Pelatihan Guru : Pendidikan Budaya Batik Lasem

Sebagai langkah persiapan pengembangan pelajaran muatan lokal budaya batik Lasem (membatik) di Kabupaten Rembang, Institut Pluralisme Indo­nesia (IPI) bekerja sama dengan Di­nas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Rembang mengadakan Pelatihan Guru: ”Pendidikan Bu­daya Batik Lasem”. Sebagian besar peserta pelatihan adalah guru-guru yang sebelumnya ikut dalam acara sosialisasi muatan lokal (mulok) bu­daya batik Lasem (membatik) yang diadakan di aula Diknas pada tanggal 22 Juni 2008.

Pelatihan Guru dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada tanggal 9, 10, dan 12 Juli 2008. Pelaksanaan pelatihan hari I bertempat di SDN Je­ruk, selebihnya dilanjutkan di Sang­gar KUB Batik “Srikandi Jeruk”. Sebanyak 26 orang guru dari 22 SD menjadi peserta pelatihan den­gan perincian: 2 SD dari Kecamatan Sluke, 5 SD dari Kecamatan Pancur, 2 SD dari Kecamatan Rembang, dan 13 SD dari Kecamatan Lasem.

Apa itu Batik Lasem?

Pada hari pertama, William Kwan HL, Direktur IPI, memberi­kan pemaparan tentang sejarah batik di Indonesia dan ragam hias batik Lasem. Dalam paparan tersebut dika­takan bahwa Rembang lebih berun­tung daripada kota batik lainnya kar­ena dalam sejarah batik Lasem ada bukti tertulis di Kitab Badra Santi. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Puteri Na Li Ni (istri Bi Nang Un) dari Champa (catatan: sekarang masuk Vietnam) mengajarkan mem­batik pertama kali di Lasem pada ta­hun 1413 Masehi. Walaupun hal ini masih diperdebatkan karena sampai sekarang pengaruh budaya Champa pada ragam hias batik Lasem belum diketahui.

Dalam sesi ini William Kwan HL juga menjelaskan mengenai rag­am hias dan isen-isen batik Lasem, diantaranya: latohan, ukel, tanahan, palangan, dan lain sebagainya. Dis­amping ragam hias batik Lasem yang dikenal masyarakat umum, seperti: Kendoro-Kendiri, Baganan, Banji Tambal, dan Lokcan. Ada beberapa ragam hias yang nama dan bentuknya mirip dengan batik pesisir lainnya, sehingga agak susah membedakan ragam hias batik khas Lasem dengan batik pesisir dari daerah lain seperti Juwana, Cirebon, dan Pekalongan.

Belajar Mencanting

Hari pertama menjadi sesi teori budaya batik Lasem. Pada hari kedua, peserta diajak berkelil­ing Sanggar KUB Batik “Srikandi Jeruk” untuk mengenal alat, bahan, dan proses membatik. Para anggota KUB dan Dyah Rosina, salah satu staf IPI, dengan setia mendampingi maupun menjelaskan nama alat dan fungsinya kepada peserta. Kemudian peserta menggambar pola batik pada kain berukuran 20 X 20 cm, yang sebelumnya pola batik telah mereka gambar pada kertas HVS di rumah masing-masing sebagai tugas peserta pelatihan.

Selesai menggambar pola batik di kain, peserta mulai belajar men­canting. Di sinilah peserta mengeluh susahnya mencanting karena ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar peserta. “Dari­ pada susah-susah mencanting, lebih baik meminta pembatik mengerja­kannya, nanti gampang upahnya,” kata Wahyudi (guru SDN Kabon­gan Kidul) sambil bercanda melepas ketegangan para peserta. Ada juga peserta yang sangat menikmati sesi mencanting ini, seperti Hoetomo (Kepala SDN Trenggulunan) dan Bambang (Kepala SDN Doropayung I).

Dukungan dan Harapan

Pada hari ketiga, Umy Jazilah Salim didampingi Edi Winarno dan Kusrini (staf Diknas Kabupaten Rembang) menyempatkan waktu me­nemui peserta pelatihan. Umi selaku Ketua Dekranasda Kabupaten Rem­bang, memberikan motivasi penuh kepada peserta untuk berlatih den­ gan sungguh-sungguh supaya dapat mengajarkan membatik dengan baik kepada anak didiknya. Peserta juga minta dukungan dari Dekranasda da­lam pengembangan mulok membatik (budaya batik Lasem) termasuk un­tuk pengadaan alat dan bahan batik.

Sebagai pelengkap materi sebe­lumnya, peserta diberi materi dan mempraktekkan ngetheli dan mewarna batik. Ramini, Ketua KUB Batik ”Srikandi Jeruk” menjelas­kan, “Untuk hasil yang bagus, kain sebelum dibatik harus diketheli su­paya kotoran yang ada pada kain hilang sehingga kain akan menyerap warna secara sempurna. “Sekarang sedikit pengusaha batik yang masih melakukan proses ngetheli karena akan memperlama proses produksi”, tambah Rosi.

Pukul 12.00 WIB pelatihan ini ditutup dengan ucapan terima kasih dari peserta, diwakili oleh Hoetomo kepada KUB dan IPI. Begitu pula Ramini yang mewakili KUB dan Rosi mewakili IPI memberikan uca­pan terima kasih atas partisipasi guru-guru dalam mengikuti pelatihan ini. Dan peserta pulang dengan harapan yang sama bahwa mulok membatik dapat dilaksanakan di sekolahnya. Semoga terwujud!

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *