu disertai dengan penguatan pengelolaan KUB sehingga keterlibatan anggota baru akan semakin menambah kekuatan KUB untuk berproduksi dan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam melestarikan batik Lasem dan meningkatkan kesejahteraan warga desa.

image

Batik Lasem: Kain Kuno Indonesia

Batik Lasem: Kain Kuno Indonesia
Lebih dekat dengan ELSIE SOENARYA Pemerhati dan Kolektor Batik Lasem Anggota WASTRAPREMA (Himpunan Pecinta Kain Adati Indonesia).

Semasa kecilnya perempuan yang akrab disapa Elsie ini memang sudah akrab dengan kain batik. Ayahnya adalah salah seorang kerabat Kesunanan Cirebon yang terbiasa mengenakan pakaian adat, salah satunya batik. Ia sering diperkenalkan dengan batik dari seluruh nusantara termasuk batik tulis Lasem. Tak heran pengetahuannya mengenai batik Lasem begitu luas. Namun sekarang koleksi batik Lasemnya sudah tidak banyak lagi karena sebagian sudah dibagikan pada kerabatnya. Sebagian lagi telah menjadi korban banjir tahun 1980 ketika Jakarta di landa banjir. Dua koper besar berisi koleksi batik beliau hancur terendam air.

Belajar Batik di Negeri Sakura Jepang

Setelah menamatkan sarjana ekonomi di UI beliau melanjutkan studinya ke negeri Sakura Jepang mengambil bidang studi Fashion Design dan salah satu bidang studinya adalah belajar batik Indonesia. ”Saya malu belajar batik harus di negeri Jepang padahal Jepang belajar batik di Jogjakarta” ujarnya, mengenang masa lalu.

Semasa kuliah tersebut, timbul keinginan beliau untuk mendorong penghargaan batik sebagai kekayaan bangsa Indonesia terutama melalui wahana pendidikan.
Untuk mewujudkan impiannya, beliau menetapkan pilihan menjadi Pelatih pada Departemen Perindustrian.

Keinginan untuk melestarikan batik dengan melibatkan partisipasi segenap masyarakat mendorong beliau bergabung dengan Wastraprema, sebuah organisasi nirlaba yang punya perhatian pada pelestarian kain tradisional.

Tahun ini Wastraprema merencanakan akan mengadakan kunjungan ke sentra-sentra batik di pantai utara Jawa termasuk sentra batik Lasem. Dalam organisasi Wastraprema, saat ini bu Elsie bertugas pada bagian Pameran dan Penelitian.

Ciri Khas Batik Lasem

Batik Lasem merupakan salah satu batik yang mempunyai ciri khas khusus. Ragam hiasnya yang rumit dan warnanya menarik (terutama warna hijau daun cabai yang belum pernah dibuat dimanapun), juga ada isen–isen. Apabila dibandingkan dengan batik tulis Cirebon atau Pekalongan, batik tulis Lasem lebih semarak. Dulu batik Lasem sangat halus karena memakai canting yang kecil sehingga tidak jauh berbeda dengan batik Pekalongan dan Cirebonan. Namun sekarang kualitas batik Lasem tidak sehalus jaman dulu karena pengrajinnya menggunakan canting yang besar. Salah satu yang mungkin menjadi penyebabnya adalah faktor ekonomi. Dengan memakai canting yang besar maka proses pembuatan batik tulis akan semakin cepat sehingga lebih cepat untuk dijual.

Penurunan kualitas batiktulis Lasem selain karena
penggunaan canting yang besar, juga akibat dari pewarnaan yang tidak merata. Hal ini bisa diatasi dengan pola pewarnaan yang baik dengan menutup kain dengan lilin yang kualitasnya bagus. Kalau kualitas lilin jelek, warna akan pecah.

Pak Dudung, pengusaha batik di Pekalongan, bisa jadi contoh. Dia membuat lilin sendiri agar hasilnya lebih bagus tetapi harga lilin yang dihasilkannya lumayan mahal dibandingkan dengan harga yang ada di pasaran.

Selain itu untuk menjaga kualitas batik Lasem, dalam proses nglorod pengrajin
harus hati-hati sewaktu menginjak-injak kain, di usahakan pada lantai yang rata.

Pemasaran Batik Lasem

Pemasaran batik Lasem sebaiknya dilakukan oleh pedagang pengumpul. Dengan cara seperti ini pedagang pasti membutuhkan modal yang besar, tetapi hal ini dapat meningkatkan penjualan batik Lasem. Untuk memperluas pasar batik Lasem para pengusaha perlu menciptakan trend batik Lasem yang selalu berkembang, tentu saja dengan ragam hias dan warna yang selalu berbeda dari tahun ke tahun. Upaya ini harus dilakukan secara berkelanjutan serta diperlukan kerjasama dengan para perancang busana untuk menciptakan trend batik Lasem di masyarakat.

Begitu juga halnya dengan pemerintah sebaiknya pemerintah memperhatikan dan mendorong pengusaha batik Lasem dalam melakukan pemasaran. Departemen Perindustrian dan Perdagangan perlu menentukan jadwal pameran yang tetap untuk kain-kain tradisional Indonesia sehingga tercipta kerjasama saling menguntungkan. Dengan begitu batik Lasem semakin dikenal dan diminati oleh para konsumen dari dalam maupun luar negara.

Untuk pengusaha sendiri harus ada persaingan bisnis yang sehat sehingga hargadapat bersaing dengan batik lainnya. Pengrajin juga dituntut lebih banyak untuk menciptakan ragam hias baru sehingga semakin banyak orang yang suka batik Lasem.

Dengan begitu penjualan batik Lasem semakin lama akan semakin meningkat, tentu saja juga akan meningkatkan kesejahteraan pengrajin batik Lasem.

 

Oleh : Evi Aisyah