Tentang Muatan Lokal Budaya Batik Lasem

Keprihatinan akan minimnya generasi muda Kabupaten Rembang yang menekuni pekerjaan sebagai pembatik sudah lama mengemuka, baik melalui media massa maupun dalam diskusi-diskusi pihak terkait industri batik Lasem. Tetapi belum ada langkah nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut. Akhirnya muncul gagasan dan keberanian dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Rembang untuk mengembangkan pelajaran muatan lokal (mulok) budaya batik Lasem. Bekerja sama dengan Institut Pluralisme Indonesia (IPI) dan pihak terkait lainnya, saat ini muatan lokal budaya batik Lasem sudah diterapkan di beberapa Sekolah Dasar di Kecamatan Pancur, Rembang. Berikut tanggapan dari beberapa pihak tentang pelaksanaan muatan lokal budaya batik Lasem.

Edi Winarno Kepala Bagian Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Rembang

Batik Lasem merupakan kekayaan masyarakat Rembang, sangat sayang kalau generasi muda tidak tahu sejarahnya dan tidak bisa membatik. Untuk itu, mulok budaya batik Lasem merupakan sarana mendidik anak murid untuk mandiri dan sekaligus dapat melestarikan budayanya. Diknas akan berusaha secara maksimal menyiapkan kurikulum dan sarana untuk mulok di sekolah. Diknas juga berharap masyarakat, khususnya pengusaha untuk ikut serta dalam menyukseskan upaya pengembangan mulok budaya batik Lasem ini. Pengusaha dapat memberikan kontribusi pengetahuan teknis, menyediakan tempat berlatih, dan membantu bahan batik di sekolah-sekolah dalam pelajaran tersebut.

Suparno Kepala Desa Tuyuhan

Saya yakin muatan lokal budaya batik Lasem akan berdampak positif bagi siswa- siswa SD N Tuyuhan, yaitu meningkatkan kreativitas anak-anak. Supaya anak-anak lebih mahir, sanggar membatik juga perlu didirikan di Tuyuhan. Selain untuk lebih melatih anak-anak di luar jam sekolah, para remaja Tuyuhan juga dapat ikut serta belajar membatik. Ke depan diharapkan remaja Tuyuhan mempunyai keterampilan membatik sehingga budaya batik Lasem tetap lestari. Selain itu, para remaja tersebut kelak juga dapat bekerja sebagai pembatik. Dan tentu saja hal ini akan meningkatkan kesejahteraan warga Tuyuhan.

Sekar Kepala Sekolah SDN Warugunung

Murid-murid sangat senang dengan diadakannya mulok budaya batik Lasem di sekolah kami, begitu juga guru-guru. Ibu Juniah, pengrajin batik di Warugunung, sudah siap membantu pelatihan batik untuk murid-murid. Untuk alat dan bahan membatik, sekolah kami telah membeli alat-alat untuk membatik seperti gawangan, kompor, dan sebagainya secara mandiri, di luar bantuan dari IPI. Mulok budaya batik Lasem cocok dengan potensi desa Warugunung yang dari dulu terkenal sebagai desa pembatik. Semoga murid-murid yang sudah lulus SD, khususnya yang tidak dapat melanjutkan ke SMP dapat bekerja sebagai pembatik daripada harus ke luar kota untuk menjadi baby sister atau pembantu rumah tangga (PRT).

Evi Maspuatun Siswa Kelas VI SDN Doropayung I

Dengan adanya pelajaran mulok membatik (budaya batik Lasem), maka saya dapat belajar membatik. Sebelumnya saya tidak bisa membatik walaupun ibu saya bekerja sebagai pembatik borongan di rumah. Ibu saya takut kalau saya membantu membatik kainnya akan rusak. Membatik adalah pelajaran yang menyenangkan. Pada waktu pertama kali mencanting, saya langsung bisa, dan malamnya tidak mbleber (mengalir dengan tidak merata), sedangkan banyak teman saya yang malamnya mbleber waktu mencanting, terutama laki-laki. Saya juga belajar motif-motif batik Lasem di sekolah, tetapi sayang buku tentang motif tersebut tidak dibagikan. Saya berharap setiap siswa mempunyai buku motif Lasem di kemudian hari.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *