C191D083-D8C4-436A-8E37-213E8611529F

Diskusi tentang Perkembangan Batik Batang di Jogjakarta

Batang adalah daerah yang cukup memiliki potensi, seperti adanya perkembangan seni batik. Batik Batang memiliki ciri desain yang sangat khas, menampilkan gaya klasik yang merupakan hasil silang budaya Tionghoa, Jawa, India, dan juga terdapat pengaruh Islam di dalamnya. Penting rasanya, jika hal tersebut di ungkap ada apa dengan Batik Batang secara keseluruhan dan perkembangannya.
Institut Pluralisme Indonesia, Komunitas Redaya, dan Rumah Budaya Babaran Segara Gunung, membangun diskusi yang berbasis edukasi untuk mengupas lebih dalam tentang Batik Batang di Jogjakarta pada tanggal 20 Juli 2019.
Kenapa kita memilih Jogjakarta sebagai tempat untuk belajar dan berdiskusi? Hal ini dikarenakan ada kaitan erat antara keberadaan budaya Batik Batang dengan budaya Batik Mataraman (yang diwakili oleh Batik Jogja, Batik Solo, Batik Pakualaman, dan Batik Mangkunegaran). Kanjeng Ratu Batang, salah satu istri (garwa) dari Sultan Agung Raja Mataram berasal dari Batang, dan ini disinyalir memberikan banyak pengaruh budaya Batik Mataraman ke Batik Batang Sogan (warna, motif).
Batik Batang sendiri untuk saat ini yang bisa dilihat dikelompokkan menjadi
a. Batik Batang Pesisiran, dengan ciri-ciri motif dan warna yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, India, Jawa, dan Islam (Batik Pelo Ati, Batik Tiga Negeri, Batik Nyah Pratin dan sebagainya). Saat ini, pusat pembatikan dapat kita lihat di Desa Kalipucang Wetan, Desa Watesalit, dan Desa Denasri Wetan, dan kesemuanya dikerjakan dengan teknik tulis
b. Batik Batang Pedalaman dengan ciri-ciri yang mirip sekali dengan Batik Mataraman, seperti batik motif Kawung, motif Udan Liris, motif Parang, dan lainnya, yang kesemuanya mempunyai kecenderungan berwarna coklat sogan seperti batik mataraman pada umumnya.
Pusat pembatikan Batik Batang Pedalaman berwarna sogan saat ini ada di desa Proyonanggan, dan dikerjakan dengan teknis tulis dan cap
c. Batik Batang Pesisiran dan Pedalaman
Pada diskusi kali ini membahas tentang perkembangan Batik Batang dari masa ke masa, sejak dari pengaruh jaman Dinasti Syailendra, pengaruh jaman kerajaan Islam, pengaruh jaman penjajahan Belanda dan Jepang, serta pengaruh yang ada saat ini.
Di-moderator-I oleh Ananta Hari, diskusi ini menampilkan pembicara pertama adalah Romo Manu Widyaseputra, seorang filsuf dan juga penasehat Kraton Jogjakarta,yang mempelajari dan meneliti budaya Jawa. Beliau memaparkan tentang keberadaan Batik Batang, khususnya Batik Rifaiyah, dengan manuskrip tulisan Repen Ripangi. Tulisan Repen Ripangi sendiri berisi tentang karya sastra H. Ahmad Rifai, salah satu kyai besar di Batang yang terkenal dengan ajaran Rifaiyah, yang didalamnya menyebutkan bahwa batik merupakan salah satu produk budaya yang dibuat untuk mentransfer ajaran Kyai Rifai tentang Islam dan perjuangan mengusir penjajah Belanda saat itu kepada murid-muridnya, selain tembang. Ini dilakukan karena penjajah sudah mulai mencium tindak tanduk Kyai Rifai dan ajarannya yang mengobarkan semangat perjuangan mengusir penjajah dan hal ini dianggap berbahaya. Hingga saat ini yang mempelajari khusus tentang manuskrip Repen Ripangi ini sampai tuntas belum ada.
Pembicara kedua adalah William Kwan, peneliti Batik Batang yang memaparkan tentang macam-macam Batik Batang, daerah pembuatannya, motif dan warnanya dipengaruhi oleh faktor apa saja, dan perkembangan keberadaan Batik Batang hingga saat ini.
Pembicara ketiga adalah MJA Nashir dari Paguyuban Batang Heritage, yang memaparkan tentang kondisi daerah Batang pada umumnya, dan sedikit tentang keberadaan Batik Batang Tiga Negeri Rifaiyah.
Acara diskusi dan tanya jawab berlangsung sekitar 3 jam, banyak peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan kepada pembicara. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan di Jogjakarta seperti dosen, pelaku batik, mahasiswa dan pelajar dari Batang yang sedang studi di Jogja, tokoh agama, budayawan, dan juga masyarakat biasa yang berjumlah sekitar 100 orang peserta.
Acara berlangsung sampai pukul 22.30, dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *